Kamis, 13 Dec 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Refleksi

Refleksi Tahun Ajaran Baru di Tahun Politik

Oleh: Masrukin

24 Juli 2018, 16: 35: 59 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

Refleksi Tahun Ajaran Baru di Tahun Politik

TAHUN ajaran baru menjadi salah satu momen yang dijadikan sebuah tolok ukur penting di masyarakat, untuk menentukan gambaran masa depan putra-putrinya.  Kadang, orang tua harus berbeda paham dengan anak-anaknya, karena memiliki kekukuhan pendapat.

Hanya sebuah permasalahan yang menjadi rahasia Tuhan, yakni jalan mana yang tepat untuk putra-putrinya, apakah sektor sosial, sains, teknik, atau bahkan memperdalam ilmu agama (pesantren atau sejenisnya).

Jika kita sadar, bahwa semua itu hanyalah metode manusia untuk satu kegiatan yakni menuntut ilmu kita akan lebih fleksibel dalam menyikapinya. Perlu kita amati bersama,  fenomena yang terjadi di bangsa ini, di mana salah satu peran penting di negara bukanlah orang yang alim (berilmu pengetahuan yang tinggi). Tetapi peran itu untuk orang yang mampu memengaruhi masa terbanyak untuk menduduki salah satu posisi penting dan menentukan nasib bangsa, seperti Presiden dan Wakil Presiden, DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten, Gubernur , Walikota / Bupati, bahkan kepala desa.

Hampir semua itu diusung dari partai politik, dan tidak ada satu pun partai maupun undang-undang yang menyebutkan untuk jadi calon pejabat politik harus memiliki nilai matematika rata–rata 7, atau IPK minimal 3,5 atau lulusan dari instansi ternama.

Ini dapat diambil sebuah kesimpulan, kecerdasan akademik bukanlah prioritas dan menjadi sebuah hal yang didewakan di negeri ini. Tetapi kecerdasan linguistik dan retorika menjadi power of man di negeri ini lebih utama.

Bahkan, karya cipta di negeri ini mudah diklaim atau dipatenkan oleh orang lain dengan transaksi materiil atau barter keberuntungan lainnya. Dari analisis ini, perlu kiranya kita membuka mata, untuk bisa menerima di mana putra-putri kita menimba ilmu, dan jurusan apa yang menjadi posisinya sekarang.

Terkadang untuk program studi tertentu, orang tua menghalalkan segala cara. Ada juga yang rela membayar berapa pun untuk anaknya, ke oknum tertentu. Mindset ini yang ingin kami buka untuk membuat sadar kita semua. Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pujdiastuti biografi pendidikannya hanya berhenti di kelas XI SMAN 2 Jogjakarta. Dia mampu untuk menjadi pemimpin dalam sebuah departemen. Ini menjadi penguat sebuah kesimpulan, orang sukses bukan melalui proses pendidikan yang paling wahid. Tetapi banyak faktor yang membuat manusia survive di masyarakat. Kecerdasan emosional dan moral setiap individu bangsa, merupakan faktor utama yang perlu diperhatikan ketika memilih sebuah tempat pendidikan.

Di mana pun sekolah putra-putri kita, dan program studi apa yang dipilih, bukan menjadi sebuah titik kehancuran masa depan putra-putri kita. Jika itu tidak sesuai yang diharapkan oleh orang tua, justru malah pendampingan putra-putri ketika di rumah yang harus diperhatikan.

Dalam era digital ini, kultur bangsa Indonesia yang memiliki ciri santun dan ramah, serta suka bergotong royong semakin terkikis. Hanya menunggu waktu, slogan gotong royong, santun, dan ramah ini bisa jadi hanya tinggal sejarah.

Banyak putra-putri kita yang habis waktunya untuk menatap layar telepon seluler (ponsel). Banyak anak yang tidak peduli keadaan sekitar. Karakter ini yang akan merusak kultur bangsa, di mana psikologi anak berubah dan merasa mampu hidup sendiri tanpa bersosialisasi dengan orang di sekitar. Mereka menjadi tidak peduli dengan keadaan di sekitarnya.

Permasalahan ini menjadi tugas kita bersama untuk mengantar putra-putri kita menjadi insan yang berilmu dan ber-akhlakul karimah. Selain itu, mereka diharapkan mampu berdaya saing di era digital dan globalisasi.(*)

*) Guru SMK Minhajut Thullab, Glenmore, Banyuwangi.

(bw/mls/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia