Sabtu, 23 Mar 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Genteng

Petani Resah, Harga Ubi Jalar Turun Bebas

17 Februari 2018, 18: 30: 59 WIB | editor : Bayu Saksono

MERUGI: Holibin memanen ubi jalar di sawah Dusun Sukorejo, Desa Lemahbang Kulon, Kecamatan Singojuruh, kemarin (16/2).

MERUGI: Holibin memanen ubi jalar di sawah Dusun Sukorejo, Desa Lemahbang Kulon, Kecamatan Singojuruh, kemarin (16/2). (BAGUS RIO/JPRG)

SINGOJURUH – Para petani ubi jalar banyak yang mengeluh. Sebab, saat mulai musim panen harganya menurun. Sebulan yang lalu harganua maish bertahan di angka Rp 1.500 per kilogram, kini melorot jadi Rp 500 per kilogram.

Salah satu petani ubi jalar asal Desa Lemahbang Kulon, Keca­matan Singojuruh, Sukirno, 52, mengatakan untuk operasional me­nanam ubi di lahan dengan luas satu hectare, itu membutuhkan biaya sekitar Rp14 juta. Dengan harga hanya Rp 500 per kilogram, itu membuatnya bangkrut. “Harga sekarang hancur,” katanya.

Petani lainnya, Holibin, 34, asal Dusun Pekiwen, Desa Gumuk­agung, Kecamatan Rogojampi, me­ngatakan harga jual ubi jalar yang jatuh itu tidak mengun­tungkan bagi petani dengan modal kecil. “Turunnya harga itu ber­tahap,” ujarnya.

Merosotnya harga ubi jalar itu, terang dia, diduga karena sejak tiga bulan lau ada panen besar di daerah Kabupaten Jember dan Lumajang. Dan itu, membuat stok di pasaran menumpuk. “Pe­dagang di Bali stoknya masih banyak,” ungkapnya.

Untuk menyikapi jatuhnya harga itu, sejumlah petani sudah me­lakukan berbagai antisipasi di antaranya tidak memanen dulu, sambil menunggu harganya naik lagi. “Kita tunggu lama harga tidak naik juga, akhirnya ya kita panen,” cetus.

Gara-gara ditunda saat memanen itu, masih kata dia, ubi jalar yang dipanen itu ukurannya jadi besar. Dan ubi itu juga banyak yang pecah-pecah. “Ubi yang berukuran besar dan pecah tidak laku dijual ke Bali,” terangnya.

Harga ubi yang murah itu, lanjut dia, ada petani yang tidak me­manen. Sebab, mereka ter­ancam bangkrut. “Untuk mem­bayar orang memanen itu butuh dana sebesar Rp 13 ribu per karung, kalau harga jual rendah bisa rugi,” dalihnya. (*)

(bw/rio/rbs/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia