Selasa, 20 Nov 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Opini Sabtu

Bonus Demografi Perlu Solusi

Sabtu, 03 Mar 2018 08:30 | editor : AF. Ichsan Rasyid

Bonus Demografi Perlu Solusi

MENTERI Ketenagakerjaan (Kemenaker) Hanif Dhakiri menyatakan, tahun 2030 nanti, Indonesia akan mencapai puncak bonus demografi. Artinya di tahun itu, anak muda akan mendominasi. Hanif melihat ini bisa jadi berkah sekaligus bisa menjadi kutukan.

Mengingat angka 70 persen membuktikan anak muda akan menjadi ledakan yang harus dapat disikapi oleh Kemenaker. Maka, jika hal itu ditangani dengan baik para generasi muda akan dapat bersaing di dunia pekerjaan baik lokal maupun global.

Tetapi sebaliknya, Hanif melihat itu juga dapat menjadi kutukan apabila angkatan kerja muda tidak punya kapasitas yang mumpuni. Sehingga, tidak dapat bersaing di dunia kerja. Ditambah lagi, mereka mengonsumsi narkoba. (Jawa Pos, 12 Desember 2017)

Pembahasan tentang bonus demografi sepertinya menjadi topik yang terus diangkat dalam setiap kelas diskusi yang penulis ikuti. Bonus demografi ditandai dengan dominasi jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) atas jumlah penduduk tidak produktif yang bisa dilihat dari angka rasio ketergantungan yang rendah.

Rasio ketergantungan itu sendiri merupakan perbandingan antara jumlah penduduk usia tidak produktif dan jumlah penduduk usia produktif.  Merujuk pada grafik dari Badan Pusat Statistik (BPS) di laman www.bps.go.id, Rasio Ketergantungan Penduduk Indonesia sejak 1971 hingga 2016 tercatat 48,4%.

Hal itu dapat ditafsirkan bahwa 48 - 49 orang tidak produktif (terdiri atas anak-anak usia 1-15 tahun dan orang-orang tua usia 64 tahun ke atas) akan ditanggung atau ditopang kehidupannya oleh 100 orang usia produktif.

Rasio ketergantungan 2016 itu juga sudah jauh berkurang dibandingkan angka pada 1971 yang sebesar 86%. Dari grafik rasio ketergantungan itu terlihat pula bahwa rasio ketergantungan telah turun di bawah 50% sejak tahun 2012. Hal itu menunjukkan sebuah tren positif bagi perkembangan negeri ini.

Data tersebut  berimplikasi pada sumber daya manusia (SDM) usia produktif di Indonesia akan menjadi mayoritas pada 2030. Berdasar laporan berjudul Unleashing Indonesia’s Potential dari McKinsey Global Institute 2012, Indonesia diprediksikan berada di urutan tujuh perekonomian dunia pada 2030.

Kaitan di antara usia produktif dan perekonomian, tidak lain bahwa masyarakat berusia produktif yang akan membawa merealisasikan prediksi itu. Pertanyaannya, mampukah? Sedangkan apakah yang bisa dilakukan mereka yang disebut sebagai kaum produktif sejak sekarang? Apakah ada faktor penghambat yang bisa diminimalkan mulai dari sekarang?

Kaum produktif, yang tidak lain berasal dari golongan generasi milenial (lahir 1980-2000) dan generasi- Z (lahir 2000-2014), adalah mereka yang akan bersinggungan langsung dengan masa bonus demografi tersebut.

Belajar dari Negara Lain

Hemat penulis, perlu berbagai upaya untuk meraih bonus demografi tersebut sebagai upaya memaksimalkan potensi yang ada. Mengingat beberapa negara berhasil memanfaatkan bonus demografi tersebut seperti China dan Korea Selatan (Korsel) dalam memanfaatkan kondisi bonus demografi.

Kedua negara tersebut berhasil memanfaatkan kelebihan jumlah penduduk usia produktif dengan persiapan dari seluruh stakeholder, sehingga dapat menjadi seperti saat ini. Berdasar pengamatan penulis yang tinggal di Kecamatan Glenmore, Banyuwangi, bonus-bonus semacam itu tampaknya sudah mulai terasa.

Namun ironisnya, hal itu belum terbaca baik dan persiapan yang kurang matang berakibat usia produktif yang siap kerja tersebut mayoritas justru lebih memilih merantau di luar Banyuwangi daripada terus bertahan di tanah kelahiran untuk memanfaatkan segala sumber daya yang  ada.

Walhasil, banyak dijumpai jika saat ini yang bekerja di sektor perkebunan di Kecamatan Glenmore tidak sedikit yang sudah berusia senja yang seharusnya memasuki masa pensiun. Hal tersebut yang menjadikan ironi tersendiri bagi bonus yang digadang-gadang menjadi berkah bagi negeri ini jika tidak dipersiapkan sejak dini.

Sebenarnya untuk memanfaatkan bonus demografi itu, perlu persiapan jangka panjang pemerintah seperti pembentukan karakter dan kualitasnya anak sejak dini. Oleh karena itu, mulai saat ini, generasi muda harus mempersiapkan diri agar mampu bersaing meraih kesempatan kerja.

Ada empat cara agar bonus demografi itu bisa tercapai. Pertama, suplai tenaga kerja produktif yang besar harus diimbangi dengan lapangan pekerjaan sehingga pendapatan per kapita naik dan bisa menabung yang akan meningkatkan tabungan nasional.

Kedua, tabungan rumah tangga diinvestasikan untuk kegiatan produktif. Sehingga perputaran uang akan terus berlangsung yang hal itu akan berimplikasi terhadap neraca perdagangan negara.

Ketiga, jumlah anak sedikit memungkinkan perempuan memasuki pasar kerja. Hal itu membantu peningkatan pendapatan dalam keluarga.

Keempat, anggaran pemerintah yang sebelumnya dipakai untuk anak usia 0 - 15 tahun karena jumlah berkurang, bisa dialihkan untuk peningkatan Sumber Daya Manusia untuk usia 15 tahun ke atas seperti untuk pelatihan, pendidikan, dan upaya pemeliharaan kesehatan remaja terutama kesehatan reproduksi dan penanggulangan perilaku tidak sehat seperti alkohol, narkoba, rokok, dan seks bebas. (*)

*) Warga Afdelling Kalitajem, Glenmore, Banyuwangi.

(bw/mls/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia