Potensi Perkebunan Belum Tergarap Maksimal
BERITA TERKAIT

BANYUWANGI – Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Jatim) Deddy Suhajadi menilai potensi pertanian, perkebunan dan maritim di Banyuwangi belum digarap secara maksimal. Pertumbuhan pembangunan pariwisata Banyuwangi dalam beberapa tahun ini belum berhasil menggarap tiga sektor tersebut.

Deddy mengatakan,  Banyuwangi memiliki potensi yang cukup besar tiga  tersebut. Namun hingga saat ini belum ada pengusaha maupun masyarakat yang secara serius menggarap potensi besar. Padahal tiga sektor itu bisa  menjadi penunjang dari berkembangnya pariwisata yang ada di Banyuwangi.

Sektor pertanian yang baru tergarap secara serius, kata Deddy, baru buah naga dan jeruk saja.. Itu pun setelah Bupati Abdullah Azwar Anas memberikan dukungan agar buah berwarna merah itu banyak ditanam. “Pariwisata ini anggap saja lokomotif ekonomi. Di belakangnya harus ada gerbong-gerbong dari sektor ekonomi lainnya. Contohnya di Wisata Bahari Lamongan dan Jatim Park. Setelah keduanya dibangun, UMKM di sana mulai ikut andil,” terang Deddy beberapa waktu lalu.

Beberapa produk pertanian dan perkebunan di Banyuwangi yang sudah terkenal salah satunya kopi Ijen. Produk ini sudah cukup dikenal di kalangan penikmat kopi. Para petani dan pengusaha kopi harus memiliki orientasi ekspor, bukan orientasi lokal. Karena pedagang lokal akan membeli dengan jumlah dan harga yang terbatas.

Selain itu, komoditas lainnya adalah pisang yang pernah merajai di Banyuwangi pada era tahun 1950. “Industri agrowisata juga bisa dikembangkan untuk menunjang pariwisata. Seperti pisang misalnya, Banyuwangi bisa menyediakan berbagai jenis pisang dalam wisata agro itu. Saya rasa cukup potensial,” ujarnya.

Untuk mendukung semuanya, dia juga berharap pemerintah bisa memberikan pendidikan singkat dan pendampingan kepada pengusaha lokal. Terutama untuk penggunaan teknologi supaya pengembangan pertanian, perkebunan dan maritim tidak dikelola secara tradisional terus. “Potensi ikan di Muncar juga jangan sampai hilang. Karena itu monumental. Selain itu batik gajah oling juga terus diangkat, diberi sentuhan teknologi. Nanti hasilnya tetap menunjang pariwisata,” sarannya (fre/afi)


BERITA LAINNYA
Tulis Komentar