Minggu, 21 Oct 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Features
Aplikasi Kamus Osing-Indonesia Online

Tuntas 60 Persen, Tersedia 25.000 Kosa Kata

Sabtu, 31 Mar 2018 18:12 | editor : Ali Sodiqin

KREATIF: Tiga dosen Poliwangi pembuat aplikasi Kamus Osing-Indonesia, (dari kiri) Muh. Fuad Al-Haris, Eka Mistiko Rini, dan Devit Suwardiyanto.

KREATIF: Tiga dosen Poliwangi pembuat aplikasi Kamus Osing-Indonesia, (dari kiri) Muh. Fuad Al-Haris, Eka Mistiko Rini, dan Devit Suwardiyanto. (Chin Jullien For Radar Banyuwangi)

Tiga dosen teknik informatika Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi) berhasil menciptakan kamus online bahasa Osing-Indonesia. Seperti apa kamus online berbasis web dan tersebut?

CHIN JULLIEN, Rogojampi

TIGA dosen TI Poliwangi ini memiliki cara yang berbeda untuk membuat bahasa Osing tetap eksis. Mereka menciptakan kamus Osing-Indonesia online. Eka Mistiko Rini, 32, salah satu peneliti mengatakan, gagasan membuat kamus bahasa Osing Online ini berawal dari keprihatinan mereka atas menurunnya pengguna bahasa Osing di Bumi Blambangan sendiri.

“Lihat saja, sehari-hari kita jarang melihat orang menggunakan bahasa Osing, walaupun mereka berada di teritorial pengguna bahasa Osing aktif. Mereka lebih banyak menggunakan bahasa Jawa,” terang Eka Mistiko Rini, dosen asal Desa Rejosari, Kecamatan Glagah, yang termasuk salah satu penggagas kamus bahasa Osing-Indonesia online tersebut.

Eka mengakui, dirinya juga sempat terperangah ketika beberapa waktu silam membuka salah satu buku ayahnya yang berbahasa Osing. Ayahnya yang seorang guru SD tersebut masih menyimpan buku panduan bahasa Osing. “Dulu seingat saya ada muatan lokal bahasa Osing. Tetapi, entah sekarang masih ada atau tidak. Kalau masih ada, kok anak-anak sekarang jarang yang menggunakan bahasa daerah sendiri ya,” ujar Eka.

Dosen lain, Muhammad Fuad Al-Haris, 36, juga menyayangkan bahasa Osing yang mulai jarang digunakan dalam kegiatan sehari-hari. “Ya, sayang sekali. Kita lihat pengguna bahasa Osing aktif kebanyakan orang tua. Sisanya lebih memilih menggunakan bahasa Jawa untuk komunikasi sehari-hari,” tutur lelaki yang akrab disapa Haris itu. 

Menurut Haris, bahasa Osing sebagai bahasa induk harus dilestarikan. Dari 24 kecamatan di Banyuwangi, sekitar 13 kecamatan merupakan wilayah yang masyarakatnya aktif menggunakan bahasa Osing. Dari fakta itu, timbul gagasan menciptakan wadah yang bisa melestarikan bahasa Osing berupa aplikasi kamus online bahasa Osing-Indonesia.

Aplikasi kamus bahasa Osing-Indonesia online itu memudahkan pengguna menerjemahkan bahasa Osing ke dalam bahasa Indonesia. Para pengguna bisa dengan mudah menggunakan kamus online tersebut di mana saja. Sebab, selain berbasis website yang bisa dijalankan menggunakan browser, tim peneliti ini juga menciptakan kamus bahasa Osing-Indonesia dengan basis android. Artinya, kamus ini lebih mobile karena bisa digunakan di smartphone yang menggunakan operating system (OS) android.

Minimum requirement versi android untuk aplikasi kamus ini adalah android versi 4 (ice cream sandwich). Aplikasi kamus Osing-Indonesia yang berbasis android ini bisa diunduh secara gratis melalui media playstore. Setelah diunduh, aplikasi dengan format .apk tersebut di-install bisa digunakan tanpa harus terkoneksi dengan internet. Untuk mengunduh sendiri, kata kunci pencarian adalah Banyuwangi atau Poliwangi.

Cara penggunaannya pun relatif mudah dan cepat. Dengan memasukkan kata yang dicari ke dalam kolom pencarian dan menekan tombol terjemah, maka hasilnya akan langsung keluar dilayar pengguna aplikasi. Tidak hanya arti dan makna, tetapi penjelasan beserta contoh juga akan muncul.

Untuk merancang aplikasi yang resmi dirilis Senin (8/12) lalu ini, mereka membutuhkan waktu lima bulan. “Membuat programnya hanya membutuhkan waktu satu bulan,” terang Devit Suwardiyanto, 31, salah satu anggota tim peneliti.

Devit yang berasal dari Malang yang kini menetap di Kecamatan Genteng itu mengakui kendala tersulit bagi mereka bertiga adalah menyempatkan waktu bersama. Selain itu, kesulitan berikutnya adalah ketika harus mencari literatur bahasa Osing yang terbatas. Akhirnya, mereka berusaha mencari literature bahasa Osing di Perpustakaan Daerah Banyuwangi. “Sebelumnya, kami juga sempat mencari kamus bahasa Osing-Indonesia di toko buku, tapi kami baru tahu bahwa kamus tersebut tidak dikomersilkan,” ujar Eka.

Kemudian, mereka bekerja sama dengan Dewan Kesenian Blambangan (DKB) demi mendapatkan literatur bahasa daerah dan arahan dari ahli bahasa Osing.

Kamus bahasa Osing-Indonesia yang di susun alm. Hasan Ali menjadi salah satu literatur penelitian mereka. Proses input data juga menjadi kendala selama membangun aplikasi tersebut. “Kami meng-input kosa kata dengan cara manual, jadi membutuhkan waktu cukup lama,” jelas Devit.

Saat ini ada 25.000 kosa kata yang tersedia di kamus bahasa Osing-Indonesia online itu. Setiap satu suku kata tersebut memiliki struktur berupa arti, penjelasan, dan contoh penggunaan kata dalam kalimat. Menurut mereka bertiga, jumlah kosa kata yang sekarang baru 60 persen dari target. “Kita tidak bisa mengerjakan penelitian ini sendiri tanpa ada campur tangan pihak terkait. Saat ini kami sudah melakukan koordinasi dengan DKB untuk menyempurnakan kekurangan program kami, terutama dari segi bahasa, karena kami menyadari kami bukan ahli bahasa,” jelas Haris.

Oleh karena itu, mereka juga menciptakan forum diskusi dengan nama forum.using.id untuk berdiskusi mengenai bahasa. “Siapa saja bisa berdiskusi di situ. Barang kali ada suku kata yang luput kita masukkan database,” tambah Haris.

Aplikasi kamus Osing-Indonesia ini menggunakan pemrograman HTML dan PHP dan berbasis android. Mereka bertiga mengakui masih banyak kekurangan dalam aplikasi ciptaan mereka. Oleh karena itu, mereka masih terus melakukan penelitian hingga aplikasi tersebut minim dari kelemahan.

Saat ini mereka berharap dukungan dari pemerintah dan pihak terkait, seperti DKB, untuk menyempurnakan kekurangan aplikasi tersebut. Ke depan, mereka ingin menambahkan tool berupa voice dan terjemahan dalam bahasa Inggris. “Kami ingin ke depan nanti kita juga punya tool voice. Karena seperti kita ketahui, walaupun dalam penulisan sama. pelafalan bahasa Osing hampir berbeda di setiap daerah, karena terpengaruh logat,” jelas Haris.

Rencana menambahkan terjemahan bahasa Inggris, disebabkan tim peneliti memiliki target aplikasi mereka bisa digunakan wisatawan mancanegara. Harapannya, wisatawan yang tertarik dengan budaya Banyuwangi tidak hanya menikmati budaya secara visual, tapi juga bisa dengan mudah berinteraksi menggunakan bahasa Osing.

Terkait hal itu, mereka ingin berkontribusi dengan upaya pemerintah dalam membangun ekonomi berbasis pariwisata. “Aplikasi ini juga kredibel untuk dikomersilkan ke wisatawan asing,” tambah Haris.

Oleh karena itu, dia berharap pemerintah gencar memublikasikan aplikasi mereka. “Misalkan pemasangan banner, baliho di titik-titik sentral pariwisata. Keseriusan mereka untuk melestarikan bahasa Osing ternyata tidak sebatas menciptakan kamus Osing-Indonesia online.

Tim peneliti itu juga ingin pemerintah memiliki program “Dino Osing” atau sejenis English Day yang dilaksanakan di birokrasi atau instansi. “Jadi tidak hanya English Day saja, kalau bisa di SKPD atau di sekolah-sekolah ada hari khusus berbahasa Osing,” pungkas Eka.

(bw/als/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia