Selasa, 20 Nov 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Travelling

Wisata di Air Terjun Istana Goa Gombengsari Itu Mulai Menggeliat

Minggu, 28 Jan 2018 19:54 | editor : Ali Sodiqin

MASIH ALAMI: Air terjun Istana Goa di Lingkungan Suko, Kelurahan Gombengsari, Kalipuro.

MASIH ALAMI: Air terjun Istana Goa di Lingkungan Suko, Kelurahan Gombengsari, Kalipuro. (Fredy Rizki/Radar Banyuwangi)

Geliat wisata alam di Banyuwangi tampaknya semakin luas, banyak wisata yang sebelumnya berasal dari lokasi yang tidak terjamah dipoles menjadi wisata menarik. Seperti air terjun Istana Goa yang ada di Lingkungan Suko, Kelurahan Gombengsari, Kalipuro. Setelah bertahun-tahun menjadi tempat tak terawat, kini warga berusaha menyulapnya menjadi salah satu wisata alam pendukung Kawah Ijen

Nama Air terjun Istana Goa yang berada di di Lingkungan Suko Kelurahan Gombengsari memang belum begitu terkenal di Banyuwangi. Masih kalah dengan wisata pohon pinus yang berada di ujung barat Lingkungan suko. Tetapi siapa sangka jika air terjun yang diapit area persawahan dan tanaman kopi itu cukup ramai dikunjungi warga sekitar.

Bahkan, menurut keterangan warga sekitar, beberapa wisatawan asing pun pernah singgah di air terjun itu. Muhamad Sulam,51, pengelola tempat wisata itu mengatakan jika air terjun itu baru mulai digarap Bulan Mei lalu. Sebelumnya, tidak ada warga yang mau melirik lokasi itu. Apalagi dua orang pemilik lahan yang ada di kanan kiri air terjun itu juga tak mau jika ada orang yang mengutak atik kawasan itu.

Sampai akhirnya, Sulam memiliki ide untuk menggarap air terjun tersebut. kebetulan Sulam juga menjadi penyewa lahan milik Marhadi yang berada di sisi utara air terjun. “Awalnya dua orang itu ya tidak ada yang mau mengelola. Jadi saya sewa sebagian lahanya, terus saya ijin untuk mengelola, baru mereka mau,” ujarnya.

Sulam pun kemudian mengajak beberapa pemuda dan masyarakat untuk membersihkan area air terjun. Tak jarang, jika ada bagian yang sulit, bapak dua anak itu merogoh kocek pribadinya untuk membayar orang agar lokasi tersebut segera bisa dibersihkan. Secara perlahan, dia bersama warga kemudian membangun jalan dari batang bambu yang menurun ke arah air terjun.

Setelah itu dibuatlah beberapa gazebo dan balai-balai untuk tempat duduk-duduk pengunjung. Dia juga menata air-air disekitar air terjun agar terlihat lebih rapi dengan membuatkan pancuran-pancuran kecil. “Kalau sama warga dan pemuda di sini, kita kerjanya tiap akhir pekan. Tapi kalau ada yang penting ya saya bayar orang. sampai hari ini pun kita masih terus bekerja, karena memang tidak bisa cepat,” imbuhnya.

Untuk penataan lokasi itu, Sulam mengaku sering berdiskusi dengan putranya Khofi Al utfi yang saat ini tengah menempuh pendidikan Kepariwisataan di Universitas Jember. Termasuk perlengkapan apa saja yang ada di sana. “Saya sempat mau menyerah awalnya, tapi anak saya terus mendukung. Katanya dari tempat ini warga sekitar nanti bisa mendapat untung juga, jadi saya kerjakan terus,” kata pria yang berprofesi sebagai petani itu.

Dengan usaha yang terus dilakukannya bersama warga, akhirnya Air terjun Istana Goa pun menjadi lebih layak. Selain tak lagi kotor dengan sampah dedaunan, lokasinya juga menjadi lebih indah dengan hiasan seperti bunga dan bambu-bambu yang ditata sebagai ornamen pelengkap. “Ini kalau hari Minggu ramai sekali. Waktu itu juga pernah ada wisatawan asing dari Korea ke sini. Kalau kita terus terang masih mengambil limpahan pengunjung dari wisatapinus di atas sana. Tapi ya Alhamdulillah pelan-pelan ramai,” ungkapnya.

Saat ditanya tentang nama Istana Goa untuk tempat wisata itu, Sulam mengaku nama itu berkaitan dengan adanya Goa di belakang air terjun. Sedangkan nama Istana itu menurutnya merujuk kepada tempat. Jadi air terjun itu adalah tempat yang ada goanya. Begitu gambaran yang dimaksudnya. “Dulu goa yang berada di belakang air terjun ini sering digunakan bertapa. Bahkan mitosnya air yang ada di sini sering digunakan mengobati sakit. Menurut kepercayaan warga, goa ini menyambung ke Goa lawa di atas gunung dan goa yang ada di watu dodol,” jelasnya.

Sulam pun berharap ke depan tempat wisatanya akan semakin ramai dikunjungi orang. untuk mendukung itu, Sulam juga sering berdiskusi dengan banyak orang. termasuk bergabung dengan Ijen Tourism Cluster untuk mendukung 15 desa yang menopang Kawah Ijen dalam bidang pariwisata. Dia juga berencana membangun homestay-homestay di sekitar air terjun yang terbuat dari bambu agar tempat wisata yang dikelolanya semakin ramai.

Sementara ini sulam juga hanya menarik ongkos parkir bagi pengunjung di tempatnya. “Ini kita sedang bangun homestay, pelan-pelan. Beberapa orang sempat memberi saya saran untuk menarik biaya masuk. Katanya bisa buat pengembangan, tapi menurut saya ini masih belum selesai tuntas. Masa saya menarik uang, tidak pas rasanya,” tegasnya.

Salah satu warga yang tinggal di dekat air terjun, Davit menambahkan jika warga sekitar cukup senang dengan dimanfaatkannya air terjun itu sebagai tempat wisata. Selain menambah tempat rekreasi, hal itu menurutnya membuka wawasan orang luar untuk berkunjung ke tempat tinggalnya. “Waktu itu juga sempat ada orang dari Banyuwangi kota, dia kena batuk yang tidak sembuh-sembuh, setelah minum air di sini dia sembuh. Jadi dia kesini lagi mengajak teman-temannya. Jadi selain mulai dikenal sebagai tempat wisata, mata air di sini juga dipercaya bisa menyembuhkan penyakit. Mungkin bisa menjadi daya tarik,” ujar pria tersebut.

(bw/fre/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia