Jumat, 19 Oct 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Refleksi

Umbul-Umbul Blambangan

Oleh: Andang Subaharianto

Jumat, 19 Jan 2018 13:50 | editor : Ali Sodiqin

Umbul-Umbul Blambangan

”Ngadega jejeg, ngadega jejeg
Umbul-umbul Belambangan
Ngadega jejeg adil makmur
Nusantara”

Catatan yang dibuka dengan potongan syair Umbul-Umbul Blambangan ini saya abdikan untuk mengenang tujuh hari wafatnya sang pencipta, Andang Chatib Yusuf, yang populer disapa Mbah Andang. Nama depannya kebetulan sama dengan nama saya. Kata andang di Kamus Besar Bahasa Indonesia diberi arti ’obor yang dibuat dari daun nyiur yang kering; suluh’. Dulu, sebelum ada alat penerang bertenaga listrik, masyarakat biasa menggunakan obor untuk menembus kegelapan malam. Dan Mbah Andang memang terlahir untuk menjadi obor. Lewat aktivitasnya sebagai guru, dan pula lewat karya-karya seninya.

Dilahirkan pada tahun 1934, wafat pada tahun 2018, Mbah Andang tergolong orang yang beruntung. Lengkap dalam kacamata sejarah. Mengalami empat zaman, yang masing-masing punya kekhasan. Masa anak-anak menghirup udara zaman kolonial akhir, zaman ketika pergerakan nasional hampir mencapai puncak (kemerdekaan). Masa remaja dididik zaman revolusi, zaman pergolakan pada awal-awal Indonesia merdeka. Masa dewasa ditempa zaman pembangunan, zaman tatkala proyek modernisasi rezim Orde Baru dimulai dan dijalankan dengan pendekatan ”keamanan-ketertiban”. Masa tua dimatangkan zaman reformasi, zaman yang semula merupakan antitesis Orde Baru tapi kemudian justru liberalisasi politik dan ekonomi berlangsung intensif. 

Zaman-zaman itu tentu mewarnai proses kreatif Mbah Andang. Konon, seniman yang juga guru itu sudah aktif berkesenian dan menulis sastra sejak usia remaja. Tidak hanya puisi, tapi juga drama. Tidak hanya berbahasa Indonesia, tapi juga berbahasa Oseng, bahasa khas masyarakat Banyuwangi. Dan ketika saya bertanya kepada sejumlah orang Banyuwangi tentang Mbah Andang sesaat setelah tutup usia, jawabannya pada umumnya menunjuk lagu Umbul-Umbul Blambangan.

Orang Banyuwangi hari ini memang tidak asing dengan Umbul-Umbul Blambangan. Syair yang ditulis Mbah Andang ini memang sangat populer di Banyuwangi semenjak Bupati Samsul Hadi. Bak lagu kebangsaan. Bahkan telah pula menjadi ”lagu wajib” setiap wisuda sarjana di Untag Banyuwangi.

Dalam benak masyarakat Banyuwangi Umbul-Umbul Blambangan membangkitkan semangat. Tampaknya Bupati Samsul Hadi melihat aspek heroisme syair karya Mbah Andang itu. Masyarakat perlu disemangati. Tentu dalam perspektif sang bupati, yang berkuasa pada masa transisi ke zaman reformasi. Maka Umbul-Umbul Blambangan diangkat dan dipopulerkan agar diakrabi masyarakat. Sebuah cara cerdas. Cocok dengan habitus Banyuwangi. Dan Bupati Anas pun kini turut menuai hasilnya. Banyuwangi jenggirat tangi. Dalam banyak hal terbukti menyalip tetangganya, Jember.

Tapi saya membaca bahwa yang dipikirkan Mbah Andang bukan sekadar heroisme tanpa dimensi. Umbul-Umbul Blambangan sarat politik identitas. Ditulis pada tahun 1974, saat rezim Orde Baru gencar-gencarnya menata sistem politik untuk proyek modernisasinya seraya menghabisi lawan-lawan politik yang tersisa yakni golongan kiri (Partai Komunis Indonesia, PKI) pasca prahara 1965. Tentu rezim punya catatan khusus tentang Banyuwangi. Blok kiri di Banyuwangi tidak bisa diremehkan. Di Banyuwangi, PKI menempati posisi terdepan pada Pemilu 1955. Lalu ada lagu Genjer-Genjer yang dikenal luas sebagai lagunya PKI, yang diciptakan oleh Mohammad Arif. Seniman generasi Mbah Andang tentu sangat paham kepiawaian Mohammad Arif sebagai seniman. Ada pula Njoto, nama beken dan elite PKI yang pernah pula membesarkan PKI Banyuwangi.

Melalui Umbul-Umbul Blambangan, Mbah Andang mengajak untuk menyelamatkan dan memulihkan Banyuwangi dari dampak prahara 1965. Banyuwangi, tanah Jawa di ujung timur yang indah, yang tak pernah membosankan, kata Mbah Andang: tanah Jawa pucuk wetan//sing arep bosen//sing arep bosen. Mbah Andang mengingatkan bahwa prahara senantiasa menguji Banyuwangi sejak pra-kolonial hingga zaman republik.

Maka Banyuwangi membutuhkan revitalisasi identitas dalam konteks Indonesia yang sedang menggelar proyek modernisasi pasca prahara 1965. Simaklah: Belambangan he seneng susahe wistah aja takon//Wis pirang-pirang jaman turun-temurun yong wis kelakon//Akeh prahara taping langitira magih biru yara//Magih gedhe magih lampeg umbak umbul segaranira.

Mbah Andang berusaha mencari sumber revitalisasi identitas. Dihadirkanlah tokoh historis mulai dari pra-kolonial, kolonial, hingga pascakolonial: Menakjingga, Tawang Alun, Agung Wilis, Sayuwiwit, dan pahlawan kemerdekaan RI. Bahkan tokoh mitologis: Sritanjung. Buat Mbah Andang tampaknya tidak penting apakah sumber itu history atau story; apakah kontinuitas atau diskontinuitas. Saya lalu teringat pelajaran sejarah di bangku sekolah dulu. Kejayaan Majapahit dan Sriwijaya dihadirkan untuk mengonstruksi identitas Indonesia. Meskipun kejayaan dua kerajaan itu miskin jejak di bumi Nusantara.  

Umbul-Umbul Blambangan menawarkan identitas Banyuwangi. Pantang menyerah, bersatu atau rukun, dan gotong royong, untuk keadilan dan kemakmuran. Banyuwangi bagian dari Indonesia yang pada waktu itu sedang memulai proyek modernisasi ala rezim Orde Baru: Suwarane gendhing Belambangan//Nyerambahi nusantara. Mbah Andang sengaja menggunakan nama Blambangan – bukan Banyuwangi – saya kira untuk menegaskan konsep lokalitas dalam perubahan sosial. Sama pula dengan nama Nusantara dalam Umbul-Umbul Blambangan, bukan nama Indonesia.

Saya membaca bahwa konsep lokalitas ini serius bagi Mbah Andang. Di karya lain yang lebih awal, Luk-Luk Lumbu, Mbah Andang juga mengingatkan secara metaforik. Perubahan zaman yang digerakkan modernisasi, yang dimetaforkan dengan angin, tentu membawa bermacam nilai, orientasi, impian. Singkat kata membawa ”ideologi”: Gondo arume, kembang maniko rupo. Mbah Andang lewat Luk-Luk Lumbu mengingatkan masyarakat Banyuwangi untuk tidak mudah terbawa arus baru yang belum tentu memberikan kebaikan: Eluk lumbu, dieluk lumbu//Ojo gampang katut, lan ojo gampang kepilu.

Lokalitas penting. Indonesia yang sedang memulai proyek modernisasi arahan Orde Baru, tanpa kecuali Banyuwangi, seyogianya tidak menggusur aspek lokalitasnya. Yang lokal, yang tradisional, harus hidup dan bermakna dalam cakupan yang nasional, yang modern. Kata Mbah Andang: He...Belambangan//Gemelar ring taman sari nusantara. Lalu di akhir syair: Ngadega jejeg adil lan makmur//Nusantara... Keadilan dan kemakmuran pun harus berdimensi lokalitas.

Lagu Umbul-Umbul Blambangan memang sudah sehari-hari bagi masyarakat Banyuwangi. Semoga bertuah. Meski tak lagi disaksikan penciptanya. Saya pun mohon izin untuk terus membahanakan Umbul-Umbul Blambangan di setiap wisuda sarjana Untag Banyuwangi.

*Rektor Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia