Kamis, 15 Nov 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Opini Sabtu

Camilan Cap “Paternalis”

OLEH: Achmad Anies Rachman

Sabtu, 30 Jun 2018 15:36 | editor : AF. Ichsan Rasyid

Camilan Cap “Paternalis”

Pagi cerah memeluk kota diiringi gelak tawa penuh keceriaan dari sekelompok kecil masyarakat sekitar. Kegembiraan bersua dengan kerabat dan sahabat di tempat pesta demokrasi (TPS – TPS). Bersalam-salaman karena masih terasa seberkas cahaya momen lebaran lalu yang disertai bincang ringan seputar pemilu. Perbincangan damai tapi menarik perhatian.

Dari perbincangan yang berlangsung, terdapat opini atau pendapat yang menurut saya sedikit antagonis dalam pemikirannya. Sehingga, dapat dikelompokkan pada dua pemikiran yang menentukan pilihan mereka. Yakni: pemikiran dasar  non–paternalis dan pemikiran dasar paternalis. Pemikiran dasar non–paternalis mereka pada umumnya berangkat dari media informasi melalui pemberitaan–pemberitaan di koran, penyiaran di televisi, melalui internet, menggunakan hubungan via media sosial, penerangan dari penyelenggara pemilu dan media lain yang melengkapinya.

Sementara pada dasar pemikiran yang dipengaruhi oleh paternalis, pada umumnya lebih pada kepercayaan terhadap tokoh–tokoh yang dipercayainya atau adanya pengaruh padanya yang berasal dari figur – figur panutan, serta pengaruh budaya terbiasa fanatik terhadap kebijakan tokoh tertentu yang diteladaninya. Walaupun berbeda kiblat pemikiran, tetap saja keduanya damai penuh senyum tawa renyah nan tulus saling menghargai.

Konon daerah “Tapal Kuda Jawa Timur” terdiri dari kabupaten – kabupaten di pantai pesisir timur pulau Jawa ini dikenal dengan “Wilayah Paternalis”. Benar atau tidaknya saya serahkan kepada pembaca. Sebab, setiap manusia memiliki sudut pandang yang berbeda. Daerah – daerah ini juga sangat subur dengan ilmu pengetahuan terutama di bidang ilmu agamanya. Sehingga, tak heran jika sejak lama di daerah-daerah ini laju pertumbuhan pesantren atau sejenis “Islamic boarding schools” maju pesat di segala tingkatan dan variannya.

Seiring dengan pertumbuhan tersebut, maka tidaklah mengherankan jika muncul sederet tokoh–tokoh agama yang layak diteladani. Bahkan, sedemikian takdzimnya hingga sebagian besar masyarakat menjadi fanatik terhadap tokoh–tokoh ini. Ketokohan ini, bahkan lebih jauh dapat memengaruhi masyarakatnya. Kondisi demikian kemudian membudaya dan mendorong terbentuknya “patrealism”. Demikian pandangan sebagian masyarakat.

Paternalisme menarik untuk dikaji, menurut saya arti  kata paternalis berasal dari serapan bahasa asing yakni “Patre” (father,romo, kiai, ulama, panutan atau bapak). Maka pengertian paternalis adalah tokoh atau pemimpin yang menggunakan pengaruh dengan sifat kebapaan dalam menggerakkan bawahan atau pengikutnya guna mencapai tujuan yang ingin di capai. Pemimpin yang paternalistik juga mengharapkan agar legitimasi ketokohan atau kepemimpinannya merupakan penerimaan atas peranannya yang dominan dalam kehidupan masyarakatnya. Pengertian lainnya adalah suatu sistem yang menempatkan tokoh atau pimpinan sebagai pihak yang paling dominan (absolute decision makers).

Faktor yang mungkin mendorong terbentuknya sebuah paternalistik antara lain adalah dengan adanya peranan ada istiadat yang kuat, kuatnya ikatan yg terbina sejak lama (primordial), kehidupan masyarakat yang perkauman kuat atau cara hidup bersama–sama (communalism), sistem keluarga besar (Extended family system) dan mungkin juga karena faktor sebuah hubungan pribadi dengan yang intim (intimate relationship factors). 

Paternalis ini memiliki sisi positif  dan sisi negatif.  Jika dilihat pada sisi positif maka muncul sudut pandang bahwa dampak paternalistik adalah bisa membuat para pengikutnya menjadi partisipan yang sangat aktif serta efektif sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Jadi dalam sudut pandang saya paternalis lebih memiliki kecenderungan pada terapan ilmu manajemen sumber daya manusia sekaligus merupakan implikasi ilmu sosial. Contoh: banyak sekali tokoh–tokoh politik yang “sowan” ke tokoh – tokoh agama yang dianggap memiliki daya pengaruh kuat pada masyarakat tertentu dengan harapan pengikutnya bisa mendukung figur politik tersebut. Sedangkan tokoh agama kemudian melihat dan mengkaji terlebih dulu sebelum pengikutnya berpikir, jika dipandang “pantas” baru dilakukan seruan dukungan atau tidak yang bukan merupakan sebuah paksaan tetapi lebih kepada sebuah anjuran.

Akan tetapi paternalis ini juga punya kelemahan atau sisi negatif. Dampak negatifnya adalah tokoh atau panutan akan bergerak  karena pengikut atau masyarakat pendukungnya yang ada di dalam pengaruhnya cenderung menurut dan tunduk padanya tanpa memiliki inisiatif untuk mengembangkan diri. Dan bahkan paling berbahaya adalah munculnya fanatisme dalam gerak pengikut atau masyarakat pendukungnya yang mendorong munculnya semangat “fundamentalism” (paham yang cenderung untuk memperjuangkan sesuatu secara radikal).  Jika sampai gerak fundamentalisme ini sampai terbentuk maka dapat dipastikan akan muncul “many disputes and riots occurred” (banyak perselisihan dan kerusuhan terjadi) yang dapat mencerai – beraikan persatuan bangsa dan merobek nilai – nilai kedamaian, dengan adanya “fundamentalism” atau fundamentalis maka semua norma –norma jadi terabaikan dan dirusak. Terutama empat pilar norma (nilai, aturan, red.) yaitu norma agama, norma hukum, norma kemanusiaan dan norma adat -  istiadat.

Contoh nyata dari gerakan berdasarkan semangat fundamentalis ini adalah peristiwa pemboman di Surabaya. Ibu kota propinsi Jawa Timur ini yang sejak lama damai, tentram dan terkendali menjadi porak – poranda, innalillahi wainnailaihi roji’un. Akibat lain dari paternalis sisi negatif  adalah terbentuknya keserakahan dan egoisme tokoh masyarakat  (yang terjerat, red) sebagai akibat dari bermacam – macam “kemasan berupa rayuan” yang disuguhkan oleh tokoh politik yang haus kekuasaan sehingga tokoh panutan masyarakat  yang terkena rayuan dengan sadar mengeluarkan anjuran dengan penekanan secara halus dan diarahkan pada tokoh politik tertentu, jelas ini melanggar hak asasi masyarakatnya pada sisi demokrasi dalam  memilih dan berpendapat.

Sebagai manusia biasa pasti ada kesalahan maka saya minta maaf dan hanya Allah Azza Wa Jallah yang haq. Terima kasih dan salaam.

(bw/mls/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia