Kamis, 13 Dec 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Ekonomi Bisnis

Harga Jagung Naik, Petani Malah Ngaplo

03 Januari 2018, 06: 10: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

MULAI MAHAL: Pekerja menggiling jagung bonggol dan mengemas ke karung plastik.

MULAI MAHAL: Pekerja menggiling jagung bonggol dan mengemas ke karung plastik. (Bagus Rio/JPRG)

SRONO -  Harga jagung pipil kering kini mengalami kenaikan yang cukup lumayan. Bila sebelumnya hanya Rp 5.800 per kilogram, kini naik menjadi Rp 6.200 per kilogram. Sayangnya, kenaikan harga ini tidak bisa dinikmati oleh petani, sebab sudah tidak ada yang panen.

Salah seorang petani jagung, Hariyanto, 45, warga Desa Parijatah Wetan, Kecamatan Srono, mengatakan, naiknya harga jagung pipil kering itu tidak berdampak terhadap kesejahteraan petani. “Harga jagung naik saat musim panen sudahy lewat,” katanya.

Saat petani panen, terang dia, harga jagung yang banyak dijual dengan bonggol itu hanya Rp 3.000 per kilogram. Untuk menjual jagung dengan pipil kering, petani harus mengeluarkan biaya penggilingan yang cukup besar. “ Petani tidak ada yang menikmati hasil, hanya pengepul saja yang hasil,” ujarnya

Sementara itu, Aropik, 35, salah seorang pengepul jagung asal Dusun Krajan Kulon, Desa Wonosobo, Kecamatan Srono, mengatakan harga jual jagung kering pipil saat ini naik dibanding dua bulan lalu. Kenaikan itu dipengaruhi cuaca, dan jumlah panenan dari petani. “Saat ini jagung susah didapat di Banyuwangi, saya mendatangkan dari Situbondo dan Probolinggo,” ungkapnya.

Dalam sehari, terang dia, dengan satu mesin bisa memproduksi 15 ton jagung kering pipil. Dengan menggunakan dua mesin bisa memproduksi 30 ton jagung pipil kering per hari. “Rata-rata sebulan bisa kirim luar daerah hingga 800 ton,” ungkapnya.

Untuk jagung pipil kering yang dikirim itu kadar air (KA) sekitar 18 persen hingga 19 persen. Untuk bisa mendeteksi jagung pipil yang kering itu tidak sulit, cukup digengam dan ditimang dengan tangan. “Bunyi benturan antar jagung sudah bisa dideteksi tingkat kadar air atau keringnya,” ungkapnya.

Jagung pipil kering yang telah dikemas dalam karung plastic, jelas dia, dikirim ke berbagai daerah, seperti Bali, Jakarta, dan Jawa Barat. Selain untuk kebutuhan pakan ternak, jagung pipil kering juga ada yang dikirim ke pabrik untuk bahan baku industri kue kering, snack, dan makanan olahan lainnya. “Untuk pakan ternak biasanya dikirim ke Bali, tapi kalau ke Jakarta untuk makanan,” ungkapnya.

(bw/rio/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia