Kamis, 15 Nov 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Opini Sabtu

Keajaiban yang Didambakan

Oleh: Ida Rosita

Senin, 11 Jun 2018 12:49 | editor : AF. Ichsan Rasyid

Keajaiban yang Didambakan

Sebentar lagi Ramadan berlalu. Meninggalkan catatan-catatan pilu bagi kita yang bersedia untuk sedikit meluangkan waktu, mengasah kepekaan dan merenungi keindahan sabda Rasulullah SAW: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam”. (HR. Muslim).

Jika dikaitkan dengan konsep Islam Rahmatan Lil ‘Alamin, maka sangat benar bahwa kasih sayang yang diwujudkan dalam kehidupan Islam adalah bersifat menyeluruh, tersebar ke penjuru alam, tidak tebatasi dan terkotak-kotakkan oleh ruang dan waktu.

Hal ini juga menjadi sebuah bukti bahwa Islam tidak mengenal sikap individualis, namun mengajarkan perhatian dan kepedulian terhadap nasib sesama muslim. Rasulullah saw.  Bersabda:  “Barangsiapa tidak peduli terhadap urusan kaum muslimin, maka ia tidak termasuk golongan mereka.” (H.R. Ath-Thabrani)

Maka ketika saat ini banyak peristiwa yang menimpa kaum muslmin di berbagai belahan dunia, seperti di palestina yang terus menerus dibombardir sekutu, sehingga tidak ada waktu dan tempat bagi keceriaan anak-anak di sana, tidak ada peluang untuk mendapatkan makanan dan minuman pelepas haus dan dahaga. Demikian pula saudara muslim kita di Suriah dan Rohingnya yang sebelas duabelas keadaannya. Di negeri kita pun masih banyak saudara kita yang belum layak kehidupannya, masih terbelenggu dalam kemiskinan dan keterbelakangan.

Maka ketika Allah menjadikan bulan Ramadan ini sebagai ajang untuk menahan lapar dan dahaga serta lebih dari itu, maka sesungguhnya saudara-saudara kita itu telah melakukannya, di luar bulan Ramadan. Disebabkan kesulitan hidup yang mereka hadapi.

Oleh karenanya marilah kita jadikan sebagai keteladanan, sebuah sikap Umar bin khattab saat menjadi khalifah kedua. Beliau melakukan secara langsung “supervisi” dan  pengawasan terhadap rakyatnya yang kekurangan, sehingga beliau sendiri yang memanggul gandum dari baitul mal dan memasakkannya untuk sebuah keluarga muslim yang kelaparan.

Bahkan‘Umar bin Khaththab pun pernah membangun suatu rumah yang diberi nama , “daar al-daaqiq’ (rumah tepung) antara Makkah dan Syam. Di dalam rumah itu tersedia berbagai macam jenis tepung, korma, dan barang-barang kebutuhan lainnya. Tujuan dibangunnya rumah itu adalah untuk menolong orang-orang yang singgah dalam perjalanan dan memenuhi kebutuhan orang-orang yang perlu sampai kebutuhannya terpenuhi.

Diriwayatkan pula bahwa Umar ra. di mana ia melihat seorang kafir dzimmi yang mengemis, padahal dia sudah tua. Umar pun berkata; "Kami tidak adil kepadamu, kami mengambil jizyah darimu ketika kamu masih muda, dan hari ini kami telah menyia-nyiakanmu." Kemudian Umar ra memerintah untuk menjatah bahan makanan untuk orang ini dari Baitul Mal. (As Samarqandy, Tanbîhul Ghâfiliin).

Kemuliaan sikap Umar bin khattab ini juga diikuti oleh para pemimpin berikutnya. Mereka semuanya sama, ingin melaksanakan amanah dipundaknya untuk menjaga sebesar-besar kemakmuran rakyat. Sehingga kita pun dapat menjumpai pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, meskipun masa kepemimpinannya cukup singkat (hanya 3 tahun), umat Islam terus mengenangnya sebagai khalifah yang berhasil menyejahterakan rakyat. Yahya bin Said, seorang petugas zakat masa itu, berkata, “Ketika hendak membagikan zakat, saya tidak menjumpai seorang miskin pun. Umar bin Abdul Aziz telah menjadikan setiap individu rakyat pada waktu itu berkecukupan.” (Ibnu Abdil Hakam, Sîrah ‘Umar bin Abdul ‘Azîz, hlm. 59).

Pada masanya, kemakmuran tidak hanya ada di Afrika, tetapi juga merata di wilayah lain, seperti Irak dan Bashrah. Begitu makmurnya rakyat, sehingga Gubernur Bashrah saat itu pernah mengirim surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz, “Semua rakyat hidup sejahtera sampai saya sendiri khawatir mereka akan menjadi takabur dan sombong.” (Abu Ubaid, Al-Amwâl, hlm. 256).

 Pada masa keemasan bahkan di akhir kekuasaan Ustmani kita menemukan surat-surat  yang menunjukkan kehebatan Utsmani dalam menjamin, melindungi dan memakmurkan warganya ataupun orang asing pencari suaka tanpa pandang bulu. Tersebutlah surat sertifikat tanah yang diberikan tahun 1519 kepada para pengungsi Yahudi yang lari dari kejamnya Inkuisisi Spanyol pasca jatuhnya pemerintahan Islam di Al-Andalus. Kemudian surat ucapan terima kasih dari Pemerintah Amerika Serikat atas bantuan pangan yang dikirim Khalifah ke sana yang sedang dilanda kelaparan (pasca perang dengan Inggris) abad ke-18. Juga surat jaminan perlindungan kepada Raja Swedia yang diusir tentara Rusia dan mencari eksil kepada Khalifah pada 7 Agustus 1709. Ada juga surat tertanggal 13 Robi’ul Akhir 1282 H (5 September 1865) yang memberikan izin dan ongkos kepada 30 keluarga Yunani yang beremigrasi ke Rusia namun kembali ke wilayah Ustmani, karena di Rusia justru mereka sengsara.

Semua ini tentu saja semakin membukakan mata hati kita bahwa begitulah kisah nyata dan bersejarah kaum Muslim pada masa lalu. Semuanya menjadi sebuah keajaiban yang benar-benar didambakan. Kondisi umat saat ini sesungguhnya juga sangat mendambakan keajaiban ini hadir kembali. Mereka mendapatkan solusi dari permasalahannya, uluran tangan dari sesama muslim juga mendapatkan sosok pemimpin sebagaimana Umar bin Khattab. Ataupun Umar bin Abdul Aziz, sehingga umat Islam dapat merasakan kesejahteraannya, terjauhkan dari kekhawatiran, ketakutan dan penderitaan, serta terjaga keamanannya. Maka masihkah kita dapat menemukan keajaiban ini dan menikmatinya? Wallâh a’lam bi ash-shawâb. (*)

*) Warga Desa/Kecamatan Bangorejo

(bw/mls/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia