Minggu, 16 Dec 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Events

Lalare Orchestra Menggebrak Gesibu

23 Juli 2018, 19: 00: 59 WIB | editor : Bayu Saksono

Lalare Orchestra Menggebrak Gesibu

BANYUWANGI – Grup musik ke­bang­­gaan ma­syarakat Banyuwangi, Lalare Orchestra, kembali membuat ma­syarakat Bumi Blambangan ber­besar hati. Konser yang mereka lakukan di Gedung Seni Budaya (Gesibu) Blambangan, Sabtu malam (21/7) membuat ribuan penonton ber­decak kagum.

Para personel Lalare Orchestra yang terdiri dari 120 anak usia SD dan SMP, sukses mema­dukan lebih dari seratus alat musik etnik dan mo­dern menjadi simfoni yang menawan. Selama 1,5 jam, Lalare Orchestra memukau pe­nonton dengan memainkan 12 lagu Nusantara, mulai lagu Banyu­wangi Bang Cilang Cilung, Ampar-ampar Pisang, Kicir-Kicir, Cindai, sampai Surabaya.

Ya, meskipun para personel Lalare Orchestra belia, karya yang dihadirkan begitu memikat. Tak pelak, tepuk tangan penonton menggema setiap kali mereka me­mungkasi lagu-lagu yang ditampilkan.

PUKAU PENONTON: Konser Lalare Orkestra di Gesibu Blambangan Sabtu malam kemarin (21/7) dihadiri ribuan penonton.

PUKAU PENONTON: Konser Lalare Orkestra di Gesibu Blambangan Sabtu malam kemarin (21/7) dihadiri ribuan penonton. (TULUS FOR RABA)

Bupati Abdullah Azwar Anas mengatakan, konser Lalare Or­chestra yang kini memasuki ang­­katan keempat menjadi wadah bagi regenerasi pelaku seni dan bu­daya lokal daerah. ”Terima kasih kepada para seniman dan orang tua yang sepenuh hati me­numbuhkan rasa cinta seni-budaya tradisi kita ke anak-anak,” ujarnya.

Saat pembukaan, musik instru­mental yang rancak langsung me­mikat hati penonton. Alunan irama alat musik tradisional seperti terbang, ang­klung, patrol, kendang, saron, gamelan, dan bonang ber­padu apik dengan biola, drum, keyboard, dan gitar. Ribuan penon­ton memberikan tepuk tangan meriah.

Salah satu penonton, Adi Bimo, 21, mengaku sangat terpukau de­ngan konser Lalare Orchestra tersebut. ”Ini sangat istimewa, lihat anak-anak kecil bermain musik etnik dan modern dalam orkestra yang sangat bagus. Keren,” ujar wisatawan asal Jakarta ter­se­but.

RANCAK: Konser selama 1,5 jam ini melibatkan 120 anak usia SD dan SMP (kiri). Anak-anak begitu piawai memainkan alat musik tradisional.

RANCAK: Konser selama 1,5 jam ini melibatkan 120 anak usia SD dan SMP (kiri). Anak-anak begitu piawai memainkan alat musik tradisional. (TULUS FOR RABA)

Sementara itu, anggota tim pe­latih Lalare Orchestra, Wana’i me­ngaku sangat bangga dengan pe­nampilan anak-anak didiknya. ”Dengan difasilitasi festival, Banyu­wangi tidak akan kehabisan pen­cinta dan pelaku seni-budaya lokal,” ujarnya.

Ketua Dewan Kesenian Blam­bangan (DKB) Samsudin Adlawi mengatakan, para personel Lalare Orchestra merupakan anak-anak terpilih dari seluruh Banyuwangi. Mereka terpilih di antara 500 lebih peserta audisi angkatan keempat ini. ”Setiap tahun pemainnya ganti. Karena kami dan pemerintah daerah sepakat untuk terus mere­generasi seniman-seniman cilik Banyuwangi. Tahun ini personel Lalare Orchestra didominasi siswa SD,” kata dia.

ANAK-ANAK TERPILIH: Bupati Anas dan Ketua DKB Samsudin Adlawi berfoto dengan personel Lalare Orkestra usai konser di Gesibu, Sabtu malam kemarin (21/7).

ANAK-ANAK TERPILIH: Bupati Anas dan Ketua DKB Samsudin Adlawi berfoto dengan personel Lalare Orkestra usai konser di Gesibu, Sabtu malam kemarin (21/7). (TULUS FOR RABA)

Salah satu personel Lalare Or­chestra yang duduk di kelas 3 SD Heris Eka Pratama mengaku sangat senang bisa gabung dalam Lalare Orchestra. Heris yang piawai ber­main kendang ini mengaku belajar alat musik kendang dari kakeknya sejak TK. Tampil di Lalare Orkestra Sabtu malam adalah pengalaman pertamanya tergabung dalam grup musik berskala besar. ”Biasa­nya main bareng sama kakek saja di rumah. Namun, bisa menjadi anggota Lalare Orchestra membuat saya bangga. Bisa main di pang­gung yang besar, banyak yang lihat sampai ribuan orang rasanya senang sekali,” kata dia.

Sekadar diketahui, Lalare Or­ches­tra merupakan kelompok musik yang anggotanya meru­pa­kan anak-anak. Hebatnya, anak-anak usia belia itu berhasil meraih peng­hargaan tingkat dunia kategori heritage and culture dari Pasific Asia Travel Association (PATA). Peng­hargaan diberikan Asosiasi pariwisata yang terdiri atas 970 or­ganisasi kepariwisataan, 100 maskapai penerbangan, 150 institusi pendidikan pariwisata, dan ribuan perusahaan wisata pada 2016 lalu.

(bw/sgt/rbs/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia