Kamis, 15 Nov 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Lifestyle

Pedagang Terompet Tahun Baru Sepi Pembeli

Minggu, 31 Dec 2017 20:20 | editor : Ali Sodiqin

SEPI PEMBELI : Pedagang terompet tampak menunggu pembeli di Pasar Banyuwangi.

SEPI PEMBELI : Pedagang terompet tampak menunggu pembeli di Pasar Banyuwangi. (Izzul Muttaqin/JPRB)

BANYUWANGI – Menjelang pergantian tahun, pedagang terompet masih sepi pembeli. Sejumlah pedagang mengaku belum ada lonjakan pembelian terompet untuk merayakan pergantian tahun 2017 ke 2018 besok malam.

Informasi yang berhasil dikumpulkan wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi, sebagian besar penjual terompet tersebut datang dari berbagai daerah di tanah air. Salah seorang pedagang, Joko Paimo asal Solo mengaku sudah menjual terompet sejak seminggu yang lalu di Banyuwangi.

Joko memilih Banyuwangi sebagai tempat berjualan karena mendapat informasi kalau masyarakat Banyuwangi cukup antusias menghadapi perayaan pergantian tahun. Tapi informasi yang diperoleh itu tidak benar 100 persen. ”Sampai hari ini masih sepi pembeli. Dari tadi pagi saja yang laku cuma dua terompet,” tutur Joko.

Sebelum berangkat ke Banyuwangi, Joko cukup optimistis akan mendapat hasil banyak dari penjualan terompet. Tapi apa yang ada dalam pikirannya, belum sesuai dengan kenyataan. ”Mudah-mudahan jelang tahun baru, ada peningkatan penjualan," harap Joko

Hal senada juga disampaikan Maskina, penjual terompet lainnya.  Menurut bapak satu anak tersebut, seminggu terakhir terompet miliknya yang laku hanya delapan buah terompet. ”Beda dengan tahun sebelumnya, menjelang tahun baru kali ini sepi pembeli. Minat masyarakat terhadap terompet mungkin saja sudah berkurang,” ujar pria 35 tahun tersebut.

Menurut Maskina, keuntungan berjualan terompet hanya 20 persen dari modal yang dikeluarkan. ”Saya menjual berbagai macam terompet, dari harga jual Rp 5.000 dengan keuntungan Rp 1.000,” ungkap pria kelahiran Sumenep.

Sementara pedagang lainnya, Andre mengatakan bahwa biasanya terompet akan banyak laku jika sudah mendekati puncak tahun baru. ”Biasanya terompet terjual keras sejak H-1 hingga mendekati puncak perayaan tahun baru itu,” ungkap Andre.

Andre juga menyampaikan bahwa hujan dan banyaknya penjual terompet pada tahun ini menjadi penyebab dari sedikitnya barang dagangannya yang laku. ”Di jalan ini saja (Jalan Satsuit Tubun, Red) ada sekitar sepuluh penjual terompet. Kalau saya sendiri sebenarnya hanya penjual kembang api, terompet ini titipan,” ungkapnya. (cw1)

(bw/rri/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia