Selasa, 20 Nov 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Opini Sabtu

Gradasi Lalu Lintas di Jalur Protokol Banyuwangi

Sabtu, 10 Feb 2018 12:24 | editor : AF. Ichsan Rasyid

Gradasi Lalu Lintas di Jalur Protokol Banyuwangi

PERKEMBANGAN lalu lintas di wilayah perkotaan di Banyuwangi mulai tampak menunjukkan gradasi menuju perkotaan padat kendaraan. Kepadatan itu tampak di sejumlah jalan protokol Banyuwangi yang mengakibatkan lalu lintas tersendat.

Kepadatan lalu lintas di perkotaan besar seperti Semarang, Surabaya, dan Jakarta, utamanya disebabkan oleh volume kendaraan. Namun, berbeda dengan situasi di Banyuwangi. Kepadatan lalu lintas justru dilakukan akibat habit masyarakat yang cenderung negatif, yakni dengan memarkir kendaraan di zona larangan parkir.

Tidak hanya di wilayah perkotaan Banyuwangi, kawasan depan Pasar di Banyuwangi seperti Pasar Genteng, Pasar Rogojampi, dan Pasar Kalibaru, juga memiliki kompleksitas masyarakat yang tinggi dalam hal kepadatan kendaraan saat jam-jam sibuk dengan permasalahan yang sama. Problemnya yakni kurangnya kesadaran masyarakat untuk malu saat melanggar aturan berlalu lintas. 

 

Budaya Malu

Jika melihat realitas kehidupan di Indonesia saat ini, ternyata rasa malu juga menjadi barang langka di negeri ini, tidak terkecuali di Banyuwangi. Rasa malu tidak hanya terkikis bahkan habis pada semua level masyarakat Indonesia. Malu merupakan identitas budaya timur, sekaligus sifat asasi dari manusia

Padahal rasa malu itulah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Dalam konteks ini, malu yang dimaksud ialah malu dalam kerangka pendekatan budaya yang bermakna positif. Bahwa rasa malu sudah menjadi karakter pada masyarakat dan rasa malu memengaruhi pola hidup masyarakat itu sendiri sehingga menjadi suatu budaya.

Ironisnya di Indonesia, budaya malu justru menjadi barang yang semakin langka. Budaya malu tidak hanya kian terkikis, bahkan nyaris habis hampir tak tersisa di kehidupan seluruh level masyarakat. Tak terbilang seruan dari sejumlah kalangan agar kita menjadikan budaya malu sebagai panduan dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara termasuk malu melanggar lalu lintas.

Saat ini kemajuan dan kesuksesan sebuah bangsa amat ditentukan seberapa kuat budaya malu mempengaruhi perilaku masyarakatnya. Semakin maju sebuah bangsa, semakin kuat budaya malu mereka. Semakin beradab sebuah bangsa, semakin kukuh budaya malu menjadi pijakan mereka dalam kehidupan sehari-hari. Itulah yang secara gamblang ditunjukkan negara-negara maju termasuk dalam beraktivitas di jalan raya.

Sebenarnya bahaya laten dalam berlalu lintas justru sering dianggap sepele, namun mengakibatkan ribuan korban per tahunnya yaitu dalam berkendara yang mengabaikan rambu larangan di suatu lokasi. Selain itu tata tertib lalu lintas masih sering banyak terlihat masyarakat sering tak menghiraukan hal tersebut.

Tercatat kecelakaan lalu lintas di Jawa Timur sepanjang 2017 lalu menelan 5.700 korban meninggal dunia. Jumlah korban ini berdasar 26.000 laporan kecelakaan lalu lintas yang dilaporkan ke polisi di wilayah Kepolisian Daerah Jawa Timur.

Tanpa disadari, tindakan mereka membahayakan pengendara lainnya dan juga dirinya sendiri. Hal ini juga merupakan sebuah fenomena di mana masyarakat yang melakukan hal tersebut kurang memiliki kesadaran. Juga hilangnya rasa malu pada dirinya, bahwa tindakan yang mereka lakukan akan mempermalukan diri sendiri.

Selanjutnya masih dalam berkendara, seringkali penulis melihat para pengguna kendaraan bermotor, roda dua maupun kendaraan roda empat kerap memarkir kendaraannya di sembarang tempat. Terkadang di area larangan parkir, terkadang parkir di pinggir jalan raya, dan hal itu dilakukan tanpa menyadari akan bahaya yang menimpa orang lain.

Kondisi seperti itu juga merupakan kurangnya kesadaran dalam diri pribadi untuk lebih melakukan sesuatu sesuai dengan aturan atau pun ketentuan yang telah ditetapkan dan dijalankan sebagaimana mestinya.

Beberapa permasalahan dan fenomena di atas merupakan salah satu kondisi di mana rasa malu sudah tidak lagi diperhitungkan oleh sebagian besar masyarakat, dan keadaan di atas terjadi di mana-mana hampir di semua wilayah di Indonesia, tak terkecuali di Banyuwangi.

Hal tersebut tidak pelak memaksa Dinas Perhubungan (Dishub) Banyuwangi mewacanakan pemberlakuan Traffic Voice atau Voice Announcer (VA). Peralatan rambu-rambu peringatan dengan suara yang akan dipasang di sejumlah titik di Banyuwangi.

 

Sadar Larangan Parkir

Mengutip Radar Banyuwangi edisi Jumat 5 Januari 2018, Kepala Bidang Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ) Dinas Perhubungan dan Persandian Banyuwangi, Hendra Lesmana memastikan, sebagai langkah awal Traffic Voice tersebut untuk sementara akan dipasang di sepanjang Jalan Ahmad Yani Banyuwangi. Hal ini guna mengurai kepadatan arus lalu lintas di jalan protokol.

Sebagian masyarakat Banyuwangi mungkin merasakan kepadatan saat melintas di sepanjang jalur itu yang merupakan salah satu kawasan titik padat arus lalu lintas. Apalagi, masih kerap ditemukan pemilik kendaraan, terutama mobil yang parkir sembarangan di bahu jalan sebelah barat.

Padahal, pihak Dishub Banyuwangi telah memasang rambu larangan parkir di bahu jalan sebelah kiri di sepanjang Jalan Ahmad Yani Banyuwangi. Mobil hanya boleh parkir kendaraan di bahu sebelah kanan jalan. Hal itu dilakukan agar tidak terjadi kemacetan di ruas jalan protokol tersebut.  

Hemat penulis, pemasangan Voice Announcer merupakan salah satu langkah konkret pengembangan sistem transportasi pintar di Banyuwangi. Alat tersebut menjadi salah satu komponen Area Traffic Control System (ATCS).

Berdasar data yang dihimpun penulis melalui laman milik ATMC Dinas Perhubungan.  Saat ini di Banyuwangi, baru terdapat 14 kamera closed circuit television (CCTV) yang terpasang di persimpangan jalan yang selama ini dinilai sering bermasalah dengan kepadatan arus lalu lintas.

Dengan adanya ATCS itu, kini pengaturan lalu lintas di 14 simpang jalan tersebut ketika terjadi kemacetan dan antrean panjang kendaraan bisa langsung diatasi dengan cepat. Salah satunya yakni, operator dapat langsung mengatur waktu siklus persimpangan di traffic light dari Posko ATCS yang berada di Dinas Perhubungan.

Ke depan diharapkan, pemasangan VA tersebut, harapannya jika ada pengendara yang hendak parkir di bahu jalan sebelah barat, maka akan langsung ditegur oleh petugas operator ATCS di Kantor Dishub Banyuwangi.  (*)

*) Warga Afdeling Kalitajem, Glenmore, Banyuwangi

(bw/mls/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia