Minggu, 16 Dec 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Refleksi

Harga Telur Bikin Babak Belur

Oleh: Agus Dani Triswanto

24 Juli 2018, 15: 51: 15 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

Harga Telur Bikin Babak Belur

Dalam sepekan terakhir, harga telur mengalami lonjakan lumayan tinggi di pasaran. Hal ini kemudian membuat pedagang, konsumen, dan bahkan pemerintah meradang. Harga telur yang terus meroket kini menjadi isu hangat di negeri ini.

Ada satu adagium (pepatah) Arab, meski pepatah tersebut tak ada kaitan langsung dengan isu harga telur, yang bicara soal telur, yaitu baydhotul yaum khoirun min dajaajatil ghod” (telur hari ini lebih baik dari daging ayam besok hari).

Tak hanya pedagang telur ayam, mayoritas ibu-ibu rumah tangga di seluruh daerah dari Sabang hingga Merauke, tak terkecuali Banyuwangi, kini tengah mengernyitkan dahi dan mengepalkan tangan. Mereka dibuat pusing, kaget, sekaligus geram oleh ulah si telur yang harganya terus merangkak naik. Dalam beberapa hari terakhir, kenaikan harga tersebut membuat heboh jagat jejaring sosial dengan status dan komentar netizen.

Tak tanggung-tanggung, harga telur ayam di pasaran, baik pasar tradisional maupun modern, sudah mencapai Rp 30.000 per kilogram. Sebuah harga yang sinis, fantastis, juga sadis bagi masyarakat. Biasanya, harga bahan kebutuhan pokok akan turun jika momentum hari raya atau hari besar tertentu telah berlalu dan permintaan pasar berkurang. Namun, kali ini tak berlaku bagi telur ayam. Ia adalah salah satu dari delapan komoditas pangan yang harganya diatur oleh Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 58 Tahun 2018.

Banyak faktor dan pemicu yang membuat harga telur ayam di atas menjadi naik melambung. Beragam opini berasal dari pihak terkait yang menjadikan harga telur ini melambung tinggi. Ada dugaan harga bahan bakar minyak (BBM) berimbas pada harga telur setelah dinaikkan pemerintah per 1 Juli 2018 lalu.

Ada juga anggapan karena harga pakan ayam yang juga ikut naik, otomatis harga telur ayam pun ikut serta naik. Faktor kedua adalah soal nilai tukar rupiah yang kian melemah. Hal ini berdampak pada harga pakan yang ikut naik juga. Harga bahan baku pakan impor ikut naik karena dalam waktu yang bersamaan pasokan, dan ketersediaan jagung dalam negeri sulit juga ditemukan di pasaran, padahal jagung merupakan bahan baku untuk pakan ayam tersebut.

Kebutuhan masyarakat akan telur sangat tinggi, pemerintah seharusnya melayani serta memenuhi kebutuhan masyarakat dengan baik. Sekali-kali jangan pernah membuat masyarakat babak belur karena soal harga telur. Sekali lagi, masyarakat tak butuh teori dan argumentasi panjang soal penyebab kenaikan harga telur. Yang dibutuhkan mereka adalah kepastian harga. Tentu harga yang bersahabat, sesuai dengan isi kantong masyarakat. (*)

*) Penulis aktif di Komite Nasional Keselamatan Untuk Instalasi Listrik (KONSUIL) Banyuwangi. Tinggal di Cungking, Mojopanggung, Banyuwangi

(bw/mls/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia