Minggu, 16 Dec 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Refleksi
Meneladani Gus Dur

Menumbuhkan Kembali Semangat Literasi

Oleh: Arif Budiman

24 Juli 2018, 16: 15: 59 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

Menumbuhkan Kembali Semangat Literasi

Saat melalui sebuah jalan di Kota Cilacap, pandangan saya tertuju pada sebuah spanduk besar yang terpampang di halaman masjid. Spanduk besar bertuliskan jamaah masjid tersebut akan memperingati acara Sewindu Haul dari Almaghfurllah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), mantan presiden negara kita.

Sesaat saya tertegun... Laku apa sebenarnya yang dahulu semasa beliau (Gus Dur) masih hidup telah lakukan? Hingga jutaan rakyat Indonesia dari Jakarta hingga pelosok Cilacap mengenang beliau dan mereka sungguh antusias?

Mengutip pendapat dari KH Mustofa Bisri (Gus Mus), Gus Dur dicintai oleh rakyat karena beliau dahulu juga mencintai rakyat dengan sepenuh hatinya. Cukup?

Menurut penulis, Gus Dur ini ibarat kitab tersendiri. Sebuah kitab yang bebas tafsir bahkan bebas makna. Gus Dur pejuang demokrasi? Ya! Gus Dur pejuang pluralisme? Ya! Gus Dur pejuang humanisme? Ya! Gus Dur sarat makna, termasuk bebas memaknai beliau secara positif atau mungkin negatif.

Gus Dur berani, Gus Dur istikamah, atau ajeg mempertahankan pendapat dari apa yang menurut beliau benar, dll. Demikian hal yang dapat kita kenang dari beliau.

Gus Dur bagi saya? Gus Dur sosok jenius dan cerdas! Jamak kita ketahui bersama betapa hobi beliau yang paling beliau sukai adalah membaca. Saat beliau studi di Mesir dahulu, beliau pun lebih asyik memanfaatkan waktunya untuk membaca di perpustakaan sebuah kantor kedutaan daripada asyik belajar di kampusnya. Buah dari hobinya, yaitu membaca inilah yang membuat Gus Dur tampil berbeda. Hobi membacanya ini pula yang menurut saya mampu melahirkan sikap yang kritis dan penelaahan suatu masalah dengan lebih jernih dan mendalam.

Gus Dur memang telah tiada. Tapi haruskah dengan ketiadaan beliau, menjadi gersang pula bumi kita hanya karena sang pemilik ide-ide jenius, brilian, cerdas telah kembali ke haribaan-Nya?

Tidak! Harus lahir Gus Dur-Gus Dur baru dari rahim Bumi Nusantara kita. Gus Dur boleh tiada, tapi pelanjut perjuangan ajarannya harus tetap tumbuh.

Membaca, sebuah hal yang dahulu amat dia sukai. Kini harus ditularkan pada anak-anak kita. Dengan membaca, saya yakin buahnya akan lahir generasi-generasi baru yang cerdas, kritis, mampu menggunakan nalarnya secara lebih jernih. Generasi yang akan berani mengatakan ”Say No to Hoax”. Insya Allah.

Saya berterima kasih atas bantuan buku-buku, terutama buku bacaan bagi anak-anak kita. Buku yang bermanfaat bagi tumbuh kembangnya anak-anak yang kelak akan menjadi generasi penerus bangsa.

Seorang teman menceritakan betapa budaya membaca pada bangsa ini kini amat memprihatinkan. Indonesia menempati urutan ke-60 dari negara yang rakyatnya menggemari minat baca. Ironis bukan?

Pojok Baca Nahdliyin yang kami gagas semoga mampu menjadi washilah tumbuhnya kembali semangat literasi. Pojok Baca Nahdliyin kami dirikan di desa-desa dan bukan di kota. Alasannya cuma satu, yaitu karena gadget atau virus medsos tidak separah seperti yang telah menjangkiti Jakarta dan kota besar lainnya.

Di desa masih banyak orang tua yang on time mendampingi putra-putri mereka. Dan keberadaan orang tua ini menjadi penting ketika anak mereka butuh sandaran untuk tempat bertanya mereka. Kami sediakan pula buku-buku agama dan ke-Aswaja-an bagi para bapak atau orang tua. Semoga dengan keberadaan buku bertema ke-Aswaja-an seperti ini, para bapak atau orang tua akan menjadi filter atau penyaring awal bagi informasi yang didapat oleh putra-putri mereka. Terutama yang berkaitan dengan masalah agama.

Saya pernah tersenyum geli ketika mendengar statemen dari Ahmad Suaedy, mantan Direktur Wahid Institute dan kini anggota Ombudsman RI. Dia mengatakan bahwa perjuangan kami mencari buku-buku dan kemudian kami sebarkan ke beberapa Pojok Baca yang kami dirikan di tiap daerah adalah perjuangan yang berat. Bagi kami, tidak ada yang berat selama ghirah atau semangat dan keyakinan kami tetap menyala.

Ratusan buku, terutama buku bertema ke-NU-an dan ke-Aswaja-an telah kami sebar di berbagai daerah. Dari Banyuwangi, Gresik, Semarang, Brebes, Cileungsi Bogor, hingga Tulangbawang Lampung. Semoga dari daerah-daerah ini, Islam yang tasammuh, tawassuth, tawazzun, dan i'tidal yang menjadi ciri khas Islam Nusantara tetap terjaga. Bi'idznillah...

Monggo bergabung bersama kami dalam menumbuhkan kembali semangat literasi dan melahirkan kembali generasi cinta baca dan cinta buku. (*)

*) Aktivis Pojok Baca Nahdliyin. Tinggal di Perum Villa Bukit Mas, Banyuwangi

(bw/mls/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia