Kamis, 15 Nov 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Opini Sabtu

Baca Facebook, Jangan Lupa Baca Koran

Oleh: Fredy Rizki Manunggal

Sabtu, 30 Jun 2018 06:30 | editor : AF. Ichsan Rasyid

Baca Facebook,  Jangan Lupa Baca Koran

ANDA, saya, dan beberapa atau nyaris semua orang yang kita kenal pasti memiliki smartphone. Ini adalah salah satu imbas perkembangan dunia informasi yang cukup pesat. Semua orang, kaya, sederhana, miskin sudah memasukkan smartphone sebagai bagian pokok dari kehidupan mereka.

  Berbeda dengan zaman saya kecil dulu. Kalau bukan juragan, atau pegawai negeri yang jabatannya sudah lumayan sepertinya mustahil bisa memiliki telepon genggam, wong telepon rumah saja juga jarang. Tapi, bukan ini yang saya bicarakan. Dengan memiliki smartphone, orang memiliki beberapa fitur yang dimiliki perangkat tersebut.

  Kamera, video, dan recorder. Kemudian ada juga media sosial yang bisa digunakan untuk menyalurkan hasil dari rekaman ketiga fitur tersebut. Mulai dari WhatsApp, Twitter, Instagram, Facebook, dan lainnya. Dengan smartphone, orang hampir memiliki semua perangkat yang digunakan oleh seorang jurnalis.

  Hal ini juga yang kemudian membuat fenomena menjadi ”mendadak wartawan” kerap banyak ditemui. Di Banyuwangi, tempat saya bertugas dan mencari berita, fenomena ini semakin semarak dalam dua tahun terakhir. Masyarakat yang kebetulan berada di dekat lokasi sebuah kejadian, kerap akan langsung membuka gawai mereka.

  Baik itu untuk memotret atau merekam video. Tak lama setelah itu, hasil dari rekaman sudah bisa di lihat di media sosial. Yang paling populer saya amati masih Facebook (FB). Mulai dari akun pribadi sampai grup-grup masal seperti Banyuwangi Berdiskusi, Banyuwangi Bersatu, bahkan grup jual beli juga tak luput menjadi lahan yang digunakan untuk membagikan hasil rekaman kejadian.

  Dalam beberapa kesempatan, hal ini cukup membantu untuk jurnalis yang memiliki keterbatasan jaringan informan. Terutama saya, hehehehe. Karena wilayah peliputan yang ada di Banyuwangi cukup luas, hal ini cukup membantu bagi saya untuk mendapatkan informasi. Minimal membuat saya tahu jika ada sebuah kejadian, ini sisi positifnya.

  Tapi, jika membicarakan sisi positif pasti juga ada sisi negatifnya. Seperti ketika peliputan di lapangan. Fenomena ”mendadak wartawan” ini membuat TKP menjadi penuh. Tak jarang, hal ini justru membuat proses evakuasi, misalnya seperti kejadian kebakaran yang terjadi di Jalan PB Sudirman beberapa hari lalu, menjadi sedikit terhambat. Lantaran saking banyaknya orang yang ingin mendapatkan video eksklusif dari jarak dekat.

  Belum lagi jika ada tokoh cukup populer hadir di Banyuwangi. Tak jarang, wartawan yang sedang bertugas justru harus tersingkir, karena banyaknya orang yang ingin mendapatkan gambar atau video dari jarak dekat. Pernah sampai suatu kali, salah satu rekan saya, seorang jurnalis televisi harus menggunakan ’jiwa preman’ untuk menghalau orang-orang yang ”mendadak wartawan” itu.

  Selanjutnya yang paling penting adalah produk dari masyarakat mendadak wartawan. Ketika hasil dari rekaman masyarakat ini mulai diunggah ke media sosial dan di-share berulang-ulang. Informasi yang disampaikan pun sering kali kurang bisa dipertanggungjawabkan akurasinya. Sempat beberapa kali info yang saya amati justru menyesatkan. Seperti contohnya beberapa waktu lalu ada informasi longsor di wilayah Gunung Gumitir. Video dan ulasannya tersebar di FB dan grup-grup WA.

  Setelah diperiksa, rupanya longsoran itu berada di salah satu jalur terusan Ijen menuju Bondowoso. Akan tetapi, info tersebut sudah cukup membuat beberapa orang yang akan ke Jember akhirnya harus berputar melewati Situbondo.

Ada juga kabar tentang ladang bawang putih yang ada di Desa Tamansari yang dianggap menjadi penyebab dari banjir bandang di Alasmalang, Singojuruh. Kawan saya yang tidak usah disebut namanya meyakini hal tersebut. Bahkan juga ikut diyakini oleh kawan-kawan teman ngopi-nya. Sumbernya tentu saja posting-an FB atau WA.

Padahal jelas-jelas Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengatakan ini akibat melapuknya kawah Gunung Pendil yang kemudian menimbulkan longsor. Kalau sudah begini siapa yang rugi? Meski informasi semacam ini kerap kali membingungkan antara kebenaran dan tidaknya, tak jarang masyarakat justru lebih menyukai informasi semacam ini.

  Apalagi jika di-upload ke FB, kemudian disertai ulasan ditambah lagi ada kolom komentar di bawahnya yang bisa diisi pembacanya dengan pertanyaan atau keluhan yang tidak akan bisa mereka temui di media koran atau televisi. Informasi yang beredar di media sosial bahkan jauh lebih cepat dari media online yang paling cepat sekalipun. Karena paling tidak, media online masih perlu melalui beberapa tahap, mulai dari screening redaktur, sampai polesan copy editor sebelum bisa diunggah.

Saya sendiri sengaja tidak menggunakan istilah citizen journalism untuk mereka yang menyebarkan informasi di media sosial. Karena dari beberapa sumber artikel yang ditulis Steve Outing (2005) salah satunya, ada beberapa kewajiban yang harus ditunaikan seorang citizen journalist sebelum menceploskan informasinya.

  Seperti harus adanya ricek dan informasi yang tepat. Kemudian penyampaiannya pun biasanya bukan langsung melalui posting akun pribadi. Tetapi melalui portal media citizen journalist, atau bahkan media mainstream yang bisa mereka kirimi berita. Sebenarnya, sah-sah saja ketika masyarakat menikmati informasi melalui Facebook atau media sosial lainnya.

  Karena mereka pun bisa berinteraksi dengan masyarakat lainnya yang sama-sama tertarik dengan postingan tersebut di sana. Namun, sepertinya lebih elok jika masyarakat bisa mendampingi informasi cepat ala Facebook yang mereka peroleh dengan sumber yang tepercaya. Ibarat sebuah film, anggap saja Facebook sebagai trailer film dengan sedikit spoiler.

 Kemudian untuk mengetahui jalan cerita film yang utuh hingga akhir, tetap saja masyarakat harus menonton film asli yang diputar bioskop. Dalam artian, masyarakat tetap butuh membaca media tepercaya untuk mengetahui informasi secara holistik.

Dalam hal ini saya sarankan masyarakat memilih koran. Karena, meskipun koran adalah media yang mungkin paling akhir dalam mengabarkan peristiwa mengingat panjangnya proses yang harus dilalui sebelum berita tercetak. Tapi dari proses panjang itu, koran memiliki waktu untuk melengkapi informasi menjadi benar-benar utuh dan valid.

Jadi jangan sampai, hanya karena menyaksikan trailer kita seolah sudah paham jalannya cerita hingga akhir, atau bahasa lainnya, jangan sampai usai melihat posting-an di FB atau WA kita sudah bisa menjadi pengamat bahkan ikut menjadi kritikus. Jika harus menyarankan lagi koran apa, saya sarankan Jawa Pos Radar Banyuwangi untuk wilayah Banyuwangi dan Situbondo.(*)

*) Wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi.

(bw/fre/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia