Rabu, 24 Oct 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Tips & Trik
Pil Trek, Antara Efek & Manfaat (1)

Obat untuk Terapi Parkinson dan Gangguan Jiwa

Kamis, 15 Feb 2018 16:44 | editor : Ali Sodiqin

Ilustrasi

Ilustrasi (JawaPos.com)

Penyalahgunaan trihex, treks, atau trex, atau nama lengkapnya triheksifenidil (trihexyphenidyl) atau sering disingkat dengan nama THP atau THD ternyata cukup memprihatinkan. Banyaknya kasus penyalahgunaan obat berciri khas warna putih dan ada logo Y di atasnya itu cukup marak di Banyuwangi. 

Hampir setiap pekan, jajaran Satnarkoba Polres Banyuwangi mendapatkan pelaku penyalahgunaan obat daftar G ini. Tidak hanya didominasi kalangan muda saja. Pelaku penyalahgunaannya pun sudah merambah sampai kalangan orang tua, bahkan ibu-ibu rumah tangga. Data di Polres Banyuwangi selama kurun waktu 2016 saja tercatat ada ribuan pil yang merupakan obat daftar G itu berhasil diamankan dari pelakunya. Tercatat ada 17.960 butir pil trek yang berhasil disita dan diamankan.

Selanjutnya, di awal tahun 2017 ini, penyalahgunaan pil tersebut masih terus terjadi. Polres Banyuwangi kembali mengamankan ribuan pil trek dalam operasi Tumpas Semeru 2017. Pil yang diamankan mencapai 1.663 butir dalam periode Januari hingga 13 Februari 2017 lalu. Angka ini bisa jadi terus bertambah seiring makin banyaknya pelaku yang diamankan.

Fakta menarik yang dapat diketahui kemudian apa sejatinya pil yang bernama trek ini. Untuk apa sebenarnya obat ini diproduksi dan khasiat yang diberikan secara medis.  Dalam kacamata medis, trihexyphenidyl merupakan obat untuk mengatasi gejala penyakit parkinson dan juga digunakan untuk mengurangi efek samping obat antipsikotik pada pasien gangguan jiwa berat (psikotik, skizofrenia).

Dokter Klinik Psikiatri RSUD Blambangan dr Agustina Sjenny, Sp Kj membeberkan penyakit parkinson merupakan penyakit degenerasi saraf atau penurunan fungsi saraf yang bersifat kronis progresif (berkembang terus). Parkinson biasanya terjadi pada usia lanjut (di atas 50 tahun). Gejala penyakit parkinson adalah gangguan gerakan. Misalnya tremor atau gemetar, gerakan melambat dan kaku, atau adanya ketidakstabilan postur.

Gangguannya terjadi pada sistem saraf dopaminergik, yang berperan dalam fungsi gerakan tubuh. Pasien mengalami kekurangan neurotransmiter dopamin yang dapat  menimbulkan ketidakseimbangan aksi neurotransmiter lain yaitu asetilkolin, yang menjadi berlebihan. Kelebihan aksi asetilkolin ini menyebabkan efek-efek yang disebut aksi kolinergik, seperti keluarnya air liur berlebihan (salivasi), otot-otot menjadi kaku.

Ini dapat dilihat pada wajah penderita parkinson tampak kaku seperti memakai topeng. Penyakit ini tidak bisa disembuhkan. Namun bisa diperlambat perkembangannya dengan pemberian obat-obatan yang bisa meningkatkan ketersediaan dopamine dan untuk mencegah aksi kolinergik. Obat yang dipakai adalah obat golongan antikolinergik, seperti triheksifenidil.

Sedangkan pada pasien gangguan jiwa, dijelaskan dr Agustina Sjenny, SpKj, skizofrenia merupakan salah satu jenis gangguan jiwa yang ditandai dengan adanya gejala halusinasi, delusi (waham), disorganisasi pikiran, dan juga kadang disertai gangguan perilaku. Secara neurobiologi, skizofrenia disebabkan karena ketidak-seimbangan neurotransmiter dopamin di otak.

Obat yang dipakai untuk mengobati skizofrenia disebut obat anti psikotik, misalnya haloperidol, klorpromazin, risperidone, clozapine, dan masih banyak lagi. Obat ini bekerja dengan cara menekan aksi dopamin, sehingga efek samping obat ini mirip seperti kondisi kekurangan dopamin dan kelebihan aksi asetilkolin  pada pasien parkinson, yang disebut sebagai pseudoparkinson atau parkinson semu atau disebut juga  efek samping ekstrapiramidal.

Gejalanya antara lain berupa produksi air liur yang berlebihan, kekakuan otot, tremor, dan gerakan-gerakan tubuh yg tidak terkendali. Ketidak patuhan berobat pasien skizofrenia, mereka harus menggunakan obat anti psikotik dalam jangka panjang. Oleh karena itu, untuk mecegah dan mengatasi efek samping tersebut, pasien sering diberi obat seperti triheksifenidil atau THP ini.

Jadi, obat THP digunakan bersama-sama dengan obat antipiskotik untuk mencegah dan mengatasi timbulnya efek samping ekstra piramidal.

(bw/nic/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia