Minggu, 21 Oct 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Features

Desainer Irma Lumiga Mengisi Pulang Kampung dengan Keliling Desa

Berbagi Ilmu Membatik

Minggu, 15 Jul 2018 23:10 | editor : Ali Sodiqin

BERBAGI: Irma Lumiga memberi contoh cara membatik kepada ibu-ibu di Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Sabtu (14/7).

BERBAGI: Irma Lumiga memberi contoh cara membatik kepada ibu-ibu di Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Sabtu (14/7). (Dedy Jumhardiyanto/RaBa)

Sukses jadi desainer ternama di Indonesia, tidak membuat Irma Lumiga lupa dengan kampung halaman. Perempuan asal Kecamatan Glenmore, Banyuwangi itu, kini terjun ke pelosok desa untuk menularkan ilmunya kepada ibu-ibu agar bisa lebih mandiri.

DEDY JUMHARDIYANTO, Banyuwangi

MENDUNG hitam menggelayut di langit Dusun Krajan, Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, siang itu. Belasan ibu rumah tangga asyik berkumpul di halaman seorang warga. Mereka tampak serius memperhatikan teknis cara membatik.

Gerimis hujan rintik-rintik tidak menyurutkan belasan ibu-ibu yang sedang belajar cara membatik tersebut. Tak banyak ibu-ibu di dusun tersebut yang tahu, jika yang sedang mengajari mereka cara membatik tersebut adalah desainer nasional, yang telah menghasilkan ratusan bahkan ribuan karya.

Irma Lumiga, desainer nasional yang telah 18 tahun berkarir di dunia mode itu, tak sungkan berbagi dengan belasan ibu rumah tangga di pelosok desa. Meski dengan nama besar yang sudah malang melintang di dunia mode, Irma Lumiga tak sedikit pun tampak canggung untuk berbagi.

Perempuan asli kelahiran Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore itu  tidak sendirian. Dia turun ke desa-desa bersama sejumlah kru. Kehadirannya tak lain adalah berbagai keahlian, mulai cara membatik, teknis menggambar batik, hingga mendesain pakaian. ”Pertemuan awal ini, kami berbagi teknis membatik dulu,” ujarnya di sela memberikan materi membatik di Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah, kemarin (14/7).

Dalam pertemuan dengan ibu-ibu rumah tangga di pinggiran desa tersebut, Irma Lumiga tak segan membeberkan kiat suksesnya menjadi desainer nasional. Tak ayal, para ibu rumah tangga juga berdialog langsung dengan desainer berusia 47 tahun tersebut.

Selain memberikan materi teknis cara menggambar motif batik, dalam kesempatan itu Irma juga mempraktikkan langsung di hadapan ibu-ibu, terkait teknis mencanting dan membatik. Sejumlah peralatan juga dibawa untuk memudahkan mereka dalam praktik membatik.

Peralatan yang dibawa lumayan cukup modern. Jika biasanya malam untuk membatik dilebur di atas wajan menggunakan kompor, Irma dan tim membawa malam dan peralatan untuk menggantikan kompor dengan mesin pemanas berukuran mini. Mesin itu cukup dicolokkan pada saluran listrik. Begitu juga canting yang masih baru, serta kain putih polos seukuran taplak meja. ”Semua peralatan tidak kami bawa pulang, tapi ditinggal untuk bahan praktik ibu-ibu ini,” jelasnya.

Tidak sekadar memberikan pelatihan, ibu-ibu rumah tangga tersebut juga akan terus dipantau dan didampingi hingga mereka benar-benar bisa membatik dengan sempurna. ”Rencana akan ada beberapa desa yang menjadi desa binaan. Harapannya, ibu-ibu ini bisa merintis usaha batik di masing-masing desa yang menopang perekonomian mereka,” terang Irma Lumiga.

Dia memilih batik sebagai materi pelatihan kepada kalangan ibu rumah tangga, karena batik lebih mudah dipelajari dan dipraktikkan. Lebih dari itu, dia juga ingin agar batik Banyuwangi lebih kaya akan motif sesuai dengan potensi masing-masing desa. Karena dia melihat, desa di Banyuwangi memiliki beragam potensi yang beda antar-satu dengan desa lainnya.

Jika motif batik tersebut beragam, maka akan menambah khazanah motif batik di Banyuwangi. Kualitas karya dan harga batik tulis juga lebih mahal dibanding batik stamp. Dia juga pernah menghadirkan beragam busana batik tulis yang dikombinasikan warna-warna yang modern dalam ajang Indonesia Fashion Week (IFW) 2017. ”Daerah ini telah memberi saya waktu untuk berkarya, menampilkan segala potensi. Jadi sudah saatnya saya memberikan sesuatu bagi daerah ini,” terangnya.

Nurul Qoyimah, 31, warga Dusun Krajan, Desa Tamansuruh mengaku sangat tertantang dan mendapatkan banyak ilmu tentang cara membatik. Dia tidak pernah membayangkan jika membuat batik ternyata juga cukup mudah. ”Saya baru tahu sekarang, jika Irma Lumiga ini seorang desainer  nasional,” ucap ibu dua anak itu.

Dia mengaku bangga karena bisa dapat ilmu langsung dari seorang desainer ternama. Apalagi, dalam memberikan materi dan praktik, Irma Lumiga sangat enjoy dan luwes. Sehingga hanya dalam hitungan jam, para ibu rumah tangga langsung bisa praktik membatik. ”Sesudah mendapat pelatihan ini, saya akan berupaya untuk terus mengembangkan. Siapa tahu kelak kami bisa jadi pengusaha batik,” tandasnya sambil terkekeh.(bay/c1)

(bw/ddy/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia