Man Nahnu, Berlatih Mengujarkan ‘’Everything is Banyuwangi’’
BERITA TERKAIT

JUMAT (26/8) pekan lalu saya menghadiri acara di Hotel Santika Banyuwangi. Di aula Ijen 2, lantai 2. Saya datang karena dua alasan. Pertama judul acaranya menarik: Sosialisasi Brand Destinasi Banyuwangi. Kedua, penyelenggaranya dari Jakarta. Yakni, tim konsultan yang ditunjuk Kemenpar (Kementerian Pariwisata).

 

Setuhune, ada satu alasan tambahan yang kurang penting: saya diminta jadi salah satu narasumber. Bersama Plt Kadisbudpar Banyuwangi M. Yanuar Bramuda. Meski sedang mengalami radang tenggorokan, saya tetap bicara. Dengan suara parau tentunya. Saya dan Pak Bram sepaham. Sepikiran. Satu suara. Bahwa, brand dan logo yang dibuat tim konsultan Kemenpar perlu direvisi. Sebab, kurang mbanyuwangi. Tidak menggambarkan Banyuwangi secara utuh.

Brand yang dibuat tim konsultan Jakarta adalah majestic. Artinya megah. Bisa juga berarti keagungan. Saya sangat tidak setuju dengan brand itu. Bagi yang suka melesetkan istilah, brand itu bisa bikin tersesat. Bisa menarik kembali Banyuwangi ke belakang. Ketika brand itu disebut tidak utuh (majis) maka pikiran orang seketika akan langsung teringat kata magic. Itu bahaya. Sebab, hal-hal yang berbau magic (biasanya dibaca majis) sekarang sudah dihapus dari cakram otak orang Banyuwangi. Kini Banyuwangi sudah berada di era scientific. Pola pikir masyarakatnya sudah serba ilmiah.

Berikutnya, saya pertegas, majestic yang berarti megah atau keagungan itu menyesatkan. Bisa menjadi blunder bagi Banyuwangi. Sebab, tidak sesuai fakta. Apanya yang megah. Apanya yang agung. Lah wong Banyuwangi ini bukan buka kota besar. Banyuwangi hanyalah kabupaten yang dianugerahi keindahan alam. Bukan kota yang menjual kemegahan.

Selain itu, brand majestic itu tidak nyambung. Tidak sejalan dengan kampanye Pemkab Banyuwangi. Bupati Anas ke mana-mana jualan Banyuwangi sebagai destinasi eco-tourism dan sport-tourism. Sebab, faktanya sebagian besar wisatawan (terutama mancanegara) datang ke kabupaten berjuluk The Sunrise of Java ini memang hanya untuk menikmati keindahan kawah Ijen, ombak Plengkung, Pulau Merah, dan Sukamade. Objek wisata yang saya sebut itu sangat indah. Bukan megah! Juga tidak agung. Makanya, boleh dibilang, brand majestic itu malah ngentahi kampanye bupati dan Disbudpar. Bertabrakan dengan program yang sudah dicanangkan Pemkab Banyuwangi.

1
2
3

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar