Minggu, 16 Dec 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Ekonomi Bisnis

Harga Telur Terus Merangkak Naik, Sekilo Tembus Rp 25 Ribu

13 Juli 2018, 19: 55: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

NAIK: Seorang pedagang di Pasar Banyuwangi sedang melayani pembeli telur di lapaknya sore kemarin.

NAIK: Seorang pedagang di Pasar Banyuwangi sedang melayani pembeli telur di lapaknya sore kemarin. (Arnindhita Arifin/RaBa)

BANYUWANGI - Melejitnya harga telur di berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur ternyata juga berimbas di Banyuwangi. Pantauan Jawa Pos Radar Banyuwangi, harga telur di Pasar Banyuwangi menunjukkan adanya kenaikan cukup signifikan. Pekan lalu harga sekilo telur Rp 23 ribu, kemarin (12/7) sudah menyentuh Rp 25 ribu.

Misnawati, salah satu pedagang telur mengungkapkan, harga beli antara Rp 19 ribu hingga Rp 20 ribu per kilogram. Dia pun mengaku sempat bingung untuk menentukan harga jual. ”Akhirnya kita jual harga Rp 25 ribu,” ujarnya.

Terkait naiknya harga telur, dia menduga adanya kenaikan harga pakan dan BBM. Misnawati memperkirakan harga telur akan terus meningkat atau setidaknya harga bertahan hingga waktu yang cukup lama. ”Perkiraan sampai hari raya Idul Adha kenaikan bertahan,” kata Misnawati.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Banyuwangi Ketut Kencana  melalui Kabid Perdagangan Budi Utomo membenarkan adanya kenaikan harga telur. Terkait kenaikan itu, setiap hari pihaknya melakukan pantauan di pasar.”Kita setiap hari memantau di pasar,” kata Budi.

Diungkapkan Budi, salah satu penyebab naiknya harga telur adalah pasokan dari Blitar banyak yang dikirim ke Jakarta. Dari informasi yang dia dapatkan saat mengikuti rapat, peternak di Blitar melakukan kemitraan dengan pemerintah DKI Jakarta. Sehingga saat musim panen tiba, banyak telur yang dikirim ke sana. ”Mereka ada kemitraan dengan DKI, sehingga memasok ke sana,” terangnya.

Sedangkan di Banyuwangi sendiri, saat ini harga telur mencapai angka Rp 25 ribu per kilogram. Kemudian untuk persediaan di lapangan sejauh masih mencukupi. ”Dari 15 pasar, persediaan masih cukup,” terangnya.

Langkah antisipasi agar kondisi ini tidak semakin melonjak, pihaknya telah melakukan upaya pendekatan kepada sejumlah peternak untuk menjual telur dengan harga terjangkau dan tidak mengikuti harga patokan tinggi. ”Peternak kita ajak menjual harga semestinya,” ucap Budi.

Sedangkan skenario operasi pasar tetap memungkinkan untuk dijalankan saat kondisi di lapangan sudah tidak terkendali. Namun, untuk melakukan ini semua pihaknya tidak bisa bertindak sendiri. ”Operasi pasar kita menunggu pusat,” tandasnya.

(bw/sli/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia