Kamis, 15 Nov 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Kolom
Spirit Jumat

Generasi Alfa

Oleh: KH Toha Muntoha

Jumat, 13 Jul 2018 22:50 | editor : Ali Sodiqin

Generasi Alfa

Jiwa yang dinamis konon ditandai dengan keberanian menghadapi gelombang perubahan. Lalu menghimpun kemampuan untuk mengelolanya dengan cerdas dan bijak. Hingga umur hidupnya tidak hanya berhenti dan puas di ranah hidrodinamika, tapi siap mengangkasa di pusaran aerodinamika.

Temperatur, tekanan, kecepatan, dan kepadatan udara yang di-combine dengan tata kelola gaya berat, angkat, hambat, dan dorong ala Sir George Cayley nyatanya mampu menghasilkan semangat ikan trout yang desain aerodinamika tubuhnya memunculkan hambatan yang sangat rendah saat bergerak dan berpindah- pindah di dalam habitat air yang dinamis.

Andai zaman itu diumpamakan air, maka jiwa yang dinamis itu laksana ikan trout yang bergerak lincah melewati dinamika air. Dari bentuk zaman batu yang didominasi oleh teknologi sederhana berupa pemanfaatan batu sebagai alat pemotong dan senjata, hingga zaman satelit yang mengorganisir ruang angkasa sebagai basis aktivitasnya.

Dahulu kala, guru terbaik dari zaman batu adalah seekor burung gagak yang mengajari generasi awal manusia bagaimana cara menguburkan mayat. ”Kemudian Allah mengutus seekor gagak menggali tanah untuk diperlihatkan kepadanya (Qobil). Bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Qobil berkata: Oh celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, sehingga aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini, maka jadilah dia termasuk orang yang menyesal,” QS 5/31.

Usai zaman batu, hadir zaman agraris, yaitu suatu zaman yang memunculkan kreativitas manusia dalam pengolahan tanah sebagai mata pencaharian. Lalu seiring dengan perkembangan akal budi, lahirlah zaman industri yang memunculkan gelombang mobilisasi massa ke pusat industrialisasi.

Hari ini, tersaji di hadapan manusia zaman yang superdinamis dan amat cepat sekali perubahannya, yaitu zaman telekomunikasi yang memaksa dunia makin menyempit hingga  seukuran ”daun kelor”, dari rahimnya lahir beruntun jabang bayi generasi manusia yang oleh pemerhati marketing ditandai dengan inisial Y , Z, dan Alfa.

Mereka yang hari ini berusia kisaran empat puluh tahun disebut generasi milenial dengan inisial Y. Jumlahnya konon mencapai 1,8 miliar di seluruh dunia. Dari tangan terampilnya berputar roda ekonomi yang amat dahsyat berupa cicilan rumah, mobil, dan segala perangkat pendukung fungsi dan gengsi hidup.

Disusul kemudian generasi Z, generasi ini  lahir pertengahan tahun sembilan puluhan yang karakternya lebih serba bisa, sangat individual, berwawasan global, terbuka, gila kerja, multitasking, dan siap menginvasi generasi Y karena lebih terdidik dengan perbandingan populasi sarjananya 1 banding 2.

Kemudian analis sosial Mark Crindle memberikan nama ”generasi alfa” untuk yang lahir di atas 2010. Jumlahnya mencapai 2,5 juta kelahiran per minggu hingga di tahun 2025 mencapai 2 miliar.

Jika di tangan generasi milenial bumi serasa berputar lebih cepat, manusianya lebih lengket dengan teknologi canggih, bagaimana kelak saat generasi Alfa mulai dewasa, tentu praktisi pendidikan, ekonomi, politik, dan agama harus memutar otak lebih keras memetakan ragam tantangan dan peluang. 

Pemandu terbaik dalam manajemen generasi alfa adalah pesan bijak Nabi SAW ”Ajarilah anak- anakmu sesuai zamannya, karena mereka hidup di zaman mereka, bukan pada zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian”. (*)

(bw/als/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia