Kamis, 15 Nov 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Features
Suka Duka Petugas Pemadam Kebakaran

Siaga 24 Jam, Terlambat Datang Kena Semprot

Kamis, 12 Apr 2018 17:04 | editor : Ali Sodiqin

SIAGA: Petugas regu pemadam kebakaran (PMK) Banyuwangi saat memeriksa kondisi mobil tangki penyuplai air

SIAGA: Petugas regu pemadam kebakaran (PMK) Banyuwangi saat memeriksa kondisi mobil tangki penyuplai air (Dedy Jumhardiyanto/Radar Banyuwangi)

Pantang pulang sebelum padam. Jargon itulah yang selalu disematkan petugas pemadam kebakaran (Damkar) Banyuwangi. Dalam menjalankan tugas, para penjinak api ini penuh dengan risiko. Namun, niat tulus itu kadang mendapat cemoohan warga karena terlambat  datang.

DEDY JUMHARDIYANTO, Banyuwangi

Dicemooh jika datang telat. Itu hal biasa dan kerap dirasakan oleh regu petugas Damkar Banyuwangi. Hampir dalam setiap peristiwa kebakaran di Banyuwangi.

Regu Damkar bisa dipastikan selalu dicemooh warga. Namun dengan cemoohan itu, justru menjadi pelecut semangat tersendiri bagi para ”pahlawan” penjinak api.

Salah satunya dirasakan oleh Adis, 54. Warga Lingkungan Pancoran, Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Glagah itu sudah bertugas sebagai pemadam kebakaran sejak tahun 1990 silam. Dia tergolong petugas yang senior dibanding petugas lainnya.

27 tahun bukan waktu yang singkat. Banyak suka, duka, dan pengalaman yang dialami selama menjadi petugas Damkar. ”Dicemooh saat baru datang, itu sudah makanan wajib.” ungkapnya.

Sejak menjadi petugas Damkar, Adis mengaku pernah tidak pulang selama beberapa hari. Saat itu ketika terjadi musibah tsunami di Pantai Pancer, Kecamatan Pesanggaran. Dia bersama petugas Damkar lainnya bukan untuk memadamkan api, melainkan ikut membantu petugas penanganan bencana tsunami. ”Saat itu, saya juga sempat ikut mengangkat jenazah para korban tsunami,” katanya.

Setelah beberapa hari terjadi bencana tsunami itu, dia mulai bertugas dengan menyuplai kebutuhan air bersih. Selain itu juga untuk membangun kembali rumah warga yang terkena musibah tsunami. Air bersih itu disedot dari Sungai Kendang Lembu, dan didistribusikan ke rumah-rumah warga.

Meski usianya sudah tak muda lagi, bapak dua anak itu terbilang masih cekatan dan sigap. Selain sebagai operator mobil Damkar, dia dikenal sebagai sopir yang berani dan paling teliti.

Menjadi driver mobil Damkar tidak sama seperti mengendarai mobil pada umumnya. Maklum, yang diangkut adalah air. Butuh kehati-hatian ekstra. Karena mengangkut air tidak sama dengan mengangkut barang. ”Kalau mengangkut barang diikat diam. Tapi kalau air, masih gerak-gerak. Apalagi jika jalannya bergelombang,” jelas kakek satu cucu ini.

Saat ada kebakaran, harus selalu siap dan sigap. Namun, dia masih prihatin dengan minimnya kesadaran pengendara mobil maupun motor di Banyuwangi. Karena saat mobil Damkar melintas dengan membunyikan sirene, masih ada sebagian pengendara justru tidak minggir atau memberikan jalan. ”Sirene sudah meraung-raung dan berulang kami klakson, tapi tetap saja tidak minggir. Kadang juga sampai tersulut emosi,” terangnya.

Tidak hanya dituntut sigap dan berani ambil risiko yang dihadapi, menjadi driver dan petugas Damkar juga harus menguasai medan atau lokasi daerah-daerah yang menjadi titik lokasi kebakaran. Selain itu juga harus mengetahui jalan pintas terdekat menuju titik lokasi kebakaran. ”Jika petugas tidak mengetahui titik lokasi nama dusun/desa yang terbakar bisa habis di jalan dan tidak segera sampai di lokasi. Maka harus mengenal medan jalan,” bebernya.

Kusnadi, 40, petugas Damkar lainnya mengatakan, karena dituntut siap, siaga dan sigap. Petugas Damkar juga harus siaga 24 jam nonstop. Agar selalu siap sedia memberikan pelayanan kepada masyarakat. Setiap harinya sudah diatur sesuai jadwal. ”Setiap harinya kita diatur satu regu yang terdiri dari enam orang,” ujarnya.

Dari enam orang petugas, satu regu  hampir semuanya mampu mengendarai mobil. Namun, dipastikan sudah ada driver khusus Hino. Karena mobil itu adalah mobil khusus sebagai penyemprot dengan daya semprot kuat. ”Mobil tangki hanya penyuplai air saja. Kalau Hino  mobil Damkar penyemprot,” ujarnya.

Daya semprot sangat penting, selain untuk menjangkau titik api. Kekuatan daya semprot mobil Damkar juga berpengaruh untuk membantu keselamatan petugas. Apalagi jika terjadi kebakaran hebat, dalam radius sepuluh meter tubuh petugas sudah terasa panas.

Oleh karenanya, seluruh peralatan harus dalam posisi siap. Termasuk kondisi mobil Damkar. Setiap ganti shift harus diperiksa ulang kondisinya dan tes dijalankan fungsinya.  ”Mobilnya tidak sekadar dipanasi tapi juga dijalankan. Jangan sampai mau berangkat akinya drop dan habis,” tandasnya terkekeh-kekeh.

(bw/ddy/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia