Minggu, 21 Oct 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Features
Suka Duka Panitia Pemeriksaan & Operasi Katarak

Sedih Saat Ada Pasien Gagal Operasi karena Tekanan Darah Tinggi

Minggu, 15 Oct 2017 12:05 | editor : Ali Sodiqin

PENYULUHAN:Ratusan pasien yang telah menjalani operasi mata katarak mendapatkan pengarahan dari anggota yayasan di GOR Baluran

PENYULUHAN:Ratusan pasien yang telah menjalani operasi mata katarak mendapatkan pengarahan dari anggota yayasan di GOR Baluran (Laily Mastika/jawapos.com/radarbanyuwangi)

Pemeriksaan dan operasi mata katarak gratis yang digelar oleh Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Merangkul Rakyat Kecil (LPM Merak) bersama yayasan The John Fawcett Foundation (JFF) dan Pemerintah Kabupaten berakhir pada hari ini. Banyak cerita yang mengiringi kegiatan tersebut, baik suka maupun duka.

Laily Mastika, Situbondo

Ketua LPM Merak, Kamarul Muniri menjelaskan, kegiatan pemeriksaan kesehatan dan operasi katarak mata gratis tahun 2017 adalah yang kedua kalinya diselenggarakan. Kegiatan pertama dilakukan sekitar 10 bulan yang lalu. Tidak hanya operasi mata katarak saja, namun juga pemeriksaan kesehatan mata secara umum hingga protesa mata. “Kami juga menyediakan kaca mata gratis baik plus maupun minus bagi peserta,” paparnya.

Keberhasilannya dalam menyelenggarakan kegiatan tersebut tidak luput dari kerjasama antar tim yang solid dan hubungan dengan pemerintah maupun JFF yang terbina dengan baik. “Kami sudah bekerja sama dengan JFF sejak kegiatan sosial pertama diadakan,” beber pemilik nama panggilan Arul itu.

Arul  menyatakan, banyak pelajaran yang dapat diambil dalam kegiatan itu. Diantaranya yakni menyadarkan masyarakat untuk terus menjaga kesehatan mata mereka masing-masing. “Mata itu sangat penting. Karena, dengan mata kita bisa berinteraksi dengan orang lain dan melihat indahnya dunia,” ulasnya.

Setiap pasien yang hendak melakukan operasi mata katarak, wajib melakukan verifikasi kesehatan. Beberapa aspek yang dinilai diantaranya yakni tekanan darah, kadar gula dalam darah, umur katarak, ketebalan katarak dan lain-lain. “Jika tekanan darahnya tinggi ketika akan dioperasi, maka pasien tidak dapat dioperasi,” urainya.

Tidak sedikit pasien yang gagal operasi terlihat kecewa berat. Ditambah jarak antara rumah dengan GOR yang tidak dekat, semakin sedihlah mereka. Tak pelak, hal itu membuat Arul, panitia, maupun peserta lainnya turut bersedih. “Itu duka yang kami alami selama menjadi panitia pelakasana,” terangnya.

Berbeda halnya dengan reaksi pasien yang lolos verifikasi tim pemeriksa, beragam bentuk ungkapan syukur mereka panjatkan kepada Allah. Bahkan, ada yang langsung bersujud syukur di sana saking gembiranya bisa lolos dan melakukan operasi katarak mata secara gratis. Maklum, biaya operasi terkenal mahal. “Kami selalu tersenyum saat melihat tingkah bapak dan ibu ketika mengekspresikan rasa senangnya bisa dioperasi,” imbuhnya.

Seluruh pasien pemeriksaan maupun operasi mata katarak tidak datang sendiri ke GOR. Mereka ditemani oleh anak ataupun sanak saudara. Sehingga, GOR terasa penuh sesak dengan orang yang yang berlalu lalang mengantar pasien maupun hanya sekedar menunggu. Tidak sedikit juga orang yang memilih untuk tidur di lantai GOR Situbondo hanya untuk menunggu panggilan saudaranya. “Sedangkan warga yang rumahnya terlalu jauh dipersilahkan untuk menginap di wisma Rengganis. Gratis tidak dipungut biaya sepeserpun,” cetusnya.

Selain operasi mata katarak gratis, pihaknya juga menyediakan kacamata plus dan minus sebanyak 2000 buah. Selain itu, protesa mata untuk 20 orang. Khusus protesa mata, diutamankan anak sampai remaja antara umur 1 sampai 15 tahun. Itu dipilih karena mereka masih dalam masa pertumbuhan dan penampilan menjadi perhatian utama dalam pergaulan masa kini. “Namun, yang melakukan protesa mata rata-rata berumur 20 tahun ke atas,“ pungkasnya.  

Salah satu pasien yang telah menjalani operasi katarak asal Desa Kalirejo, Kecamatan Sumbermalang, Nijan, 56, mengaku senang dengan adanya layanan opearsi mata katarak gratis. Sebab dirinya, sudah mengalami penebalan di matanya sejak bulan Juli kemarin. “Sehingga penglihatan saya semakin lama semakin buram dan tidak jelas,” ulasnya.

Mata kananya masih mengenakan perban dan pelindung mata. Dia berencana menginap di Wisma Rengganis setelah melakukan operasi. Karena, jarak desanya yang terlalu jauh. Dibutuhkan waktu sekitar 3 jam untuk sampai sana. “Sehingga, saya ddianjurkan untuk menginap terlebih dahulu disini sampai perban mata dibuka dan benar-benar bisa melihat,” tandasnya.

Sementara itu Camat Suboh, Suprapto menyatakan, tidak semua warga desa yang dia ajak untuk melakukan operasi mata katarak lolos verifikasi. Dari 50 orang yang dia ajak bersama, hanya 35 saja yang lolos. “Sebab, sebagian besar umur katark dan tebalnya tidak terlalu parah, ada juga yang terhalang karena tekanan darahnya tinggi. Tetapi, kami mendapatkan keterangan dapat dilakukan di tahun depan dengan agenda yang sama,” jelasnya.

Perawat di Puskesmas Suboh, Sindu Prihatin menjelaskan, masyarakat desanya antusias dengan operasi mata katarak karena gratis. Yang semula tidak mau dioperasi karena kendala biaya akhirnya megusulkan dirinya sendiri untuk dioperasi. “Ya luar biasa dampaknya terhadap masyarakat,” paparnya.

Harapannya semoga tahun depan diadakan lagi kegiatan yang serupa. Kuota untuk operasi mata katarak juga diperbanyak lagi. “Tahun inikan panitia hanya menyediakan 400 layanan operasi mata katarak gratis,” tukasnya.

(bw/ily/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia