Rabu, 21 Nov 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Genteng

Pindah Meteran Listrik Didenda Rp 7,4 Juta

Selasa, 24 Jul 2018 15:15 | editor : AF. Ichsan Rasyid

DICOPOT: Abdul Rohman menunjukkan meteran listrik milik Sunoto yang dicabut oleh petugas PLN, kemarin (20/7).

DICOPOT: Abdul Rohman menunjukkan meteran listrik milik Sunoto yang dicabut oleh petugas PLN, kemarin (20/7). (BAGUS RIO/JAWAPOS.COM)

MUNCAR-Meteran listrik milik Sunoto, 62, warga Dusun Sumberayu, RT 3, RW 7, Desa Sumberberas, Kecamatan Muncar, terpaksa dicopot secara paksa oleh petugas PLN Muncar, kemarin (20/7).

Pencopotan itu terpaksa dilakukan oleh sejumlah petugas Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik (P2TL), karena posisi meteran yang ada di rumahnya itu dipindah. “Dicopot karena karena ada yang tidak benar,” terang salah satu instalatir listrik yang mengurus perizinan dan pemindahan meteran, Abdul Rohman.

Menurut Rohman, sebelum melakukan pemindahan memang sudah sudah izin ke PLN, dan tidak menyalahi aturan karena masih dalam satu jaringan listrik. Hanya saja posisi meteran yang sekarang di pindah ke rumah baru, itu yang dianggap kurang benar. “Pemilik dan pengguna tetap sama, hanya saja posisi meteran di pindah ke rumah barunya. Rumah yang lama itu milik orang lain,” ujarnya.

Rohman yang mengaku lama bekerja di PLN itu mengaku heran dengan kebijakan PLN yang mencopot meteran itu. Apalagi, pemilik rumah dikenakan denda yang cukup besar. “Dendanya itu Rp 7,4 juta,” cetusnya.

Anehnya, masih kata dia, dalam surat denda itu ada sejumlah rincian yang menurutnya tidak masuk akal. Itu seperti biaya beban enam kali dua kali rekening minimum pelanggan tarif daya listrik yang besarnya Rp 584 ribu, biaya pemakaian Sembilan kali 720 jam kali daya sambung kali 0,85 kali harga per KWH tertinggi dalam golongan tarif bersangkutan sesuai TDL yang berlaku sebesar Rp 6,7 juta, biaya PPJ dan biaya meteran sebesar Rp 81 ribu. “Jadi kalau ditotal Rp 7,4 juta,” ungkapnya.

Rohman menyebut, Sunoto yang menggunakan meteran pulsa itu selalu mengisi pulsanya. Bahkan, setiap pulsa listrik yang dimiliki itu hampir habis selalu diisi. Tetapi, ada denda yang menumpuk. “Ini seperti ada permainan dari LN,” tuturnya.

Sementara itu Asisten Manager PLN Banyuwangi, Didik Hendro Utomo mengatakan, KWH meter itu sudah ditetapkan dalam surat jual beli antara pelanggan dan PLN. Dan itu tidak boleh dipindah-pindah. Jika dilakukan pemindahan, maka itu bentuk pelanggaran. “Pelanggaran ini masuk dalam denda yang dikenakan kepada pelanggan,” katanya.

Ada tiga tahap pelanggaran, yakni memepengaruhi daya, mempengaruhi putaran, dan mempengaruhi semuanya. “Jika meteran itu sudah dicopot, maka denda yang harus ditanggung oleh pelanggan lumayan besar,” cetusnya.

Dalam pemindahan itu, masih kata dia, juga mempengaruhi posisi GPS. Bahkan, pemindahan KWH itu tidak diperbolehkan sama sekali. “Kalau hanya di geser cuma satu dua meter saja tidak dipermasalahkan, ini lebih dari itu maka termasuk pelanggaran,” ungkapnya.

Prosedur pemindahan itu, jelas dia, pelanggan harus berhenti berlangganan terlebih dahulu. Kemudian, dilakukan pemasangan baru lagi. “Jika pelanggan mau memindah, mereka harus melakukan pengajuan pemasangan baru saja,” jelasnya.

Didik menambahkan, selama pelanggan belum bisa menyelesaikan dendanya. Maka pelanggan dikenakan sambungan rumah sementara dengan tariff untuk 1x24 jam sekitar Rp 200 ribu. “Maka dari itu, pelanggan yang mengenakan sambungan sementara untuk segera menyelesaikan dendanya. Paling tidak ada pernyataan untuk siap mengangsur denda itu,” terangnya.(rio/abi)

(bw/rio/ics/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia