Kamis, 15 Nov 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Opini Sabtu

Dimensi Akhlak dan Pendidikan Puasa Ramadan

Oleh : Supriyadi KS

Sabtu, 02 Jun 2018 07:00 | editor : AF. Ichsan Rasyid

Dimensi Akhlak dan Pendidikan Puasa Ramadan

PUASA memiliki ragam dimensi, baik materi maupun spiritual. Dari semua dimensi itu yang utama adalah dimensi akhlak dan pendidikan: adalah melembutkan hati, menguatkan kehendak yang ada dalam diri, dan harmoni jiwa.

Lihatlah keindahan orang-orang yang melakukan puasa itu, dia mampu mengejawantahkan perikemanusiaannya. Mereka memiliki seluruh ikhtiar dan kewenangan dalam berbagai macam makanan serta minuman. Mereka ”didik” jiwa-jiwa hewannya yang mengungkung di dalam kandang jiwa. Ia mampu bersabar dari godaan nafsu syahwatnya.

Orang berpuasa laksana pepohonan yang tumbuh di sela-sela bebatuan, di tengah gunung, dan jalanan gersang. Pepohonan yang senantiasa digembleng oleh angin topan dan teriknya matahari yang membakar serta dinginnya angin musim penghujan. Pepohonan yang tumbuh dengan segala kekurangan sejak benih pertumbuhannya. Ia memiliki batang pohon yang tegar, kuat, penuh kemandirian, dan pantang menyerah.

Berbeda dengan pepohonan yang tidak pernah digembleng oleh keadaan. Laksana tumbuh menempel di dinding di pinggiran aliran air. Pepohonan semacam ini begitu rapuh, kurang mampu bertahan, dan sangat rentan, serta tidak mempunyai kekuatan bertahan. Apabila beberapa hari saja akarnya tidak menyentuh aliran air, pepohonan ini akan segera layu dan menjadi kering. Seperti inikah orang yang tidak berpuasa?

Ya, puasalah alat untuk membakar semua nilai syahwat dan menaikkan nilai seseorang pada derajat kemanusiaannya. Puasa membentuk neraca nilai untuk mengingatkan manusia akan keluhuran dirinya jauh melampaui nilai kebendaan dan kuasa yang telah melalaikannya hanya sekadar budak kuasa syahwat.

Kalau sebelumnya hidup orang belum memiliki nilai atau hambar nilai, maka pasca-Ramadan seyogianya bisa mengukuhkan cahaya nilai hidup yang hilang. Nilai tidak saja membedakan tindakan manusia, tetapi juga membedakan kualitas manusia. Nilailah yang menjadi ukuran untuk menentukan makna, keutamaan, dan ”harga”.

Puasa Ramadan bukanlah hanya sekadar ritual tahunan. Puasa memiliki implikasi moral bagi manusia untuk keluar dari jebakan nafsu. Yakni, nilai yang merasuki manusia untuk suka menimbun harta, memperluas hasrat mendapatkan status sosial, dan menyebarkan kejahatan baik lewat kekerasan bersenjata maupun agunan pengetahuan, yang menyebabkan manusia bergelantung pada apa yang dimilikinya. Jati diri, kehormatan, kebahagiaan, bahkan seluruh hidupnya ditentukan oleh apa yang dia punyai. Ketika dia kehilangan miliknya itu, dia pun akan merasa kehilangan dirinya.

Alangkah rendahnya kehidupan bila kebahagiaan bergantung pada benda-benda mati. Alangkah rentannya kita dengan berbagai persoalan bila hati diletakkan pada benda-benda yang kita miliki.

Manusia memang cenderung pada hal-hal yang material karena sejak kecil sudah dibiasakan menikmati apa-apa yang secara konkret ada di sekitarnya: rumah, kendaraan, handphone, istri-anak, anak buah, kawan, fans, karir, pangkat, kedudukan, atau status.

Menimbun, berkuasa, dan berpengaruh (modus memiliki) tak pernah ada puasnya. Puasa memberi kesadaran hasrat itu dengan mendidik pengendalian diri.

Inilah saat rehat, saat matahari berangkat ke peraduan, burung-burung pulang ke sarang, kerbau digiring ke kandang usai kerja seharian. Puasa berarti ruang istirahat seperti gubuk kecil di tengah sawah. Seperti dedaunan berjatuhan di musim gugur demi tumbuhnya tunas muda. Bagai keriuhan yang berubah lirih. Seperti kata-kata liar meminta dilembutkan setelah sekian lama diperkosa menyebarkan benci dan fitnah.

Ramadan seperti menyeru kepada tajamnya lidah agar dilembutkan, fitnah caci-maki disusilakan, kebencian pertikaian didamaikan, kebiadaban diperadabkan. Berpuasa seperti mengenal pelana juga kudanya, guna membawa kita dengan benar ke tempat tujuan. Terbukalah selubung misteri, hingga mengubah perilaku kita secara mendalam, dan menebarkan benih ke bumi menumbuhkan rahmat bagi alam dan sesama. Hendaklah setiap pengendalian diri, kejujuran, kesabaran, semangat kebajikan, dan anti-kemungkaran, serta kepedulian sosial benar-benar dipersembahkan bagi terwujudnya kemaslahatan negeri.(*)

*) Ketua DPD Partai Nasdem Banyuwangi

(bw/mls/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia