Kamis, 15 Nov 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Opini Sabtu

Memakmurkan Masjid Seperti di Bulan Ramadan

Oleh: Niko Pahlevi Hentika*

Senin, 11 Jun 2018 12:48 | editor : AF. Ichsan Rasyid

Memakmurkan Masjid Seperti di Bulan Ramadan

Penuh, itulah kesan pertama yang terlintas ketika kita mulai tarawih pada hari-hari pertama di bulan Ramadan. Demikianlah memang kondisi umum yang terjadi di musala dan masjid yang ada di sekitar kita saat memasuki Ramadan. Jamaah dari berbagai kalangan hadir, mulai dari yang lansia sampai balita. Jika masjid-musala sudah tidak cukup menampung jamaah, tidak jarang shaf salat didirikan sampai di teras bahkan di halaman musala-masjid.

Kondisi lain yang ada di musala-masjid saat Ramadhan adalah tadarus Alquran yang senantiasa dilantunkan melalui sound system. Setelah selesai tarawih, jamaah masjid-musala masih menambah amal mereka dengan mengadakan tadarus sampai malam, bahkan jika dirasa kurang terdapat beberapa masjid yang mengadakan tadarus setelah salat ashar hingga menjelang berbuka. Kondisi jamaah salat lima waktu juga bertambah ketika Ramadan tiba.

Jumlah uang kotak infaq yang ada di masjid-musala juga mengalami penambahan secara signifikan. Tidak hanya berupa uang masyarakat juga akan memberikan donasinya berupa makanan dan takjil untuk buka puasa jika pengurus musala-masjid mengadakan buka puasa bersama. Pengurus musala-masjid juga akan mengumpulkan zakat fitrah untuk disalurkan kepada yang membutuhkan dan masyarakat akan dengan sukarela memberikan bantuannya jika musala-masjid membutuhkan.

Selain itu, banyak musala-masjid yang juga mengadakan kajian Islam di bulan Ramadan. Bahkan jika musala-masjid menyelenggarakan iktikaf di sepuluh hari terakhir Ramadan maka musala-masjid akan semakin hidup dengan kegiatan-kegiatan masyarakat. Demikianlah kondisi masyarakat dan pengurus memakmurkan musala-masjid di bulan Ramadan.

Namun, kondisi tersebut akan berangsur-angsur berubah setelah Ramadan berakhir. Shaf-shaf salat kembali berkurang, kegiatan-kegiatan di musala-masjid berkurang; tidak ada lagi tadarus, tidak ada lagi salat malam, kajian Islam berkurang, uang infaq dan zakat pun berkurang. Musala-masjid akan kembali sepi dari masyarakat dan kegiatan masyarakat. Ironis memang jika membandingkan kondisi musala-masjid di bulan Ramadan dan di bulan-bulan selain Ramadan.

Dari kondisi tersebut sejenak kita merenung dan bertanya bagaimanakah sesungguhnya kondisi ideal dan cara ideal memakmurkan masjid? Untuk menjawabnya maka kita harus membaca ulang sejarah bagaimana cara Rasulullah memakmurkan masjid. Pada masa Rasulullah, Masjid Nabawi digunakan dan difungsikan untuk berbagai keperluan. Gazalba (1975) menjelaskan fungsi tersebut antara lain: sebagai tempat sujud (tempat salat lima waktu yang bernilai wajib dan slat yang bernilai sunah), tempat memberi dan menerima pengajaran baik ilmu agama ataupun ilmu dunia, tempat mengumumkan hal-hal penting yang menyangkut hidup masyarakat Islam, tempat baitul mal (kas negara atau kas umat Islam), tempat sidang soal hukum dan peradilan, tempat menyelesaikan persoalan masyarakat dan negara, tempat menyusun strategi dan taktik perang, tempat penghulu memimpin upacara pernikahan dan sekaligus tempat peradilan perselisihan rumah tangga, tempat menyalatkan jenazah, tempat sosial yaitu sebagai tempat tinggal bagi musafir yang dalam perjalanan, tempat membaca Alquran. Fungsi-fungsi masjid tersebut menggambarkan bahwa masjid sebenarnya memiliki fungsi yang sangat luas. Dengan bahasa lain Gazalba menyebut masjid sebagai pusat ibadah dan kebudayaan Islam.

Penggunaan dan pemfungsian masjid di atas sebenarnya tidak hanya diemban oleh Masjid Nabawi saja. Namun, fungsi-fungsi masjid di atas diperuntukan pula untuk semua masjid disegala masa dan tempat. Terkait pengunaan dan pemfungsian masjid yang ternyata begitu luas, Allah juga telah menegaskannya dalam Alquran Surat An-Nur:36-37.

Oleh karena itu, untuk memakmurkan musala-masjid perlu diposisikan dan disadari bahwa musala-masjid mempunyai fungsi yang sangat luas dan tidak terbatas sebagai tempat shalat saja, sehingga kegiatan yang diadakan juga harus luas dan bermacam-macam. Kondisi ideal masjid dan cara memakmurkan musala-masjid sedikitnya sebagaimana yang tejadi pada bulan Ramadan. Masjid-musala penuh dengan masyarakat dan aktivitasnya.

Lebih jauh lagi, pada masa mendatang untuk memakmurkan musala-masjid perlu adanya manajemen yang modern tetapi tetap sesuai dengan koridor Islam. Pembangunan fisik masjid yang megah perlu diimbangi dengan penyediaan layanan yang lain, misalnya: penyediaan pusat informasi Islam yang dikelola didukung dengan jaringan internet, website, dan aplikasi-aplikasi gadget, penyediaan sarana pendidikan Alquran dengan audio-visual untuk anak-anak hingga dewasa, kegiatan kuliah ilmiah Islam dengan pembicara pakar-pakar dibidangnya, dan pelaporan dana dari masyarakat dan program kerja yang akuntabel serta dapat diakses oleh masyarakat.

*) Ka. Prodi Ilmu Administrasi Negara Untag 1945  Banyuwangi, Peneliti Manajemen Publik dan Manajemen Masjid.

(bw/mls/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia