Rabu, 19 Dec 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Refleksi

Jangan Remehkan The Power of Emak

Oleh: Erna Agustina

05 Juli 2018, 11: 40: 59 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

Jangan Remehkan The Power of Emak

SEJAK beberapa hari lalu, atau tepatnya sejak Khofifah Indar Parawansa secara quick count unggul dari lawannya Gus Ipul dalam pilkada Jatim, laman media sosial saya dipenuhi jargon The Power of  Emak yang disertai foto senyum semringah dari Khofifah. Bahkan beberapa waktu lalu, media sosial (medsos) juga pernah dipenuhi dengan jargon ”jangan remehkan emak berdaster, kalo sudah dandan kelar hidup lo”.

Jargon seperti itu tentu saja membuat kita para perempuan khususnya yang sudah berstatus emak menjadi bangga dan tersanjung. Karena biasanya para emak hanya terkenal di urusan domestik keluarga saja. Namun, lewat jargon yang ada di medsos kita menjadi tersanjung dan merasa ”keren”. Kembali pada sosok Khofifah yang saat ini menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat Jawa Timur. Secara pribadi saya menilainya sebagai sosok yang mandiri dan pantang menyerah.

Pada saat menjabat sebagai Menteri Sosial era Presiden Abdurrahman Wahid, saat itu Khofifah tengah hamil, namun tetap  aktif dalam setiap kegiatan yang tentu saja sangat melelahkan. Bahkan setelah melahirkan pun, dia tetap tidak pernah absen pada kegiatan yang telah dijadwalkan.

Meski demikian, stok ASI (Air Susu Ibu) yang merupakan hak anaknya tidak pernah kosong. Khofifah selalu menyimpannya dalam lemari pembeku dan selalu tersedia banyak. Hal ini saya ketahui dari salah satu artikel yang pernah saya baca.

Bukan hanya itu, sebagai perempuan, Khofifah benar-benar bermental baja. Bagaimana tidak, meskipun sudah dua kali kalah dalam pertarungan pilkada Jawa Timur, tetap tidak membuatnya patah semangat. Akhirnya dengan jerih payahnya selama ini, hasil quick count menyatakan Khofifah dan pasangannya Emil Elestianto Dardak unggul.

Dalam Jawa Pos Edisi 1 Juli 2018, dibahas The Power of Emak yang menjadi pemimpin di berbagai daerah di Jawa Timur. Saya setuju dengan judul Kekuatan Jaringan Perempuan Itu Moral. Dalam tulisan tersebut dibeberkan, betapa seorang pemimpin perempuan tidak hanya menata apa yang sudah terlihat saja. Namun, apa yang ada di belakang dan bahkan dianggap hal remeh temeh, misalnya masalah hidangan juga menjadi fokus utama. Ada juga yang mengangkat berita tentang bagaimana seorang pemimpin perempuan benar-benar mempersiapkan tiket pesawat untuk warganya yang disabilitas dan akan berangkat ke Australia untuk menerima penghargaan.

Dalam hal seperti inilah, seorang pemimpin perempuan sudah biasa terlatih mulai di rumah dan dengan mudahnya diterapkan pada pekerjaan di kantor sehari-hari.

Melihat fenomena seperti itu, saya sarankan jangan anggap remeh para emak yang selama ini suka ngrumpi dan biasanya hanya melakukan kegiatan di dapur. Kalau sudah berkumpul, maka akan menjadi suatu barisan kekuatan yang hebat. Contohnya saja, bagaimana para emak ngrumpi  tentang masakan enak, sederhana, dan murah. Biasanya ini terjadi pagi-pagi di tempat penjual sayur, dan hal itu akan segera menjadi kenyataan hari itu juga, tepatnya akan tersaji di meja makan keluarga.

Lebih hot, biasanya memang ada bumbu tentang gosip terbaru yang ada di lingkungan sekitar. Sebagai seorang emak, saya pun juga sering mengalaminya. Agar tidak terlibat masalah, kita cukup sebagai pendengar yang baik saja.

Berkumpulnya para emak pada ajang ngrumpi seperti ini, pernah dijadikan peluang besar oleh Abdullah Abu Bakar yang saat ini menjabat sebagai Wali Kota Kediri. Abdullah menceritakan kepada saya, pada saat dia mencalonkan sebagai Wakil Walikota Kediri tahun 2008 lalu, dia dan pasangannya Lilik Muhibah saat itu sangat pesimistis merebut suara dari masyarakat Kota Kediri. Karena usianya masih muda dan minim pengalaman.

Meski pesimistis, Abdullah tetap mencari taktik untuk bisa meraih suara terbanyak. ”Saat itu saya berpikir kalau masuk ke pendukung Persik (Persatuan Sepak Bola Kediri) sudah tidak mungkin,” ujarnya.

Karena pada saat itu, salah satu kandidat mengklaim sudah mendapat dukungan dari klub sepak bola itu.  Akhirnya dengan melihat celah fenomena para emak yang suka berkumpul, maka Abdullah dan timnya memberanikan diri menyambangi para emak langsung ke rumahnya. Bersama timnya, Abdullah datang satu per satu secara door to door.

Dalam kegiatan tersebut, tidak lupa juga diberikan buah tangan gula 1 kg, kartu nama, dan tentu saja pesan singkat untuk memilihnya. Setelah kunjungan tersebut, pagi-pagi sekali keesokan harinya, khususnya di berbagai penjual sayur, berita sudah menyebar ke berbagai pelosok Kota Kediri dan bisa ditebak, ujung-ujungnya Abdullah dan pasangannya memenangi pilkada.

Dari hal tersebut, terlihat jelas bahwa peran serta emak dalam hal politik tidak bisa diragukan lagi. Mereka sudah mempunyai segmentasi pasar yang jelas, basis massa yang cukup signifikan, dan sebagai sumber informasi yang bisa dibilang akurat.

Bagaimana jika emak menjadi pemimpin dalam bidang pemerintahan?  Jelas tidak perlu diragukan, bisa dilihat Bu Risma (Walikota Surabaya), Sri Mulyani (Menteri Ekonomi) atau bahkan hingga Kanselir Jerman Angela Markel sekali pun, semuanya adalah para emak yang sudah terlatih di rumah masing-masing. Sehingga, pekerjaan berat di kantor tidak membuatnya stres dan mereka tetap semangat bekerja. Jadi, tetap jangan remehkan The Power of Emak.(*)

*)Dosen FISIP Untag 1945 Banyuwangi.

(bw/mls/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia