Kamis, 17 Jan 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Genteng
Berkunjung ke Pesantren Al Ashriyah, Jalen

Pesantren Tertua, Pernah Disinggahi Syaikona Kholil Bangkalan

23 Mei 2018, 19: 15: 59 WIB | editor : Bayu Saksono

TERTUA: Gus Amak dengan masjid dan asrama santri peninggalan KH Abdul Basyar di Dusun Jalen, Desa Setail, Kecamatan Genteng.

TERTUA: Gus Amak dengan masjid dan asrama santri peninggalan KH Abdul Basyar di Dusun Jalen, Desa Setail, Kecamatan Genteng. (AGUS BAIHAQI/JPRG)

Pondok Pesantren Al Ashriyah di Dusun Jalen, Desa Setail, Kecamatan Genteng, disebut-sebut sebagai pesantren tertua di Kabupaten Banyuwangi. Didirikan oleh KH Abdul Basyar di tahun 1882, pesantren itu telah mencetak banyak kiai dan ulama. Berikut catatan wartawan Jawa Pos Radar Genteng AGUS BAIHAQI yang baru berkunjung ke pesantren itu.

Sudah lama saya ingin datang ke Pondok Pesantren Jalen atau Al Ashriyah di Dusun Jalen, Desa Setail, Kecamatan Genteng. Keiinginan yang kuat itu, karena pesantren ini banyak menyimpan sejarah. Selain pesantren yang pertama ada di Telatah Bumi Blambangan, sang kiai di pesantren itu KH Abdul Basyar, seorang pendekar asal Banten dengan ilmu yang tinggi, hingga Syaikona Kholil Bangkalan dikabarkan pernah belajar di pesantren itu hingga tiga tahun lamanya.

Meski sering melintas di sekitar Kampung Jalen, tapi baru Senin pagi (21/5), saya bisa sowan ke pesantren yang didirikan oleh KH Abdul Basyar pada 1882 itu. Pagi itu, suasana di pesantren sangat sepi. Di pintu masuk hingga dalam kompleks pesantren, nyaris tidak ada santri atau warga. Yang ada bangunan masjid besar bercat putih, tiga gedung asrama permanen dengan satu di antaranya berlantai dua, dan satu lagi asrama antik berada di utara masjid dengan dinding dari gedhek.

Saya agak lama berdiri di pintu masuk pesantren itu. Tidak tahu harus menemui siapa, rumah pengasuh pesantren juga tidak tahu. Sepertinya, hanya pesantren ini saya tidak mengenal keluarga pengasuhnya. “Bu nderek perso (numpang nanya), rumahnya Amak dimana ya,” tanya saya pada ibu yang baru keluar dari rumahnya persis di depan pesantren.

Amak ini teman saya saat belajar di IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta. Anaknya itu nyeleneh dan konon tinggal di sekitar Pesantren Jalen. “Ooh Gus Amak, rumahnya di barat rumah bangunan tua itu,” kata seorang ibu yang baru keluar dari rumahnya yang ada di depan pesantren.

Saat tiba di rumah yang ditunjukkan ibu tadi, ternyata sepi dan pintunya tertutup rapat. Setelah saya mengetuk pintunya, tidak lama muncul pria berkaca mata tebal dan masih mengenakan sarung. “Isih turu ta, Mak,” tanya saya sambil masuk ke rumahnya. Masih seperti dulu, Mamak hanya tertawa lebar.

Hampir dua jam saya dan Amak ngobrol santai di ruang tamu rumahnya sambil lesehan. Dari obrolan itu, saya baru tahu kalau Amak itu ternyata salah satu cicit dari KH Abdul Basyar. “Kakungku putrane mbah Basyar,” kata Amak sambil tertawa.

Ditanya pesantren yang didirikan buyutnya, Amak mendadak diam dengan sorot mata menatap masjid di tengah komplek pesantren.”Kata orang pesantren ini paling tua (di Banyuwangi), berdiri pada tahun 1880,” katanya.

Meski sebagai orang dalam, Amak mengaku tidak banyak tahu tentang pesantrennya itu. Hanya saja, buyutnya KH Abdul Basyar itu berasal dari Banteng, Jawa Barat. Sebelum ke Banyuwangi, belajar di pondok pesantren yang ada di Kediri dan Blitar. “Mbah Basyar ke Banyuwangi bersama 60 orang,” terangnya.

Saat datang ke Banyuwangi dan akhirnya menetap di Dusun Jalen, Desa Setail, saat itu masih berupa hutan belantara. Buyutnya bersama teman-temannya itu, akhirnya babat dan membangun rumah sederhana. “Datang ramai-ramai,” katanya.

Mbah Basyar mulanya tidak punya niat untuk membuka pesantren, tapi banyak yang berdatangan untuk belajar agama. Agar bisa belajar pada kiai, para santri membuat gubuk di sekitar rumah sang kiai tersebut. “Dulu santri membuat gotak’an (pondokan) sendiri,” terangnya.

Amak menunjukkan sejumlah bangunan asrama santri. Semua bangunan itu, dianggap baru dan dibangun mulai tahun 1960-an. “Kalau bangunan yang lama itu,” terang Amak sambil menunjuk bangunan panggung dengan dinding gedhek di utara masjid.

Bangunan lama itu dibangun oleh Kiai Basyar dan sengaja dipertahankan sampai kini. Sejak dibangun, sudah dua kali mengalami perbaikan, yakni sekitar tahun 1988 dan tahun 2004. “Model rumah sengaja dipertahankan keasliannya, sebagian kayu juga masih asli, kalau gedheknya banyak yang baru,” ungkapnya.

Mengenai kabar Syaikona Kholil Bangkalan pernah belajar pada Kiai Basyar, Amak mengaku tidak tahu. Malahan, keluarga besarnya juga tidak ada yang tahu. “Kita malah tidak tahu, kita tahunya dari orang-orang dan buku yang ditulis keluarga Lora Kholil Bangkalan,” katanya.

Amak menyebut kalau orang tua dan kakeknya, tidak pernah cerita mengenai Kiai Kholil Bangkalan yang pernah belajar pada Kiai Basyar. Bahkan, juga seperti enggan untuk menceritakan masa lalu pesantrennya. “Kakung itu kalau ditanya sejarah pesantren malah banyak tertawa,” ujarnya sambil tertawa.

Kakung yang disebut Amak itu adalah KH Mawardi. Pengasuh Pesantren Al Ashriyah yang ke-4, memimpin pesantren sejak 1960 hingga 2003. Kiai Basyar yang mendirikan pesantren itu berpulang pada tahun 1915, dan digantikan oleh dua menantunya KH. Abdul Manan dan KH Kholil. KH Abdul Manan kemudian pergi dan mendirikan Pondok Pesantren Minhajut Thulab, di Desa Sumberberas, Kecamatan Muncar. “Masa Kiai Basyar tidak ada nama pesantren, lalu di beri nama Pesantren Al Falah dan dirubah menjadi Pesantren Al Ashriyah,” terangnya.

Mengenai Syaikona Kholil Bangkalan pernah belajar pada Kiai Basyar, Amak mencoba mengotak-atik. “Pondok ini berdiri tahun 1880, sedang Kiai Kholil Bangkalan belajar di Banyuwangi selama tiga tahun itu pada tahun 1850-an,” ungkapnya.

Dengan nada serius, Amak menyampaikan sepertinya memang banyak yang sengaja dirahasiakan mengenai pesantrennya, termasuk Kiai Kholil Bangkalan yang dikenal walinya para wali pernah belajar di pesantrennya itu. “Aku juga tidak mengerti, ini sengaja dirahasiakan atau bagaimana,” cetusnya.

(bw/jpr/rbs/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia