Jumat, 19 Oct 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Sports

Amanda Carr Susah Dikejar

Pembalap Kelas Dunia Puji Event BMX di Muncar

Senin, 16 Jul 2018 19:00 | editor : Bayu Saksono

Amanda Carr Susah Dikejar

MUNCAR – Round 2 Banyuwangi In­ternational BMX 2018 kemarin (15/7) berlangsung cukup seru. Selain jumlah pembalap yang berpartisipasi pada hari kedua ini lebih banyak dari hari pertama, persaingan antar kelas pun tampak cukup ketat. Terutama kelas-kelas men elite dan women elite yang diisi pembalap internasional dan Timnas Indonesia.

Di kelas Women Elite, pembalap dari tim nasional Thailand, Aman­da Carr tampaknya masih cukup tangguh bagi pembalap Timnas seperti Cupi Nopianti dan pembalap timnas Malaysia Noor Quraataina.

Di babak final, Amanda Carr me­lesat seorang diri tanpa bisa terkejar pembalap yang sama. Begitu juga dengan Jordan Cal­lum yang turun di keals Challenge Boy 14. juara Dunia Challenge Ju­nior 2018 itu benar-benar me­nunjukkan kelasnya hingga mem­beri jarak yang cukup jauh dari pembalap lainya.

Pembalap BMX Timnas Indo­nesia di round 2 ini bermain cu­kup menjanjikan setelah Wiji Lestari berhasil mempertahankan po­dium utama kelas Junior Wo­men. Sedangkan di kelas Elite Men yang diisi juara bertahan Kyle Green berhasil dikuasai I Gusti Bagus Saputra yang men­jadi juara pertama.

Toni Syarifudin yang sebe­lum­nya berada di peringkat kedua harus puas masuk di urutan keempat. Begitu juga dua pem­balap Jepang yang sempat men­jadi pesaing ketat di kelas ter­sebut, Tatsumi Matsushita dan Kohei Yoshi harus tersingkir dari tiga besar setelah bertabrakan di awal race.

BERSAING KETAT: Para pembalap di kelas Men Elite pada Round 2 final Banyuwangi International BMX 2018 adu cepat di sirkuit Muncar, kemarin.

BERSAING KETAT: Para pembalap di kelas Men Elite pada Round 2 final Banyuwangi International BMX 2018 adu cepat di sirkuit Muncar, kemarin. (GALIH COKRO/JAWA POS)

Kepala Dispora Banyuwangi Wawan Yadmadi mengatakan, kebe­radaan para juara dunia di event tahunan ini cukup berpe­ngaruh keapda animo peserta. Terutama keikutsertaan Amanda Carr dan Jordan Callum. Belum lagi para pembalap Timnas yang akan turun di Asian Games 2018 juga ikut berkompetisi di Banyu­wangi International BMX 2018.

“Para pembalap kelas dunia sudah mulai melihat event di Ba­nyuwangi ini sebagai agenda UCI yang potensial. Apalagi poin C1 UCI bisa digunakan untuk me­nyiapkan poin olimpic di Je­pang pada tahun 2020,” ujar Wawan.

Sayangnya, pembalap Elite Woman andalan Timnas Indo­nesia, Elga Kharisma tidak bisa turun karena cidera. Sehingga per­saingan di kelas tersebut terutama untuk menjadi oppo­nent dari Amanda Carr menjadi tidak ada. “Tahun depan pem­balap kelas dunia akan men­jadikan event ini sebagai agenda rutin mereka. Karena selain untuk memperoleh poin kom­petisi di sini juga cukup menarik. Kita juga mencoba memberikan ser­vis dengan menyajikan kuliner bervariasi bagi para pembalap,” terangnya.

Amanda Carr, pembalap dari timnas Thailand saat diwawan­carai mengaku cukup senang de­ngan kondisi sirkuit Muncar. Meski baru pertama kali turun di event ini, dia merasakan jika animo dari peserta maupun penonton cukup tinggi.

Sayangnya wanita kelahiran Amerika Serikat itu tidak bisa bertanding bersama ratu BMX Asia tenggara, Elga Kharisma yang tengah cidera.

Sedangkan pembalap Timnas Indonesia, I Gusti Bagus Saputra, yang berhasil meraih podium di kelas men elite mengaku cukup puas dengan hasil tersebut.

Dia menilai persaingan masih belum berakhir. Apalagi belum ada jaminan slot untuk Asian Games yang akan diisi olehnya. “Semua lawan masih memiliki kesempatan yang sama. Saya hanya bisa berusaha menjaga stamina sampai nanti pertan­dingan selanjutnya. Termasuk untuk persiapan Asian Games,” kata Bagus.

Kabid Binpres PB ISSI Sugeng Tri­hartono menambahkan, hasil ke­ikutsertaan para atlet timnas bmx pada kejuaraan yang digelar di sirkuit BMX Muncar ini akan menjadi pertimbangan bagi ISSI untuk memilik atlet yang diturun­kan di Asian Games nanti.

JUARA SEJATI : Bupati Anas (tengah) diapit juara kelas Women Elite, Amanda Carr dan juara Men Elite I Gusti Bagus Saputra berfoto bersama perwakilan kepala SKPD, Forpimka Muncar, dan Pengurus ISSI.

JUARA SEJATI : Bupati Anas (tengah) diapit juara kelas Women Elite, Amanda Carr dan juara Men Elite I Gusti Bagus Saputra berfoto bersama perwakilan kepala SKPD, Forpimka Muncar, dan Pengurus ISSI. (ARNINDHITA/RABA)

Slot untuk atlet ada dua untuk putra dan dua untuk putri. Meski belum memastikan, pria yang akrab disapa Tono itu melihat Cupi Nopianti dan Wiji Lestari ber­potensi besar mengisi slot untuk pembalap kelas Women.

Kemudian di slot kelas Men, I Gusti Bagus sudah hampir di­pastikan mengisi slot. Sedang­kan Tony Syarifudin yang terjatuh di partai final juga masih berke­sempatan namun perlu mening­katkan kemampuanya. “Calon-calon lawan mereka di Asian Ga­­mes banyak yang turun di event ini, jadi setidaknya kita bisa memetakan,” tegasnya

Manajer tim BMX Selangor, Ma­laysia Junai Syamsoe menam­bahkan, event Banyuwangi Inter­national BMX 2018 ini cukup me­nantang. Menurut Junai, cu­kup sulit bertemu para pem­balap BMX pro seperti Amanda Carr atau Callum. Junai mengaku dengan mengikuti event ini ada banyak hal yang bisa dipela­jarinya. Selain infrastruktur sir­kuit, dirinya juga mempelajari teknik dan trik para pembalap pro di Banyuwangi. “Kalau tahun depan saya masih dipercaya, saya pasti ikut event ini. Malaysia perlu belajar banyak dalam hal BMX ke Indonesia. Kalau misal­nya ada series lain selain ini asalkan bertaraf internasional kita pasti datang. Di sini orangnya ramah, makananya enak cuaca­nya juga nyaman,” tegas pria berkacamata itu.

Bupati Abdullah Azwar Anas yang hadir dalam acara awarding mengatakan, jika kejuaraan ini adalah upaya Banyuwangi untuk mem­pertemukan antar komuni­tas BMX di Indonesia dan dunia. Ada nilai edukasi yang ingin di­bawa pemkab kepada generasi muda yang menyaksikan event BMX yang digelar di Sirkuit Mun­car ini.

Anas berharap dengan adanya event semacam ini anak-anak tidak lagi cenderung berkutat di tempat yang sempit termasuk hanya fokus pada gadget. Anas yang baru saja tiba dari Chicago, Amerika Serikat ini bahkan menilai di kota-kota besar di Amerika, para orang tua sangat mem­batasi waktu anak-anaknya dalam bermain gadget.

Bahkan sebagian dari mereka baru diperbolehkan memegang gadget setelah masuk ke jenjang SMP. “Ada unsur sportivitas yang ingin kita gerakan di kalangan anak-anak dengan even ini. Jadi mereka akan lebih cenderung berolahraga dan bersosialisasi daripada bermain gadget,” pung­kasnya.

(bw/fre/rbs/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia