Kamis, 15 Nov 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Features
Yang pertama laku, yang Kedua Tidak Mau Dijual

Mulyono, Pasangi Sepeda Ontel dengan Mesin Motor

Rabu, 07 Mar 2018 15:05 | editor : AF. Ichsan Rasyid

TAMPIL BEDA: Mulyono menaiki sepeda ontel yang dipasangi mesin motor.

TAMPIL BEDA: Mulyono menaiki sepeda ontel yang dipasangi mesin motor. (HABIBUL ADNAN/JAWAPOS.COM)

Urusan modifikasi, Mulyono cukup jago. Karya terbarunya, dia memasangi mesin motor di sepeda ontel yang dibelinya. Sudah ada dua sepeda yang dipasangi mesin motor.

HABIBUL ADNAN, Situbondo

Awalnya, Mulyono tidak ada niat sama sekali untuk membuat sepeda ontelnya seunik itu. Dia hanya berkeinginan memiliki sepeda yang bisa dipakainya berolaharga.

Akan tetapi setelah dibeli, sepeda tersebut tidak pernah digunakan. Penyebabnya, tidak ada waktu untuk berolahraga. Sebab, Mulyono selalu ada kesibukan di bengkelnya. Sepeda tersebut hanya tergantung.

Mulyono menceritakan, lama kelamaan, ada temannya yang menawarkan membeli mesin motor yang tidak terpakai. “Teman saya yang punya sepeda ulung diganti mesinnya dengan mesin grand. Dari pada mesin ulung nggak dipakai, akhirnya saya beli dengan harga Rp.400 ribu,” katanya.

Dari sinilah insiatif tersebut muncul. Pria asal Desa Kalibagor, Kecamatan Situbondo itu berkeinginan membuat sepeda ontel yang sudah dibelinya menjadi lebih unik. “Akhirnya, mesin ulung itu saya pasang di sepeda ontel,” katanya.

Dia mengatakan, modifikasinya tidak membutuhkan waktu terlalu lama. Hanya dua minggu semuanya sudah terpasang. Sepeda ontel tersebut bisa dijalankan menggunakan mesin.

Setelah jadi, banyak yang berminat membelinya. Mulyono tidak mau menjualnya. Akan tetapi karena tawaran terus berdatangan, sepeda unik tersebut akhirnya berpindah tangan ke orang lain. “Laku dengan harga Rp.2,5 juta,” terangnya.

Setelah sepedanya dijual, Mulyono berkeinginan memodifikasi dengan bentuk yang sama. Karena itu, dia mencari mesin motor yang tidak terpakai. “Setelah dapat, saya beli sepeda ontel lagi,” katanya. 

Proses pengerjaannya sama dengan sepeda sebelumnya. Modelnya tidak jauh berbeda. Hanya butuh waktu dua minggu menyelesaikan modifikasi uniknya itu. “Tetapi kalau yang sekarang ini tidak saya jual,” ujar pria 46 tahun itu.

Sudah banyak yang berminat dengan buah tangan Mulyono. Beberapa orang datang ke rumahnya untuk menawarkan ontel yang dijalankan tanpa diayuh itu. “Bahkan, ada orang Jember yang membuntuti saya dari Bondowoso sampai Situbondo,” katanya.

Tujuannya, ternyata ingin membeli sepeda ontel milik Mulyono. Sebab, sesampai di rumahnya, orang yang membuntuti Mulyono ikut turun. “Dia menawarkan untuk dibeli, tetapi saya tolak,” tambahnya.

Orang yang lebih banyak datang ke rumahnya adalah mereka yang suka dengan barang-barang unik. “Sampai-sampai ditawar dengan harga Rp.3,5 juta, tapi saya tidak pernah tergiur,” katanya.

Sepeda ontel milik Mulyono bertangki kecil. Ukurannya  seperti pompa sepeda. Tangki tersebut hanya bisa diisi bensin satu liter. “Dengan satu liter itu bisa pulang pergi dari Pantai Pathek sampai Desa Kalibagor. Tidak perlu ngisi lagi,” terangnya.

Keunikan yang lain, Mulyono tidak memasangi sok, layaknya sepeda motor. Sedangkan klaksonnya menggunakan klakson truk. “Biar klasiknya ada, tetapi tetap keren,” katanya.

Sementara itu, Mulyono mengatakan, ketika dirinya mengendarai sepeda ontelnya, selalu menjadi perhatian orang banyak. Misalnya, beberapa orang mengikutinya dari belakangnya, “Kalau jalan-jalan, pasti ada yang foto-foto dari belakang,” pungkasnya. (*)

(bw/bib/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia