Jumat, 19 Oct 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Refleksi

Tik Tok: Aplikasi yang Kusayang(kan)?

Oleh: Aji Jatmiko

Selasa, 24 Jul 2018 16:25 | editor : AF. Ichsan Rasyid

Tik Tok: Aplikasi yang Kusayang(kan)?

AKHIR-AKHIR ini, dunia sedang marak dengan aplikasi video pendek baru dari karakter, ekspresi wajah, dan goyangan lucu yaitu aplikasi Tik Tok. Bukan hanya anak-anak dan remaja yang banyak menyukai permainan ini, tapi juga orang dewasa pun demikian. Generasi anak muda jaman now tak bisa dilepaskan dari pandangan narsis dan kekinian, walaupun tak semuanya demikian.

Mereka saat ini didukung oleh teknologi canggih untuk mengekspresikan diri di dunia maya. Salah satunya adalah aplikasi konten video creator yang bernama Tik Tok.

Sebagaimana diketahui, Tik Tok merupakan platform sosial video pendek yang didukung dengan latar belakang musik, baik musik untuk tarian, gaya bebas, performa, atau fitur menarik lainnya. Para pencipta (video creator) didorong untuk berimajinasi sebebas-bebasnya dan menyatakan ekspresi mereka dengan bebas.

Aplikasi ini dirancang untuk generasi baru pencipta anak muda sehingga Tik Tok ini memungkinkan pengguna membuat video pendek yang unik dan menarik dengan cepat dan mudah untuk dibagikan dengan teman dan ke seluruh dunia. Tik Tok pertama kali diperkenalkan di negeri Tiongkok, China dan sudah menyebar ke berbagai negara seperti di Indonesia saat ini. Aplikasi ini berhasil menjadi ”Top Free Apps” di Google Play Store karena banyak diunduh dan telah mengalahkan unduhan konten media sosial lainnya seperti YouTube, Facebook, Instagram, Whatsapp dan aplikasi lainnya. Permainan tersebut dapat dimainkan dengan menggunakan telepon seluler pintar (smartphone) atau sering disebut dengan Tik Tok Challenge.

Dalam setiap kemunculan tren atau viral di media sosial, Tik Tok Challenge selalu ada dampak positif dan negatifnya. Dua hal ini bisa menyebabkan perbincangan dan perdebatan, hingga munculnya aturan baru.

Dari fenomena maraknya permainan tersebut di atas, Penulis mencoba memberikan pandangan dan batasan yang harus diperhatikan terhadap dampak positif dan negatif dari konten tersebut.

Pertama, bagi pengguna Tik Tok Challenge, yang merasakan manfaatnya dari bermain aplikasi ini, karena menjadi seseorang yang bergerak aktif. Artinya, aplikasi ini mendorong orang untuk beraktualisasi diri dan percaya diri seperti berolahraga, berpidato, menari sambil bernyanyi sendiri atau bersama teman. Aplikasi ini memiliki nilai positif layaknya anak-anak ketika bermain game Pokémon Go. Aktivitas ini dapat membantu kita untuk mengurangi kecemasan hingga depresi. Selain itu, ia juga bisa mendorong kita untuk lebih aktif secara fisik, membuat anak kreatif, asyik, terhibur, tertantang, sehingga berbagai kemampuan fisik dan mental bisa dilatih, mampu meningkatkan rangsangan terhadap gerak motorik dan sosialisasi anak. Di mana anak-anak dapat bermain di alam bebas dan berkumpul bersama teman-temannya. Tapi ada yang lebih penting dari itu semua, yakni harus ada peran orang tua dan guru.

Kedua, aplikasi ini adalah permainan motion-sensing (fitur yang mengizinkan untuk menari sesuai dengan yang diperintahkan, kemudian sensor akan mendeteksi gerakan dan akan memberi nilai pada gerakannya). Para pemainnya memakai fitur menarik seperti gaga dance. Konon, aplikasi ini telah menawarkan pembaruan, tantangan, dan keseruan. Dikatakan pembaruan, karena pencipta videonya tidak perlu keluar rumah dan meniru atau memainkan di dunia nyata, sehingga mereka tidak perlu menatap televisi terus menerus.

Kegiatan ini juga dianggap lebih sehat karena dilakukan oleh banyak orang yang bisa berinteraksi dengan masing-masing pemain. Mungkin sebagian dari kita diam-diam mencibir mereka dengan sebutan kampungan. Sebuah istilah yang bergaya mengejek. Padahal, mereka cukup berbahagia meski sekadar mendengar dan melihat aksi mereka yang lucu dan menarik. Sedangkan si pencibir, butuh cara yang lebih rumit untuk memaknai kebahagiaan itu sendiri. Fenomena ini menarik karena mengajarkan banyak orang soal mudahnya mencari kebahagiaan.

Ketiga, bentuk kreativitas karya seni (film, video, dan lagu). Kreasi video pendek yang beraneka irama dan lucu inilah yang menjadi sensasi kesenangan anak-anak. Mereka bersorak-sorai. Mereka menyanyi dan menari. Mereka melambaikan tangan dan sebagainya. Bahkan, beberapa pencipta video lainnya bisa mengembangkan bakatnya dalam hal sinematografi, video editing, dan pembuatan ide serta konten video lucu dan menarik lainnya seperti lagu ’Syantik’ Siti Badriyah yang begitu fenomenal dan viral di media sosial.

Lalu, apa dampak negatif Tik Tok Challenge? Dari beberapa perkembangan informasi yang terjadi di masyarakat, tak dapat dipungkiri, bahwa aktivitas ini juga membawa sisi negatif.

Pertama, menimbulkan perilaku alay dan lebay (berlebihan). Banyak masyarakat yang mengkritik dan mencibir aksi konyol mereka. Banyak orang beranggapan bahwa aksi joget ria, tertawa, lompat-lompat sambil teriak-teriak tidak pantas dilakukan di depan orang, terlebih di hadapan orang dewasa (orang tua dan guru) yang notabene mereka adalah panutan bagi anak atau generasi muda.

Kedua, berpotensi menyebarkan konten-konten negatif bahkan aksi pornoaksi atau pornografi. Masih teringat di media sosial beberapa waktu yang lalu ketika ada sekelompok remaja putri memakai mukena yang sedang salat sambil melompat-lompat atau berjoget ria? Tentu, aksi ini sangat tidak santun dan pantas dilakukan oleh mereka. Bahkan, ada seorang remaja putri yang sedang berjoget ria di depan jenazah kakeknya yang meninggal dunia. Ini juga menjadi perhatian kita sebagai orang tua dan guru agar mengawasi mereka supaya aksi-aksi tidak terpuji ini tidak dilakukan lagi di kemudian hari.

Ketiga, menghabiskan waktu dan biaya. Nah, daripada menghamburkan uang (pulsa atau paket internet lainnya) untuk menikmati aplikasi secara instan seperti itu, lebih baik uang kita belanjakan untuk hal-hal yang baik, seperti membeli buku, membayar uang sekolah, atau membelanjakan untuk keperluan rumah tangga sehari-hari, ditabung atau digunakan untuk mengembangkan usaha secara mandiri. Selain itu, aktivitas ini bisa menghilangkan jam belajar, membantu orang tua di rumah, mengerjakan PR, bermain dengan teman, bersosialisasi dan lain sebagainya.

Keempat, merusak telepon seluler (ponsel). Beberapa keluhan dari para pengguna Tik Tok yang mengatakan, bahwa aplikasi ini terlalu banyak menyedot daya baterai ponsel, dan kamera yang bekerja terus-menerus tanpa berencana memberi solusi apa pun. Borosnya baterai tidak hanya akan merusak perangkat penampung daya itu sendiri, namun juga akan mengganggu kinerja smartphone bila tidak segera ditangani.

Jadi, masih tetap ’ngotot’ ber-tiktok ria meskipun ponsel kita menjadi taruhannya?  ”Hiduplah seimbang”. Mungkin, pesan ini cocok untuk kita perhatikan. Bermain boleh, tapi jangan berlebihan ketika berada di rumah atau di tempat umum. Ingatlah waktu saat sedang video selfie! Jangan sampai menyusahkan diri sendiri.

Untuk itu, ber-tiktok ria dengan ponsel pintar memang dapat menyegarkan dan menjadi sumber hiburan. Namun, aktivitas ini perlu dilakukan dengan bijaksana agar tidak menyebabkan gangguan otot dan persendian yang lama dan dampak buruk lainnya.(*)

*) Guru SMPN 1 Suboh, Situbondo.

(bw/mls/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia