Rabu, 24 Oct 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Refleksi

Tantangan Guru Era 4.0

Oleh: Heriyanto Nurcahyo*

Kamis, 24 May 2018 06:05 | editor : AF. Ichsan Rasyid

Tantangan Guru Era 4.0

DEWASA ini, informasi dan teknologi memengaruhi aktivitas sekolah dengan sangat masif. Informasi dan pengetahuan baru menyebar dengan mudah dan aksesibel bagi siapa saja yang membutuhkannya. Pendidikan mengalami disrupsi yang sangat hebat sekali. Peran guru yang selama ini sebagai satu-satunya penyedia ilmu pengetahuan sedikit banyak bergeser menjauh darinya. Di masa mendatang, peran dan kehadiran guru di ruang kelas akan semakin menantang dan membutuhkan kreativitas yang sangat tinggi.

Sugata Mitra, profesor teknologi pembelajaran di Newcastle University, mengatakan bahwa banyak sekolah telah menjadi usang dan ketinggalan zaman (obsolete). Sekolah dipandang kurang bergerak cepat. Informasi jarang di-update dan dibiarkan ”basi” begitu saja. Kondisi ini dipicu oleh keterbatasan penguasaan teknologi, lambatnya penyebaran informasi, dan pengembangan infrastruktur pendukung. Kondisi ini diperburuk oleh tingkat kompetensi para guru dalam memahami dan menerjemahkan kurikulum dalam pembelajaran di ruang-ruang kelas.

Fenomena di atas telah memicu para guru era 4.0  menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Kompleksitas tantangan ini dilecut oleh beberapa fenomena kekinian. Berkembangnya era revolusi industri 4.0, yang serba otomatis, digital, berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence), robotic, dan masif telah sedikit banyak memangkas tenaga-tenaga manusia dan menggantinya dengan mesin dan perangkat yang sangat canggih.

Fenomena kekinian ini juga ditopang oleh lahir dan hadirnya generasi milenial yang lebih populer dengan sebutan kids zaman now. Revolusi industri 4.0 dan fenomena siswa zaman now membawa preferensi baru yang sedikit banyak mengubah cara pandang kita terhadap  belajar dan per sekolahan.

Siswa zaman now tidak suka duduk berlama-lama di ruang kelas sekadar mendengar guru ceramah saja. Siswa tersebut lebih senang jika belajar dalam waktu dan tempat yang tidak monoton. Mereka adalah generasi multitasking yang bisa mengerjakan banyak hal secara bersamaan: mendengar ceramah guru sambil texting atau upload foto di media sosial dan membuat caption atasnya.

Kegiatan pembelajaran yang monoton dan rigid menjadi musuh utama konsentrasi dan gairah belajar siswa. Waktu pembelajaran di sekolah memang tidak sepenuhnya bisa fleksibel karena jadwal yang tersusun berlaku selama kurun waktu tertentu. Namun demikian, guru bisa mendorong fleksibilitas belajar siswa di luar kelas melalui bantuan platform pendidikan online yang sudah banyak beredar di dunia maya. Atau dapat juga memanfaatkan media sosial yang sudah sangat familiar di mata siswa.

          Siswa zaman now menyukai alternatif baru untuk menyelesaikan tugas dan pekerjaan yang mereka miliki. Siswa zaman now tidak bisa dibatasi dengan informasi yang diberikan oleh guru semata. Mereka (siswa) lebih nyaman dan bergairah jika gawai, telepon pintar bersanding dan menjadi alat bantu menyelesaikan tugas tertentu. Dunia maya menjadi bagian penting dalam kesehariannya. Pembelajaran multi-modalitas menjadi keharusan di tengah hiruk pikuk kemajuan zaman dan teknologi informasi.

Aktivitas belajar tidak bisa dijauhkan dari keterkaitan hubungan apa yang dipelajari dengan dunia anak yang dihadapi. Dengan kata lain apa yang dipelajari siswa di kelas haruslah relevan dengan dunia mereka. Konten pembelajaran yang diminati para siswa zaman now bersifat khusus, singkat, dan cepat. Para siswa zaman now sangat haus akan informasi dan akan mencarinya di dunia maya jika gurunya tidak mampu memenuhi hasrat mereka. 

Di sisi lain, kemajuan dan pesatnya teknologi dan informasi telah mencabut guru dari akar kenyamanan (comfort zone). Guru tidak lagi punya kekebalan atas kemenangan satu malam dari siswanya. Pameo tersebut tidak lagi berlaku di zaman now. Pembelajaran di kelas sepatutnya tidak lagi directive di mana guru memiliki peran authoritative dalam menentukan dan   mengajarkan pengetahuan kepada siswa. Menjadikan siswa hanya sebagai konsumen pelahap pengetahuan yang guru kucurkan. Guru harus mampu mendorong dan merangsang kecakapan abad 21 (kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif) dalam pembelajaran dan pemecahan masalah kehidupan nyatanya.

Guru diharapkan memainkan peran sentralnya dalam memfasilitasi dan memantik api belajar para siswanya. Fasilitasi pembelajaran ini memiliki peran sentral terhadap keberhasilan belajar siswa. Hambatan dan tantangan yang dihadapi siswa di kelas membutuhkan pemecah kebuntuan.

Peran tersebut bisa dilakukan seorang guru melalui sentuhan psikologis dan akademis.  Karena sosok guru yang diyakini mampu menggandeng tangan, membuka cakrawala pikiran, serta menyentuh hati yang rindu kebajikan. Akhirnya, selamat menginspirasi dunia.(*)

*) Guru SMAN 1 Glenmore Banyuwangi

(bw/mls/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia