Selasa, 20 Nov 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Otomotif

Prihatin Sampah, Plastik Diolah Jadi BBM

Senin, 02 Apr 2018 11:25 | editor : AF. Ichsan Rasyid

MESIN BBM: Warga menunjuukan BBM hasil dari pengolahan sampah plastik.

MESIN BBM: Warga menunjuukan BBM hasil dari pengolahan sampah plastik. (RENDRA KURNIA/JAWAPOS.COM)

KALIPURO – Uji coba mesin destilator sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM) terus dilakukan. Meski hingga kini BBM yang dihasilkan belum 100 persen bisa digunakan, namun bulan ini riset pengolahan BBM dari sampah ditarget sudah tuntas.

Kepala Desa Ketapang, Slamet Kasihono mengatakan, awal pembelian alat pengolah sampah itu muncul dari keprihatinannya kepada jumlah sampah yang ada di wilayahnya. Setiap bulan, menurutnya ada ratusan kuintal sampah yang diproduksi. Mulai dari wilayah pelabuhan, terminal, industri sampai rumah tangga. Beberapa dari sampah tersebut dibuang warga ke sungai hingga ke laut.

Sadar akan bahaya dampak tersebut, dia kemudian mendatangkan sebuah destilator dari Blitar. Alat itu kemudian perlahan-lahan digunakannya untuk mengolah sampah plastik yang dihasilkan oleh rumah tangga.

“Kita tidak mungkin bisa mengolah semua sampah, tapi minimal sampah yang tidak bisa diurai seperti plastik ini kita olah,” ujar Slamet. Destilator ini bisa diisi 50 kilogram sampah dalam sekali proses. Waktunya memang cukup lama, untuk satu kali pembakaran, dibutuhkan minimal 5 jam sampai plastik bisa menjadi BBM.

Sampah plastik sendiri dikumpulkan dari masyarakat sekitar. Warga diminta mengumpulkan sampah plastik kepada koordinator PKK. Nanti setiap sampah plastik akan dihargai Rp 1000 hingga Rp 2500 per kilogramnya. Dengan catatan, sampah plastik tidak mengandung alumunium foil seperti plastik minuman.

“Per 10 kilogram sampah dihasilkan 7 liter solar, 1 liter bensin, dan 1 liter minyak tanah. Tapi itu juga belum bisa langsung digunakan. Perlu ada penambahan oktan dan bahan khusus sampai BBM hasil pengolahan sampah bisa digunakan. Plastiknya bisa semua. Mulai bekas pecahan ember, bungkus mi, styrofoam, dan botol kecap,” terang pria asal Kelurahan Karangrejo itu. Saat ini, BBM hasil olahan plastik masih dalam tahap uji coba.

Petugas yang mengoperasikan mesin berulangkali melakukan eksperimen. Mulai dari bahan bakar yang digunakan untuk menghidupkan mesin, sampai campuran agar BBM bisa jernih. “Bahan bakarnya pernah kita coba pakai oli bekas, tapi malah kepanasan. Sekarang kita gunakan LPG, ini sudah mulai cocok. Tinggal formula penjernih saja,” imbuhnya.

Slamet juga mengatakan pernah mencoba premium dari hasil pengolahan sampah untuk sepeda motor miliknya. Hasilnya menurutnya sudah cukup bagus. Kendaraannya bisa berjalan dengan baik. “Sekarang tinggal menguji coba solar sama minyak tanahnya. Premiumnya kemarin sudah bagus. Sayangnya produksinya sedikit. Yang paling banyak solar,” tegasnya.

Dia pun berharap dalam dua minggu ke depan, BBM hasil pengolahan sampah plastik ini bisa mulai digunakan secara masal. Minimal home industry yang ada di sekitar Ketapang bisa menggunakan BBM tersebut. “Sudah banyak yang minat. Baik solar maupun minyak tanahnya. Cuma kita ingin ini diuji dulu sampai benar-benar baik. Baru setelah itu kita pasarkan,” tandas bapak tiga anak itu. (fre)

(bw/fre/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia