Rabu, 19 Dec 2018
radarbanyuwangi
icon-featured
Catatan Pinggir

Minak Jinggo Nyasar?

Oleh: Ali Sodiqin

22 Januari 2018, 18: 50: 21 WIB | editor : Ali Sodiqin

Minak Jinggo Nyasar?

Prabu Minak Jinggo adalah Raja Blambangan. Sebuah kerajaan yang ada di Kabupaten Banyuwangi tempo doeloe. Gambar kepala Minak Jinggo dijadikan lambang kebanggaan suporter Larosmania (Laros= Lare Osing). Ini wajar. Karena memang Minak Jinggo merupakan leluhur warga Bumi Blambangan.

Yang unik terjadi di Kota Probolinggo. Nama Minak Jinggo justru diabadikan menjadi julukan klub sepak bola Persipro. Untuk tim, dijuluki Laskar Minak Jinggo atau biasa disingkat dengan The Lasminggo. Sementara untuk kalangan suporter, memakai julukan Jinggomania.

Dalam setiap pertemuan Persewangi v Persipro, selalu saja ada orang yang bertanya, kenapa julukan Persipro kok Minak Jinggo? Bukankah Minak Jinggo itu Raja Banyuwangi? Pertanyaan ini kerap saya dengar di Stadion Diponegoro kala Laskar Blambangan bersua Laskar Minak Jinggo.

Jika Anda kerap keluyuran di dunia maya, sesekali coba buka www.ligaindonesia.com. Klik forum. Kemudian pilih menu Jinggomania atau Laros Jenggirat. Menarik sekali jika kita mencermati diskusi para netter. Jinggomania sendiri bahkan kurang yakin dengan julukan The Lasminggo yang nyata-nyata bukan pahlawan mereka. Apakah Minak Jinggo pernah nyasar ke Kota Pelem (Mangga)? Sedikit kami tulis percakapan para netter:

Laros: ‘’Setahu saya, Minak Jinggo itu Raja Kerajaan Blambangan yang berada di Banyuwangi. Yang bikin saya heran, kenapa Minak Jinggo bisa nyasar sampai di Probolinggo. Bisa diceritakan kronologisnya?’’

Singo Edan-londoner: ’’Minakjinggo kesengsem sama cewek-cewek yang kerja di Pabrik Kertas Leces.’’

NJmaNia: ‘’Thread apa ini ~_~ ora mudeng?’’

Ninja_Rantaro: ‘’Thread tentang silsilah Minak Jinggo, Mas.’’

Markaban: ‘’Opo mungkin pas Minak Jinggo bisnis kulak pelem nang Probolinggo, terus lali gak moleh nang Blambangan?’’

Laros: ‘’Iso ae sampeyan mas. Sing pasti podo Minak Jinggone. Podo dulure.’’

Aris_ms_jamrud: ‘’Yg pasti seorang raja seperti Minak Jinggo gak mungkin nyasar. Kemungkinan terbesar seorang raja sampe turun tangan langsung seperti itu adalah mengejar buronan paling dicari. He he he.’’

Meski rata-rata ditulis kurang serius, namun sekelumit dialog di atas membuktikan pemberian sebutan Laskar Minak Jinggo untuk Persipro memang kurang tepat. Bagaimana tidak, seorang raja di tempat lain, yang bahkan oleh daerah asalnya tidak dipakai, justru diabadikan sebagai nama kebanggaan tim sepak bola kota tersebut.

Ada banyak versi tentang sejarah Minak Jinggo. Sebagian besar warga Bumi Blambangan mengidolakan Minak Jinggo sebagai tokoh protagonis. Sebagian ahli sejarah justru menganggap Minak Jinggo sebagai tokoh antagonis yang memang layak dibunuh.

Salah satu versi menyebutkan, pada masa pemerintahan Majapahit yang dipegang oleh Ratu Ayu Kencana Wungu, terjadi pemberontakan yang dilakukan Minak Jinggo. Jinggo mengacau lewat Banyuwangi. Yang merupakan pintu laut Jawa bagian timur. Sebagian besar pasukan Jinggo tidak diketahui telah masuk dari semarang. Pokok persoalan pemberontakan tersebut adalah karena Minak Jinggo ingin memperistrikan Ratu Ayu Kencana Wungu. Tetapi ditolak karena wajah Minak Jinggo jelek seperti raksasa.

Hampir saja Minak Jinggo memperoleh kemenangan karena dia sangat sakti. Sebab memiliki senjata yang disebut gada wesi kuning. Akhirnya Ratu Kencana Wungu membuka sayembara barangsiapa yang dapat mengalahkan Minak Jinggo akan memperoleh hadiah luar biasa.

Tersebutlah seorang ksatria putra seorang pendeta bernama Raden Damarwulan (riwayat lain menyebut nama Sirojan Munira atau Maulana Iskak) yang memasuki arena sayembara. Dalam peperangan dengan Minak Jinggo hampir saja Damarwulan dapat tersingkir. Akan tetapi atas bantuan dua orang selir Minak Jinggo yang bernama Dewi Waita dan Dewi Puyengan, akhirnya Minak Jinggo dapat dikalahkan.

Selanjutnya Dewi Waita dan Dewi Puyengan menjadi istri Damarwulan. Sebagai imbalan atas kemenangan itu maka Damarwulan akhirnya menjadi suami Ratu Ayu Kencana Wungu (mempunyai putra yang dinamai Raden Paku/Sayid Ainul Yaqin yang kelak menjadi raja Demak) dan bersama-sama memerintah di Majapahit (Blambangan). Cerita versi ini amat popular di kalangan masyarakat Jawa Tengah.

Versi masyarakat Banyuwangi sendiri, karakter Minak Jinggo digambarkan sangat berlawanan dengan apa yang diyakini masyarakat Jawa pada umumnya. Digambarkan orang Jawa, Minak Jinggo merupakan sosok yang bertemperamen buruk, kejam, dan sewenang-wenang. Disamping buruk rupa, pincang, suka makan daun sirih, dan ngotot ingin menikahi Sri Ratu Kencana Wungu.

Menurut pandangan orang Banyuwangi, Minak Jinggo digambarkan sebagai sosok yang rupawan, digandrungi banyak wanita, arif, bijaksana dan pengayom rakyatnya. Mengapa Minak Jinggo sampai memberontak?

Menurut para sesepuh Banyuwangi, itu lebih dikarenakan dia menagih janji Kencana Wungu untuk menjadikannya suami, setelah mampu mengalahkan Kebo Marcuet dan dimenangkan oleh Minak Jinggo. Wajah Minak Jinggo menjadi rusak karena terluka pada saat bertarung dengan Kebo Marcuet. Dan demi melihat wajah Minak Jinggo yang rusak, maka Kencana Wungu menolak. Akhirnya Minak Jinggo memberontak.

Pandangan inilah yang berupaya diluruskan. Mengingat citra Minak Jinggo yang buruk dalam catatan legenda Damarwulan. Keabsahan Damarwulan dengan legenda-legendanya pun masih simpang siur. Dan data masih kurang lengkap.

Versi lain, di bawah pemerintahan Minak Jinggo, waktu itu Kerajaan Blambangan sedang makmur. Tanda bekas luka yang ada di wajah Minak Jinggo justru menyebabkan banyak wanita cantik jatuh cinta. Karena luka itu dipandang sebagai simbol keperkasaan seorang pria. Pada saat itu Blambangan amat makmur. Karena pengaruhnya yang besar pula, hingga membuat Pemerintahan Pusat Majapahit ketakutan akan kemungkinan Minak Jinggo memberontak. Apalagi konon pasukan Blambangan sangat kuat saat itu. Dalam lakon pewayangan, Damarwulan digambarkan menyelinap ketika hendak membunuh Minak Jinggo. Bukti bahwa dia seorang pengecut. Jika dia seorang kesatria, maka Damarwulan akan terang-terangan menyerang Blambangan.

Bahkan, mungkin karena saking mengidolakannya kepada Minak Jinggo, ada ungkapan lucu yang keluar dari mulut salah satu anggota DPRD Banyuwangi. Menurutnya, ajaran kamasutra tidak sehebat ajaran leluhurnya, Minak Jinggo. Dia mengartikan Minak Jinggo sebagai Miring enak, njengking Monggo.... Nah.

Yang pasti, dari sekian versi legenda tentang Minak Jinggo, tak satu pun menyebutkan bahwa Minak Jinggo pernah hidup dalam waktu yang lama di Kota Probolinggo. Mungkin karena saya kurang tekun mencari, yang jelas cerita-cerita tentang kepahlawanan Minak Jinggo di Probolinggo juga tidak pernah saya temui.

Lantas, dari mana Laskar Minak Jingo sampai jadi julukan kebanggaan tim sepak bola Persipro?

(bw/*/als/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia