Jumat, 19 Oct 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Sports

Disambut Penari Gandrung

Senin, 23 Jul 2018 18:45 | editor : Bayu Saksono

Disambut Penari Gandrung

LICIN – Usai berkeliling secara estafet dari beberapa kota seperti Solo, Blitar, Malang, Probolinggo, dan Situbondo, api Asian Games akhirnya tiba di Pal­tuding, Kawah Ijen pada Sabtu (21/7) pukul 23.30.

Setelah dipindahkan dari tinder box, obor api itu kemudian di­bawa ke puncak Kawah Ijen untuk mengambil blue fire. Di sana ketiga nyala api yang berasal dari tempat berbeda yaitu api dari New Delhi, India; Mrapen, Grobogan Jawa Tengah, dan Kawah Ijen sempat diga­bung­kan sebelum dibawa me­nuju Pendapa Sabha Swagatha un­tuk disemayamkan.

Begitu tiba di Paltuding, api yang dibawa dari Kabupaten Bondowoso itu kemudian di­serahkan oleh Kadispora Bon­do­woso Hari Patriantono kepada Kadispora Banyuwangi Wawan Yadmadi. Selanjutnya, api yang disimpan dalam tinder box diberikan kepada Pino Bahari, mantan petinju nasional yang kemudian membawa api secara estafet ke puncak Kawah Ijen.

Beberapa orang pelari tampak ikut mendampingi pembawa obor hingga ke puncak. Setelah dipertemukan dengan blue fire, api yang dibawa dengan obor itu kembali dimasukkan ke dalam tinder box untuk dibawa ke RTH Tamansari.

SEMARAK ASIAN GAMES: Bupati Anas membawa obor menuju tempat persemayaman api abadi di depan Pendapa Sabha Swagatha usai dikirab dari Tamansari, Kecamatan Licin, kemarin.

SEMARAK ASIAN GAMES: Bupati Anas membawa obor menuju tempat persemayaman api abadi di depan Pendapa Sabha Swagatha usai dikirab dari Tamansari, Kecamatan Licin, kemarin. (HUMAS PEMKAB FOR RABA)

Sekitar pukul 13.15 api yang sempat disimpan di RTH Taman­sari sejak pukul 8.30, selanjutnya dipindahkan kembali ke dalam wadah obor lalu dibawa menuju Stadion Diponegoro. Obor diba­wa oleh salah satu pembalap dari tim BRCC, Maskur menggu­nakan sepeda. Di belakangnya, rom­bongan pembalap lainnya termasuk anggota dari Polres Banyuwangi yang dipimpin langsung Kapolres Banyuwangi AKBP Dony Adityawarman ikut mendampingi.

Kirab yang melewati Desa Ta­mansari, Kantor Kecamatan Licin, Pasar Licin, Desa Glagah dan Desa Kemiren itu pun me­narik perhatian cukup banyak orang.

Meskipun sempat sepi pe­nonton dari wilayah Tamansari, puluhan siswa yang menyaksikan dari halaman sekolah kemudian tampak semakin banyak ketika rombongan mendekati Kantor Kecamata Licin. Warga di sekitar jalur kirab juga terlihat semakin ramai memenuhi pinggiran jalan untuk mengabadikan momen ki­rab api Asian Games begitu men­­dekati kantor Keca­matan Glagah.

Rombongan pun terus melan­jutkan perjalanan hingga sampai di Stadion Diponegoro. Di sana api disambut meriah oleh ma­syarakat yang sebelumnya me­nanti dengan berbagai kegiatan. Tak lama kemudian, Bupati Ba­nyu­wangi Abdullah Azwar Anas yang menerima obor Asian Games menyerahkannya kepada Ahmad Zulkarnaen, salah se­orang penyan­dang disabilitas yang juga berprofesi sebagai pelari.

Zul, panggilan Zulkarnaen, men­jadi pelari pertama yang kemudian mengarak obor me­nge­lilingi kota Banyuwangi. De­ngan didorong kursi roda, Zul kemudian mem­bawa api se­belum kemudian kem­bali di­pindahkan secara estafet ke tangan beberapa mantan atlet asal Banyuwangi seperti mantan atlet sepeda peraih emas Sea Ga­mes Dadang Haries Purnomo, mantan peraih emas PON nomor sepak bola Rony Nurdiansyah, juara Borobudur Run 1992 Par­wati, mantan atlet lari peraih emas PON 2008, Nurrohman, dan beberapa mantan atlet na­sional asal Banyuwangi lainnya seperti seperti Ari Novianti, Buang, Yudi Dwi Nugroho, dan Faturahman.

”Saya merasa tersanjung karena sebagai penyandang disabilitas bisa dilibatkan dalam event ini. Saya juga berharap ini tidak berhenti di sini. Karena menjadi pembawa obor seperti ini saya rasa akan menjadi harapan bagi semua penyandang disabilitas seperti saya,” ujar Zulkarnaen.

API BIRU: Pino Bahari, peraih medali emas tinju amatir Asian Games 1990 membawa obor api menuju Kawah Ijen.

API BIRU: Pino Bahari, peraih medali emas tinju amatir Asian Games 1990 membawa obor api menuju Kawah Ijen. (HUMAS PEMKAB FOR RABA)

Sembari menyerahkan obor Asian Games kepada pelari selanjutnya, Zul juga mendoakan agar Indonesia bisa membawa banyak emas di perhelatan multi­event olahraga terbesar di Asia tersebut.

Kirab obor kemudian terus di­arak melewati halaman kantor Pemda Banyuwangi, kemudian melewati Jalan Brigjen Katamso di sebelah kantor DPRD Banyu­wangi. Kemudian terus diarak ke utara melewati halaman Mako­dim Banyuwangi, lalu terakhir berhenti di muka Pen­dapa Sabha Swagatha.

Di depan pendapa, para penari gandrung telah siap mengiringi kedatangan para pembawa obor. Selanjutnya api dari obor di­pindahkan ke dalam nampan atau disebut mink cauldron untuk disemayamkan selama satu malam sebelum kembali di arak menuju Pulau Bali pada hari ini (23/7)

”Kita sangat bangga dengan kesempatan ini, hal Ini bukan hanya tentang obor yang dibawa ke sini. Tapi bagaimana Banyu­wangi sudah mulai dilirik menjadi sebuah destinasi untuk event nasional dan internasional,” ujar Bupati Banyuwangi, Abdul­lah Azwar Anas.

Anas menambahkan hal ini akan semakin membuat peme­rintah bersemangat untuk me­ngembangkan Banyuwangi. Saat ini, lanjut Anas, Banyuwangi sudah bisa menarik 4,9 juta wisa­tawan setiap tahunnya untuk berkunjung. Padahal sebelumnya hanya sekitar 500 ribu wisatawan saja yang berkunjung.

Minat kunjungan ke Banyu­wangi menurutnya juga ditopang dengan adanya transportasi yang mudah ke Banyuwangi, salah satunya penerbangan. Dalam sehari ada sembilan flight yang dilayani di Bandara Banyuwangi. Belum lagi dengan tambahan rencana dibu­kanya penerbangan ke Malaysia pada bulan Oktober mendatang. Dan potensi dibukanya pener­bangan menuju Cina pada tahun depan.

”Kegi­atan ini cukup me­motivasi kami untuk bisa semakin baik ke depan. Kita juga berharap ini akan membawa dampak baik un­tuk semangat atlet yang ada di Banyu­wangi,” tandasnya.

(bw/fre/rbs/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia