Razialah Shoimiin agar Mereka Naik Kelas

RAMADAN mubarak. Ramadan memang penuh berkah. Terutama di sepertiga awal. Sepuluh hari pertama. Berkahnya kontan. Tidak dicicil. Pun, sekali dapat langsung segede gunung. Itu dialami Bu Saeni. Pemilik warteg di Jalan Cikepuh, Pasar Rau, Kota Serang, Banten.

Wanita 53 tahun itu tiba-tiba ngetop. Kisah pilu yang dialaminya di bulan Ramadan mengundang ribuan simpati. Bahkan, mengetuk hati Presiden Jokowi.

Ceritanya begini: Bu Eni (panggil akrab Saeni) baru selesai masak dan mulai menjajakan dagangannya. Tiba-tiba, tutur Bu Eni, petugas Satpol PP datang menggerebek warungnya. Tanpa memberi surat teguran atau peringatan, mereka langsung membungkus seluruh masakan Eni yang akan dijual. Hanya tersisa dua telur asin dan timun. Padahal, menurut pengakuan Bu Eni, saat dirazia warungnya sudah tertutup.

Allah tidak tidur. Ndilalah (bi idznillah?), peristiwa memilukan itu ada yang merekam. Videonya segera menyebar. Tersiar di media sosial. Mengetuk pintu-pintu hati masyarakat. Dalam sekejap terkumpul donasi Rp 265 juta untuk Bu Eni. Sumbangan itu dari 2.427 netizen. Ditambah bantuan Presiden Jokowi Rp 10 juta. Total Rp 275 juta. Sangat-sangat lebih untuk mengganti kerugian yang dialami Bu Eni: Rp 600 ribu!

Sebagai orang teraniaya, Bu Eni mendapat limpahan berkah Ramadan. Sebaliknya, Satpol PP Kota Serang mendapat malu tak terhitung. Dihujat masyarakat. Sekalipun berdalih menegakkan perda: menertibkan warung yang buka pada siang hari. Saya yakin Satpol PP Banyuwangi dan Situbondo tidak seberingas itu. Apalagi di bulan suci Ramadan. Mereka pasti lebih arif. Menertibkan tidak dengan cara-cara yang tidak tertib. Mereka pasti memilih cara persuasif. Mudah-mudahan.

Imbauan tidak buka atau menutup pakai satir warung di siang hari di bulan Ramadan itu baik. Tapi, mari kita renungi kembali. Tapi yang baik belum tentu perlu. Saya khawatir, imbauan semacam itu justru menjadi surga bagi orang-orang yang mokong: tidak puasa padahal mereka muslim. Mereka merasa “dilindungi”. Kenapa tidak sekalian warung dan restoran buka seperti biasa. Dengan begitu, akan ketahuan siapa yang makan di sana. Bagi yang makan pada siang hari di warung atau restoran ada dua kemungkinan: kalau bukan nonmuslim, pasti ia muslim tapi bergajul. Tidak menjalankan perintah agama. Yakni, rukun Islam yang keempat.

1
2

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar