Kamis, 15 Nov 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Opini Sabtu
Opini Sabtu

Saya Perempuan Anti Korupsi

Oleh: Syafa’at, SH, MHI

Sabtu, 18 Nov 2017 19:11 | editor : Ali Sodiqin

Saya Perempuan Anti Korupsi

Saat saya bertemu dengan beberapa rekan perempuan yang kebetulan sebagai wanita karier, sambil bergurau dia mengatakan bahwa dibalik sukses seorang laki laki, ada perempuan hebat di belakangnya, dan dibalik sukses seorang perempuan ada laki laki yang menjadi korbannya. Saya sebelumnya tidak menanggapi dengan pernyataan tersebut, toh tidak semua laki laki yang mempunyai istri karier menjadi korban dari karier isterinya. Begitu juga dengan sebaliknya, bahwa dibalik laki laki yang berperilaku korup, ada perempuan yang ( mungkin ) menyulutnya. Dalam unen unen orang jawa tentang seorang istri adalah Swargo nunut neroko katut. Hal ini berkaitan dengan hubungan sosial suami istri yang tidak dapat dipisahkan. Seorang istri dari Kepala Desa biasa dipanggil dengan sebutan Bu Kades, meski yang menjadi Kepala Desa adalah suaminya, dan secara otomatis juga menjadi Ketua Dharma wanita pada institusinya. Namun hal ini tidak berlaku sebaliknya, dimana jika seorang perempuan menjabat sebagai Kepala Desa, masyarakat tidak memenggil Pak Lurah dari suami kepala desa tersebut. Begitu juga dengan jika seorang suami menjadi seorang koruptor, dengan sendirinya akan menyeret nama istri dan mungkin anak dan keluarganya.

Sepintas seperti sebuah gerakan yang tak berarti dari aktifitas dari Konunitas Ibu ibu yang tergabung salam Saya Perempuan Anti korupsi ( SPAK ) dengan mengingat yang paling banyak berpeluang melakukan tindakan korupsi adalah kaum laki laki yang lebih banyak menjabat di pemerintahan dan aktifitas lainnya yang berpeluang melakukan tindakan korupsi. Namun setelah melihat eksyen yang dilakukan dan tujuan dari gerakan tersebut, telah membuat orang yang tadinya berpikiran negatif terhadap gerakan ini harus angkat topi. Terlebih dengan gerakan gerakan antisipasi terhadap korupsi sejak dini.

Perempuan yang ditakdirkan menjadi seorang ibu yang merupakan tempat menimba Ilmu yang utama dari seorang manusia sangat menentukan sikap dan perbuatan anak manusia saat mereka beranjak dewasa, kejujuran seseorang yang dimulai dari lingkungan dimana dia bertempat tinggal sangat erat dengan sosok seorang perempuan sebagai ibu dari anak anaknya. Kesalahan dalam pendidikan awal dalam rumah tangga akan berakibat buruk terhadap perkembangan anak pada masa dia dewasa.

Perempuan sebagai seorang istri pendamping suami meskipun hanya sebagai Ibu rumah tangga, juga berpeluang untuk menjadi penyulut korupsi dari suaminya. Tuntutan yang berlenbihan yang dilakukan terhadap suami dari pola hidup istri yang hedonis kadang juga mengakibatkan seorang laki laki melakukan tindakan yang melanggar aturan hanya untuk memenuhi tuntutan kebutuhan istrinya, meskipun tidak secara langsung seorang istri menginginkan suaminya melakukan tindakan korupsi atau tindakan curang lainnya yang dilarang. Sehingga mungkin tidak terlalu salah jika ada adagium yang berbunyi “ dibalik suami koruptor ada perempuan yang lebih hebat yang mendukungnya”.

Gerakan Saya Perempuan Anti Korupsi ( SPAK ) ini dilahirkan atas sebuah keprihatinan. Keprihatinan yang disampaikan oleh sebuah survey yang dilakukan KPK pada tahun 2012 – 2013 di kota Solo dan Jogjakarta. Studi ini menyajikan fakta bahwa ternyata hanya 4% orang tua yang mengajarkan kejujuran pada anak-anaknya. Salah satu kegiatan dari kelompok Saya Perempuan Anti Korupsi ( SPAK ) yang dilakukan oleh Dharma Wanita Persatuan Kementerian Agama yang melakukan pembekalan anti korupsi pada pasangan calon penganten merupakan salah satu langkah konkrit dari upaya penanaman pencegakan tindakan antikorupsi sejak dini. Pendidikan kejujuran dari calon pasangan muda ini bukan hanya berdampak  pada tindakan kejujuran dalam melaksanakan kegiatan ekonomi, namun juga kejujuran dalam melakukan tindakan yang berkaitan dengan moral dan susila sebelum pelaksanaan perkawinan.

Godaan pasangan muda sebelum pelaksanaan perkawinan bukan hanya keinginan dan hasrat untuk melakukan hubungan suami sitri sebelum pelaksanaan perkawinan, namun juga keinginan untuk mencukupi kebutuhan ekonomi pasca perkawinan yang membutuhkan keuletan, ketlatenan dan kejujuran dari pasangan tersebut. Hal ini sangat berkaitan dengan kondisi pasangan muda pada umumnya yang sebagian besar dalam kondisi ekonomi yang belum mapan. Dalam hal ini pengaruh dari istri yang juga masih baru dalam mengarungi rumah tangga sangat menentukan terhadap sikap dan perilaku suami yang ingin menuruti keinginan istri dan kebutuhan rumah tangganya.

Penyebaran pengetahuan antikorupsi melalui Pembinaan Pranikah ini sangat efektif dengan mengingat keluarga sebagai tempat utama dalam pendidikan karakter seseorang. Pendidikan yang salah dalam keluarga dapat melahirkan koruptor koruptor baru, yang kelahirannya (mungkin) tidak disadarinya. Pembekalan bagi pasangan muda yang selama ini hanya terpusat dalam terciptanya keluarga sakinah memang perlu penjabaran lebih lanjut pada pendidikan Keluarga Berencana dan pendidikan anti korupsi yang bermuara pada tatacara pola pendidikan kejujuran terhadap anak dan perilaku istri sebagai pendorong utama suami dalam melakukan kewajiban memberi nafkah keluarganya.

Gerakan perubahan antikorupsi yang dilakukan Kaum perempuan dengan melakukan nilai nilai penanaman moran antikorupsi ini sangat efentik untuk memberantas korupsi di Indonesia yang hasilnya akan lebih nyata pada masa yang akan datang. Gerakan dengan moto dimulai sekarang dari diri kita adalah gerakan nyata yang perlu dukungan. Gerakan yang dilakuak SAPK bukan nhanya dilakukan pada calon pasangan muda, namun juga pada sekolah sekolah.

*) Penulis adalah PB Penyusun Bahan Pembinaan Keluarga Sakinah Kemenag Kab. Banyuwangi.

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia